
Ahli biologi China temukan material nano baru untuk tingkatkan fotosintesis tanaman

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 23 September 2024 ini memperlihatkan hamparan lahan pertanian di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia, China barat laut. (Xinhua/Wang Peng)
Bahan nano berbasis karbon dari biomassa limbah pertanian dapat meningkatkan fotosintesis tanaman dan berpotensi memacu pertumbuhan tanaman.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti China mengembangkan bahan nano berbasis karbon dari biomassa limbah pertanian yang dapat meningkatkan fotosintesis tanaman dan berpotensi memacu pertumbuhan tanaman.Menurut penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Communications Materials, para peneliti dari Institut Teknologi Lanjutan Shenzhen (Shenzhen Institute of Advanced Technology), yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), dan Shanghai Jiao Tong University mengembangkan titik-titik kuantum karbon, sebuah material nano berbasis karbon yang disintesis dari biomassa limbah pertanian, seperti jerami, dedaunan, dan gulma, seperti dilansir Science and Technology Daily pada Senin (10/3).Menurut penelitian tersebut, material baru ini mengubah sinar ultraviolet, yang tidak dapat diserap oleh tanaman, dan cahaya hijau, yang diserap secara tidak efisien oleh tanaman, menjadi cahaya merah sehingga menghasilkan penyerapan yang lebih efisien. Material ini juga memicu eksitasi elektron dari foton yang diserap untuk menghasilkan elektron tambahan bagi rantai transpor elektron fotosintesis, sehingga meningkatkan efisiensi fotosintesis.Para peneliti memasukkan material tersebut ke dalam media kultur cair sianobakteri atau menyemprotkannya pada tanaman sebagai percobaan. Hasilnya menunjukkan bahwa sianobakteri penghasil gliserol mengalami peningkatan 2,4 kali lipat dalam laju fiksasi CO2 dan pertumbuhan 2,2 kali lipat dalam produksi gliserol. Sementara itu, biomassa tanaman Arabidopsis meningkat 1,8 kali lipat.Menurut penelitian ini, material tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi fotosintesis dan mendorong pertumbuhan tanaman, tetapi juga menawarkan keuntungan berupa biaya yang rendah dan biokompatibilitas yang tinggi, sehingga sangat menjanjikan untuk produksi pertanian di masa depan dan biomanufaktur bertenaga surya.Percobaan awal juga menunjukkan bahwa material tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan sejumlah tanaman, seperti duckweed, kacang tanah, jagung, dan kedelai.Tim peneliti berencana untuk melakukan percobaan lapangan lebih lanjut.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China berencana genjot penggunaan NEV di daerah pedesaan
Indonesia
•
17 May 2024

China tuntaskan uji transposisi wahana antariksa gunakan lengan robotik
Indonesia
•
07 Jan 2022

Sejumlah pakar sebut 6G akan diluncurkan secara komersial sekitar tahun 2030
Indonesia
•
30 Apr 2024

Studi: Obat penurun berat badan Wegovy kurangi risiko penyakit jantung hingga 20 persen
Indonesia
•
09 Aug 2023


Berita Terbaru

Satu set perhiasan emas kuno dari era Abbasiyah ditemukan di Arab Saudi
Indonesia
•
28 May 2026

Robot humanoid di China punya ID digital untuk keamanan
Indonesia
•
29 May 2026

Model AI Green Shield pastikan penggunaan pestisida yang tepat
Indonesia
•
26 May 2026

NASA umumkan rencana Moon Base untuk dukung kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan
Indonesia
•
27 May 2026
