Pasien bertahan hidup 48 jam tanpa dua paru-paru dengan organ buatan

Ilustrasi. (Robina Weermeijer on Unsplash)

Sistem paru-paru buatan eksternal membantu mempertahankan hidup seorang pasien kritis selama 48 jam setelah kedua paru-parunya diangkat sepenuhnya, sehingga memberikan cukup waktu bagi pasien tersebut untuk menjalani transplantasi paru-paru.

 

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah kasus terobosan yang dipublikasikan pekan ini di jurnal Med melaporkan keberhasilan penggunaan sistem paru-paru buatan eksternal untuk mempertahankan hidup seorang pasien kritis selama 48 jam setelah kedua paru-parunya diangkat sepenuhnya, sehingga memberikan cukup waktu bagi pasien tersebut untuk menjalani transplantasi paru-paru.

Pada musim semi 2023, seorang pasien laki-laki berusia 33 tahun yang didiagnosis mengalami sindrom gangguan pernapasan akut (acute respiratory distress syndrome/ARDS) dirawat di Northwestern Memorial Hospital di Amerika Serikat (AS). Kondisi pasien tersebut memburuk menjadi pneumonia nekrotikan (necrotizing pneumonia) dan sepsis berat. Meski telah dipasangi ventilator, kondisinya terus menurun, hingga akhirnya mengalami gagal ginjal dan henti jantung.

Menghadapi dilema klinis yang langka ini, tim medis yang dipimpin oleh ahli bedah toraks Dr. Ankit Bharat dari Feinberg School of Medicine, Northwestern University, Chicago, memutuskan untuk menopang pasien dengan sistem paru-paru buatan yang baru dikembangkan, setelah paru-paru pasien yang terinfeksi diangkat.

Kondisi pasien mulai membaik hanya dalam waktu 48 jam. Bharat mengamati bahwa fungsi ginjal pria tersebut pulih sepenuhnya dan jantungnya kembali normal. Dia tidak lagi memerlukan obat-obatan untuk menopang tekanan darah. Pasien itu kemudian berhasil menjalani transplantasi dua paru-paru dan hingga kini tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan organ maupun gangguan fungsi paru-paru.

Dr. Natasha Rogers, seorang klinisi transplantasi di Westmead Hospital, Sydney, Australia, berkomentar bahwa rekayasa di balik sistem paru-paru buatan tersebut sangat mengagumkan dan tim yang terlibat dinilainya "sangat berani".

Dr. Bharat menyatakan harapannya agar teknologi penyelamat nyawa semacam ini dapat semakin mudah diakses oleh pasien kritis yang menunggu transplantasi paru-paru. Namun demikian, Rogers menekankan bahwa penerapan pendekatan ini memerlukan keterlibatan banyak tim spesialis, karena hanya rumah sakit besar yang mampu melaksanakannya. Oleh karena itu, penggunaan sistem ini masih terbatas. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait