Pembongkaran bangunan di Yerusalem Timur catatkan rekor pengungsi terbanyak

Seorang pria Palestina menyaksikan pasukan Israel membongkar sebuah bangunan tempat tinggal di wilayah Silwan, Yerusalem timur, pada 22 Desember 2025. (Xinhua/Jamal Awad)

PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Pembongkaran sebuah bangunan tempat tinggal di Yerusalem Timur (Al-Quds) oleh otoritas Israel pada Selasa (6/10) telah menyebabkan jumlah pengungsi terbanyak dalam satu pembongkaran sejak 2009, demikian disampaikan badan kemanusiaan PBB.

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), para mitranya mengatakan bahwa 69 orang, dengan lebih dari setengahnya adalah anak-anak, tinggal di bangunan yang terletak di area At Tur, Yerusalem Timur (Al-Quds), tersebut.

"PBB dan para mitranya telah mengunjungi area tersebut, dan keluarga-keluarga di sana mengatakan pasukan Israel melarang mereka mengambil barang-barang mereka, yang tertinggal dan terkubur di bawah reruntuhan," kata OCHA.

Kantor PBB itu mengatakan mitra-mitranya telah mengevaluasi kebutuhan mendesak para warga dan menyatakan bahwa mereka memenuhi syarat untuk menerima bantuan barang kebutuhan pokok dan sewa tempat tinggal.

"Sejauh tahun ini, otoritas Israel telah menghancurkan atau memaksa pemilik untuk menghancurkan hunian yang menampung lebih dari 1.800 warga Palestina di seluruh Tepi Barat," kata OCHA. "Sebagian besar bangunan hunian itu dihancurkan karena tidak memiliki izin bangunan yang dikeluarkan Israel, yang jarang diberikan kepada warga Palestina di area-area yang terdampak."

Kantor PBB tersebut mengatakan bahwa para mitranya telah menyediakan tempat penampungan darurat, barang-barang kebutuhan pokok, dan dukungan psikososial.

Di Gaza, OCHA mengatakan dukungan untuk air dan sanitasi terhambat oleh kekurangan dana dan pembatasan masuknya pasokan penting. Barang-barang yang dikenai pembatasan impor mencakup oli mesin, suku cadang, dan peralatan penting yang diperlukan agar kendaraan dan mesin tetap berfungsi.

Kantor PBB itu mengatakan para mitranya melaporkan bahwa kelangkaan itu menyebabkan penurunan produksi air di dua pabrik desalinasi di Gaza selatan, di mana peralatan tidak dapat dipelihara dengan baik, sehingga mengakibatkan sedikit penurunan pasokan air minum bagi 500.000 orang di Deir al-Balah dan Khan Younis.

Di seluruh Gaza, para mitra memperkirakan bahwa tiga dari empat keluarga bergantung pada air yang dikirim dengan truk hingga infrastruktur air dapat dipulihkan. Para mitra menyalurkan 25.000 meter kubik air minum setiap hari. Namun, kendaraan tersebut membutuhkan perawatan, dan akses ke area tertentu sering kali ditangguhkan karena masalah keamanan, terutama di sepanjang apa yang disebut "Garis Kuning", papar OCHA.

Pada pekan keempat September, para mitra telah mendistribusikan lebih dari 12.000 jeriken air dengan kapasitas masing-masing 10 liter untuk membantu masyarakat mengambil air yang didistribusikan dengan truk, kata OCHA.

Badan kemanusiaan itu mengatakan bahwa kelangkaan barang-barang yang impornya dibatasi juga menghambat penggunaan kendaraan untuk mengumpulkan dan memindahkan sampah padat, sehingga gerobak keledai dan truk PBB terpaksa digunakan. Selain persetujuan untuk barang-barang yang dibatasi, akses harus dipulihkan ke dua tempat pembuangan sampah di Jalur Gaza guna mencegah penumpukan sampah padat lebih lanjut di area-area padat penduduk.

Pendanaan bahan bakar yang berkelanjutan juga sangat penting, kata OCHA.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait