Pankreas buatan bantu pengidap diabetes akhiri injeksi insulin harian

Ilustrasi. Injeksi insulin bagi penderita diabetes. (Haberdoedas on Unsplash)
Teknologi implan hidup yang berfungsi sebagai pankreas buatan berhasil menjaga pengendalian glukosa jangka panjang pada tikus percobaan dan mampu bertahan hidup di dalam tubuh primata nonmanusia.
Yerusalem, Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti di Israel dan Amerika Serikat berhasil mengembangkan implan hidup yang berfungsi sebagai pankreas buatan, sebuah terobosan yang suatu hari nanti dapat mengakhiri kebutuhan akan injeksi insulin harian bagi jutaan penderita diabetes.
Institut Teknologi Israel, yang dikenal sebagai Technion, mengumumkan pengembangan tersebut pada Senin (2/2) menyusul sebuah studi yang diterbitkan di dalam jurnal Science Translational Medicine.
Sistem berbasis sel tersebut berfungsi layaknya apotek di dalam tubuh. Sistem ini secara terus-menerus memantau kadar gula darah dan secara otomatis memproduksi serta mengeluarkan jumlah insulin yang tepat sesuai kebutuhan tubuh. Berbeda dengan teknologi yang ada saat ini, implan tersebut beroperasi tanpa memerlukan pompa eksternal maupun pantauan pasien.
Selama ini, hambatan utama dalam implan semacam ini adalah sistem kekebalan tubuh, yang sering kali menyerang jaringan asing. Para peneliti mengatasi masalah ini dengan merancang sebuah "perisai kristal" yang melindungi implan dari penolakan imun, sehingga membuatnya bisa berfungsi secara andal dalam jangka waktu yang lama.
Sejauh ini, teknologi tersebut berhasil menjaga pengendalian glukosa jangka panjang pada tikus percobaan dan mampu bertahan hidup di dalam tubuh primata nonmanusia.
Meskipun fokus utama saat ini adalah diabetes, para peneliti menyebutkan platform ini dapat diadaptasi untuk mengobati kondisi kronis lainnya. Dengan memodifikasi sel-sel dalam tubuh, implan tersebut berpotensi menyalurkan secara kontinu dosis protein yang dibutuhkan untuk mengobati hemofilia atau penyakit genetik dan metabolis lainnya.
Jika terbukti berhasil dalam uji klinis pada manusia, teknologi ini akan menandai pergeseran penting dalam bidang kedokteran, beralih dari pemberian obat secara manual seumur hidup menjadi ‘terapi hidup’ yang mampu mengatur secara mandiri di dalam tubuh.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Australia akan bangun laboratorium baru untuk cek kandungan toksin dari wabah alga pada ‘seafood’
Indonesia
•
22 Aug 2025

Haji1442 – Teknologi kecerdasan buatan diterapkan pada pelaksanaan ibadah
Indonesia
•
01 Jul 2021

China luncurkan 14 satelit baru
Indonesia
•
16 Jan 2023

Riset BRIN ungkap emisi karbon lamun Indonesia, Jawa dan Sumatra tertinggi
Indonesia
•
16 Jan 2026
Berita Terbaru

Studi ungkap Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dari perkiraan sebelumnya
Indonesia
•
03 Feb 2026

Vaksin personalisasi pertama di dunia untuk kanker otak anak yang mematikan dalam tahap uji klinis
Indonesia
•
03 Feb 2026

Pasien bertahan hidup 48 jam tanpa dua paru-paru dengan organ buatan
Indonesia
•
02 Feb 2026

Sampel rambut ungkap dampak stres terhadap anak-anak autistik
Indonesia
•
02 Feb 2026
