Fokus Berita – Houthi ancam infrastruktur Saudi, rudal balistik kembali ditembakkan ke wilayah Kerajaan

Pengikut Houthi ikut serta dalam parade untuk memperingati 10 tahun pengambilalihan ibu kota Sanaa oleh kelompok tersebut di Al Sabeen Square di Sanaa, Yaman, pada 21 September 2024. (Xinhua/Mohammed Mohammed)

Sanaa, Yaman (Xinhua/Indonesia Window) – Kelompok Houthi Yaman pada Selasa (6/10) memperingatkan bahwa pihaknya dapat meningkatkan serangan terhadap bandara, pelabuhan, dan infrastruktur lainnya di Arab Saudi serta melakukan pembalasan terhadap negara asing mana pun yang bergabung dalam konflik, seiring pertempuran meningkat di sepanjang pesisir Laut Merah yang strategis di Yaman.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh televisi Al Mayadeen yang berbasis di Lebanon, Mohammed al-Bukhaiti, seorang anggota Biro Politik Houthi, mengatakan bahwa pasukan pemerintah telah menerobos garis pertahanan Houthi selama serangan terbaru mereka pada Senin (5/10), tetapi mengklaim bahwa kemajuan tersebut sejak itu telah berhasil dibendung.

"Ada penerobosan, tetapi kami telah menutupnya," katanya. Dia juga mengatakan bahwa kelompok tersebut memiliki kemampuan militer untuk menutup bandara dan pelabuhan laut Arab Saudi, seraya memperingatkan bahwa permusuhan yang terus berlanjut dapat membuat infrastruktur Arab Saudi menjadi sasaran serangan yang lebih luas.

Menanggapi kemungkinan keterlibatan regional, al-Bukhaiti mengatakan bahwa Houthi tidak mengharapkan Turkiye atau Pakistan untuk secara langsung bergabung dalam operasi tempur di dalam Yaman, tetapi memperingatkan bahwa kelompok tersebut akan menganggap bahkan keterlibatan tidak langsung sebagai partisipasi dalam perang tersebut dan akan siap untuk merespons.

Kedua negara pada Senin mengatakan bahwa mereka akan menyediakan pasukan dan kemampuan militer serta memastikan pengerahan cepat di Arab Saudi sesuai dengan komitmen mereka berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah (Mecca Joint Defense Agreement).

Terlepas dari ancaman tersebut, al-Bukhaiti menyebut penghentian konflik sebagai "kepentingan bersama," dengan berpendapat bahwa deeskalasi akan menguntungkan baik Arab Saudi maupun Yaman.

Pernyataan al-Bukhaiti disampaikan di tengah meningkatnya pertempuran di sepanjang pesisir barat daya Yaman, tempat pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan besar pada Senin terhadap posisi-posisi Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab dengan dukungan udara Saudi yang ekstensif.

Houthi merebut Mocha dan Pulau Mayyun di dekatnya pada September, memperluas kehadiran mereka di sekitar jalur perairan strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.

Kampanye darat pemerintah yang kembali dilancarkan tersebut telah disertai dengan peningkatan serangan lintas batas, dengan Houthi meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah bandara, fasilitas energi, dan sasaran militer di dalam Arab Saudi, sementara pesawat tempur Saudi meningkatkan serangan terhadap posisi-posisi Houthi di seluruh Yaman.

Yaman dilanda konflik sejak akhir 2014, ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman utara, yang mendorong intervensi militer yang dipimpin Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi telah mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang dilancarkan oleh kelompok Houthi Yaman ke arah Kota Khamis Mushait di Arab Saudi barat daya, demikian dilaporkan Saudi Press Agency (SPA) pada Rabu (7/10) dini hari.

Juru bicara koalisi, Turki al-Malki, menyebutkan bahwa Sanaa serta kegubernuran Saada dan Amran merupakan sumber ancaman rudal Houthi, seperti dikutip oleh SPA.

Al-Malki menyatakan koalisi akan terus menetralkan ancaman rudal balistik dan rudal permukaan ke permukaan (surface-to-surface), serta menghancurkan sumber-sumbernya.

Kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara Yaman pada akhir 2014, yang kemudian memicu intervensi militer pimpinan Arab Saudi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Bentrokan baru-baru ini menandai eskalasi paling tajam sejak gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022, yang sebagian besar menghentikan pertempuran skala penuh di negara yang dilanda perang tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait