
Otoritas Palestina siap operasikan perlintasan Rafah sesuai perjanjian 2005

Staf Bulan Sabit Merah Mesir berdiri di dekat sebuah truk yang mengangkut bantuan kemanusiaan saat truk tersebut memasuki Gaza dari perlintasan Rafah sisi Mesir pada 12 Oktober 2025. (Xinhua/Ali Mostafa)
Rafah menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir dan merupakan satu-satunya rute bagi warga Palestina untuk melakukan perjalanan ke luar negeri demi mendapatkan perawatan medis, pendidikan, atau pekerjaan.
Ramallah, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Pasukan keamanan Palestina pada Selasa (27/1) mengatakan Otoritas Palestina (Palestinian Authority/PA) siap mengambil alih pengoperasian di perlintasan Rafah begitu perlintasan tersebut dibuka kembali, sesuai dengan perjanjian 2005 dan di bawah pengawasan misi Uni Eropa (UE).
Anwar Rajab, juru bicara pasukan keamanan PA, mengatakan kepada Xinhua bahwa perlintasan tersebut masih menunggu keputusan Israel terkait tanggal pembukaan dan penyelesaian pengaturan teknis yang diperlukan. Dia membantah laporan yang menyebutkan perlintasan itu akan dibuka pada Selasa.
"Pihak Palestina, melalui kepolisian dan otoritas terkait, sepenuhnya siap untuk mengoperasikan perlintasan tersebut sesuai perjanjian 2005, dengan kehadiran misi UE," kata Rajab.
Sementara itu, Amjad al-Shawa, direktur NGO Network di Gaza, mengatakan pengaturan untuk pembukaan kembali perlintasan Rafah sedang disusun, dan daftar pasien yang dijadwalkan akan melakukan perjalanan sedang disiapkan. Dia menambahkan bahwa sebagian besar orang yang diperkirakan akan meninggalkan Gaza adalah pasien, sementara Israel akan menerapkan prosedur ketat terhadap siapa pun yang ingin kembali.
Media Israel melaporkan bahwa perlintasan Rafah dapat dibuka secara parsial pada Ahad (1/2) mendatang untuk tujuan operasional, koordinasi, dan inspeksi, tanpa mengizinkan orang masuk atau keluar. Akses terbatas bagi penduduk kemungkinan belum dimulai hingga Kamis (5/2) mendatang, terutama bagi sekitar 150 pasien dan orang yang luka-luka yang akan dipindahkan ke Mesir untuk menjalani perawatan medis.
Sekitar 84.000 warga Gaza saat ini berada di Mesir dan berharap dapat kembali begitu perlintasan dibuka lagi, ungkap sejumlah laporan.
Israel pada Ahad (25/1) mengumumkan pihaknya akan mengizinkan pembukaan kembali perlintasan Rafah "secara terbatas" di bawah kendali penuh Israel. Pernyataan dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mensyaratkan langkah tersebut untuk pengembalian jenazah Ran Gvili, warga Israel terakhir yang disandera di Gaza. Pada Senin (26/1), militer Israel mengonfirmasi pihaknya telah menemukan jenazah Gvili dalam operasi pencarian di Gaza City.
Rafah, perlintasan darat utama di Gaza, menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir dan merupakan satu-satunya rute bagi warga Palestina untuk melakukan perjalanan ke luar negeri demi mendapatkan perawatan medis, pendidikan, atau pekerjaan. Israel mengendalikan perlintasan tersebut sejak Mei 2024, menyusul operasi militer di kota itu. Perlintasan tersebut tetap ditutup bagi warga sipil meski beberapa kali ada komitmen untuk membukanya kembali sesuai kesepakatan gencatan senjata.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ekspatriat semakin mudah bekerja di Arab Saudi dengan aturan baru
Indonesia
•
05 Nov 2020

Wilayah Makkah umumkan dimulainya kembali izin Iftar Sayim
Indonesia
•
19 Mar 2021

Perundingan Iran-AS mendadak bubar! Delegasi Iran ‘walk out’ usai Trump ancam serangan lebih keras
Indonesia
•
22 Jun 2026

Media Saudi: Iran dan Oman capai kesepahaman awal untuk buka kembali Selat Hormuz
Indonesia
•
07 Aug 2026


Berita Terbaru

Perang AS-Iran masuk bulan keenam, ekonomi global masih bertahan? Ini jawaban IMF
Indonesia
•
12 Sep 2026

PBB: 1.500 warga Palestina terusir akibat pembongkaran Israel di Tepi Barat
Indonesia
•
12 Sep 2026

Aljazair putus hubungan diplomatik dengan UEA, duta besar diberi waktu 48 jam
Indonesia
•
12 Sep 2026

Houthi rebut kawasan Selat Bab al-Mandab, kuasai seluruh pesisir barat Yaman
Indonesia
•
12 Sep 2026
