Dari warisan apartheid hingga politik ras, ini sumber ketegangan AS–Afsel

Foto yang diabadikan pada 10 Agustus 2023 ini menunjukkan pemandangan di Johannesburg, Afrika Selatan. (Xinhua)

Johannesburg, Afrika Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Ketegangan antara Afrika Selatan (Afsel) dan Amerika Serikat (AS) semakin meningkat menyusul aksi saling sindir terbaru di ruang publik antara Menteri Hubungan dan Kerja Sama Internasional Afsel Ronald Lamola dan Duta Besar AS untuk Afsel Brent Bozell III.

Pada Senin (5/10), Bozell menanggapi pernyataan Lamola di platform media sosial X, yang mengatakan bahwa utusan AS tersebut seharusnya "mundur saja" jika sudah lelah berdialog dan tidak lagi meyakini interaksi diplomatik dengan Pretoria.

"Jadi, ini terjadi lagi. Hinaan personal lainnya dari Menteri Lamola yang ditujukan kepada seorang pemimpin Amerika (kali ini kepada saya)," tulis Bozell, seraya menambahkan bahwa pemerintah Afsel kemudian malah "bertanya-tanya mengapa hubungan kedua negara memburuk."

Pernyataan Lamola tersebut dimuat di Sunday Times, sebuah surat kabar Afsel, pada Ahad (4/10), beberapa hari setelah Afsel menyampaikan protes diplomatik resmi, atau demarche, kepada Bozell atas apa yang disebut oleh pemerintah sebagai "perilaku yang tidak diplomatis."

Lamola mengatakan dia "terkejut" dengan pernyataan Bozell yang mengisyaratkan bahwa Washington telah lelah dengan diskusi berulang kali dengan Pretoria.

"Anda tidak bisa memiliki seorang diplomat yang mengatakan bahwa waktu untuk berdiskusi sudah berakhir. Tugas kami memang untuk berdiskusi," demikian kutipan pernyataan Lamola.

Lamola juga menuduh Bozell mencampuri urusan dalam negeri Afsel melalui pernyataan dan kegiatannya di ruang publik.

Pada 29 September, Departemen Hubungan dan Kerja Sama Internasional Afsel memanggil Bozell terkait apa yang disebutnya sebagai "perilaku yang tidak diplomatis." Ini merupakan demarche ketiga yang disampaikan kepada utusan AS tersebut sejak dia tiba di Pretoria pada Februari.

Aksi saling sindir terbaru ini terjadi ketika Bozell terus mengkritik pemerintah Afsel di ruang publik. Dalam wawancara dengan Fox News Digital yang diterbitkan pada Ahad, dia menuduh Presiden Afsel Cyril Ramaphosa menolak mengutuk apa yang dia sebut sebagai hasutan untuk melakukan kekerasan yang berkaitan dengan lagu perjuangan anti-apartheid kontroversial, "Kill the Boer".

Pemerintah Afsel berulang kali menolak tuduhan mengenai persekusi sistematis atau "genosida" terhadap warga Afsel kulit putih.

Pretoria mengatakan bahwa kejahatan dengan kekerasan berdampak pada warga Afsel di seluruh kelompok ras dan bahwa kebijakan transformasi ekonomi yang diterapkannya bertujuan mengatasi ketimpangan yang berakar pada masa lalu apartheid di negara tersebut.

Perbedaan pendapat antara Washington dan Pretoria juga berpusat pada kebijakan pertanahan Afsel, langkah-langkah transformasi ekonomi berbasis ras, serta posisi kebijakan luar negerinya.

Dalam sebuah artikel opini yang diterbitkan di situs web Kedutaan Besar AS pada 29 September, Bozell menyebutkan sejumlah kekhawatiran Washington, antara lain serangan terhadap pertanian di daerah pedesaan, kebijakan berbasis ras yang berdampak pada perusahaan-perusahaan AS, serta apa yang disebutnya sebagai "pergeseran terus-menerus Afsel menuju pihak-pihak yang menjadi lawan kami." Dia juga mengkritik kebijakan pengambilalihan lahan di Afsel.

Bozell berpendapat bahwa kebijakan ekonomi Afsel membuat sejumlah perusahaan AS enggan berinvestasi di negara tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa Washington merasa frustrasi terhadap apa yang dia gambarkan sebagai kegagalan Pretoria dalam menanggapi kekhawatiran AS secara memadai.

Afsel menegaskan bahwa perselisihan dengan Washington seharusnya diselesaikan melalui interaksi diplomatik yang konstruktif, seraya menekankan pentingnya menghormati kedaulatan Afsel dan hak Afsel untuk menentukan kebijakan dalam negerinya. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait