
Peneliti China ungkap pengaruh pemanasan iklim terhadap fenologi tanaman

Foto yang diabadikan pada 27 Oktober 2020 ini menunjukkan pohon kesemek yang sedang berbuah di Desa Maquangou, wilayah Pinglu, Provinsi Shanxi, China utara. (Xinhua/Ma Yimin)
Pengaruh pemanasan iklim ditemukan dalam periode berbunga dan berbuah dari semua spesies yang menjadi semakin cepat, dan oleh karena itu, keseluruhan waktu perkembangan buah menunjukkan tren yang lebih cepat.
Jakarta (Indonesia Window) – Para peneliti China baru-baru ini mengungkapkan bagaimana pengaruh pemanasan iklim yang terjadi secara global mengubah periode perkembangan buah pada spesies tanaman berkayu yang tumbuh di iklim sedang.Pemanasan iklim telah mengubah fenologi tanaman secara signifikan. Berbeda dengan perpanjangan musim tumbuh vegetatif yang disebabkan oleh pemanasan iklim yang banyak dilaporkan, respons untuk periode perkembangan buah dari tahap berbunga hingga berbuah sebagian besar masih belum diteliti, terutama untuk tanaman berkayu.Para peneliti dari Kebun Raya China Selatan di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China menganalisis lebih dari 560.000 observasi in situ terhadap tanggal berbunga dan tanggal berbuah untuk enam spesies tanaman berkayu yang tumbuh di iklim sedang di 2.958 lokasi pengamatan fenologi Eropa dari tahun 1980 hingga 2013.Mereka menemukan bahwa waktu berbunga dan berbuah dari semua spesies menjadi semakin cepat seiring terjadinya pemanasan iklim, dan oleh karena itu, keseluruhan periode perkembangan buah menunjukkan tren yang lebih cepat, menurut makalah yang diterbitkan dalam jurnal Global Change Biology.Studi ini juga menunjukkan bahwa tingkat percepatan waktu berbunga dan berbuah tidak selalu sama untuk spesies mana pun, sehingga menghasilkan perubahan yang berbeda dalam hal durasi periode perkembangan buah di antara spesies akibat pemanasan iklim.Respons yang berbeda dari periode perkembangan buah tersebut menunjukkan bahwa tanaman mengadopsi strategi fenologi reproduksi yang berbeda untuk mengatasi pemanasan iklim. Hal ini dapat mengubah kemampuan beradaptasi spesies serta memengaruhi struktur dan fungsi ekosistem hutan.Sumber: XinhuaLaporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Energi baru hidupkan kembali area penurunan tanah penambangan batu bara
Indonesia
•
06 Jun 2024

COVID-19 – Studi: Vitamin D hentikan peradangan paru pada pasien
Indonesia
•
28 Nov 2021

NSW Australia keluarkan peringatan kesehatan terkait virus yang ditularkan nyamuk
Indonesia
•
05 Dec 2025

Perubahan iklim dorong deteksi DNA teritip invasif di Arktik Kanada
Indonesia
•
15 Sep 2025


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
