
Pemanasan global buat tanaman hemat air dan punya lebih banyak daun

Tugu Kujang, salah satu ikon Kota Bogor, Jawa Barat, terlihat pada foto bertanggal 24 Juni 2022. (Indonesia Window)
Peningkatan penyerapan karbon terutama justru didorong oleh tanaman yang menggunakan air secara lebih efisien dan memperluas kanopinya dengan menghasilkan lebih banyak daun.
Yerusalem, Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Studi internasional yang dipimpin oleh peneliti dari China dan Israel menemukan bahwa respons tanaman terhadap pemanasan global tidak berlangsung seperti yang sebelumnya diasumsikan para ilmuwan, sebuah penemuan yang dapat menyempurnakan prediksi iklim, kata Universitas Ibrani Yerusalem pada Rabu (3/6).
Para ilmuwan telah lama meyakini bahwa tanaman akan mengatasi kenaikan suhu dengan meningkatkan suhu optimal untuk fotosintesis. Namun, temuan baru ini, yang telah dipublikasikan dalam jurnal One Earth, menentang asumsi yang telah lama diyakini tersebut.
Untuk menguji teorinya, para peneliti menganalisis data pengamatan global berbasis darat dan satelit yang dihimpun selama dua dekade antara 2000 hingga 2019.
Studi ini menemukan bahwa meskipun ekosistem di seluruh dunia meningkatkan kemampuan tanaman untuk menyerap karbon dioksida, suhu optimal untuk fotosintesis sebagian besar tetap tidak berubah, terutama di daerah gersang dan dingin.
Para peneliti menemukan bahwa adaptasi suhu hanya menyumbang kurang dari 20 persen dari peningkatan penyerapan karbon global. Peningkatan penyerapan karbon terutama justru didorong oleh tanaman yang menggunakan air secara lebih efisien dan memperluas kanopinya dengan menghasilkan lebih banyak daun.
Pemanfaatan air yang lebih baik terbukti menjadi faktor terpenting di berbagai lingkungan.
Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa model iklim di masa depan seharusnya lebih berfokus pada bagaimana tanaman mengelola air dan tumbuh, alih-alih hanya mengandalkan respons tanaman terhadap suhu.
Lebih lanjut menurut para peneliti, temuan mereka ini dapat mengarah pada prediksi yang lebih akurat tentang kemampuan alami Bumi untuk menyerap karbon dioksida dan membantu mengevaluasi secara lebih baik umpan balik kompleks yang akan membentuk iklim di tahun-tahun mendatang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti China temukan cacat gen penyebab utama lupus
Indonesia
•
14 Sep 2025

SpaceX batalkan peluncuran roket raksasa Starship akibat isu bahan bakar
Indonesia
•
19 Apr 2023

Saat manusia mulai ‘jatuh hati’ pada AI, China perketat aturan bot pendamping
Indonesia
•
16 Jul 2026

Tak ada sinyal? Warga Beijing kini bisa kirim SMS via satelit saat bencana
Indonesia
•
18 Jun 2026


Berita Terbaru

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026

Jika es Antarktika menyusut, seberapa tinggi laut akan naik? Ilmuwan siapkan survei besar
Indonesia
•
08 Sep 2026

‘Power bank’ jadi tenaga eksoskeleton, teknologi ini bantu gerak hingga 35 persen
Indonesia
•
07 Sep 2026
