Mengenal Buzkashi, olahraga tradisional pemersatu bangsa Afghanistan

Para penunggang kuda Afghanistan berlaga dalam permainan Buzkashi di Provinsi Balkh, Afghanistan, pada 22 November 2024. (Xinhua/M Fardin Nawrozi)
Olahraga khas Afghanistan Buzkashi yang berumur ratusan tahun, dan dikenal dengan sebutan permainan ‘berebut kambing’ itu, telah menjadi simbol persatuan.
Kabul, Afghanistan (Xinhua/Indonesia Window) – Menantikan permainan Buzkashi dengan antusias sembari berharap timnya dapat menjuarai kompetisi, seorang penunggang kuda yang memperkenalkan diri bernama Pahlawan menggambarkan Buzkashi sebagai permainan tradisional yang digandrungi. Warga Afghanistan telah memainkannya sepanjang sejarah, katanya.Sebagai olahraga khas Afghanistan berumur ratusan tahun, Buzkashi yang juga dikenal dengan sebutan permainan ‘berebut kambing’ itu telah menjadi simbol persatuan. Pahlawan meyakini ribuan orang yang menghadiri turnamen berkuda ini dari seluruh Afghanistan mencerminkan kekuatannya untuk menyatukan individu-individu dari berbagai latar belakang."Membiakkan dan memelihara kuda merupakan tradisi yang telah mengakar kuat, dan begitu juga Buzkashi," ujar Pahlawan dalam permainan Buzkashi yang diadakan di ujung timur Kota Kabul belum lama ini. "Olahraga ini lebih dari sekadar kompetisi, ini merupakan cara yang tepat untuk menyatukan orang-orang dari segala usia."Perang dan konflik sipil selama puluhan tahun telah memecah belah masyarakat multietnis di Afghanistan, namun Pahlawan memandang Buzkashi sebagai platform yang unik untuk membangun persahabatan dan solidaritas."Permainan ini (Buzkashi) memfasilitasi persahabatan antarwarga. Kecintaan terhadap Buzkashi menciptakan persatuan dan itulah sebabnya orang-orang dan penunggang kuda dari berbagai provinsi, dari Badakhshan, dari Baghlan, dari Takhar, dari Kunduz, dan dari seluruh negara ini datang untuk menikmatinya," tutur Pahlawan, yang merupakan anggota dari tim Provinsi Baghlan di Afghanistan utara.Ajang tahunan Liga Buzkashi Afghanistan keenam, yang mempertemukan 11 tim dari seluruh negara itu, dimulai pada 5 Desember dan dijadwalkan berakhir pada 15 Desember. Tim pemenang akan menerima hadiah uang, kendaraan mewah, dan kuda sebagai bentuk penghargaan atas upaya mereka."Buzkashi memiliki tempat istimewa di hati masyarakat kami. Tahun ini, kami bahkan mengimpor kuda-kuda dari Kirgizstan dan Kazakhstan untuk kompetisi ini," kata Ghulam Sarwar Jalal, ketua Federasi Buzkashi Nasional Afghanistan. "Alih-alih membeli mobil, para penggemar berinvestasi pada kuda, yang menunjukkan antusiasme mereka terhadap olahraga ini."Kendati ada berbagai tantangan yang dihadapi Afghanistan yang dilanda perang, olahraga itu berkembang pesat, dengan harga kuda yang siap berlaga dalam kompetisi berkisar antara 70.000 dolar AS hingga 200.000 dolar AS, ungkap Sarwar."Saya penggemar Buzkashi dan itulah alasan saya datang dari Provinsi Sari Pul ke sini (Kabul), untuk menikmati permainan. Saya yakin tim kami dapat menjuarai kompetisi. Buzkashi adalah bagian dari budaya kami," ujar seorang penonton turnamen bernama Najibullah Hamraz, dari Provinsi Sari Pul di Afghanistan utara, dengan penuh antusiasme.*1 dolar AS = 15.987 rupiahLaporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

USA Today: Warga Ohio alami berbagai gejala usai insiden kereta tergelincir
Indonesia
•
09 Mar 2023

Gubernur California perintahkan pejabat negara bagian tangani perkemahan tunawisma
Indonesia
•
27 Jul 2024

120 petinggi MA terekomendasi kompeten
Indonesia
•
22 Sep 2019

Bukti baru unit perang kuman Jepang dipublikasikan
Indonesia
•
07 Sep 2023
Berita Terbaru

Ramadan 1447 – Warga Palestina bersiap hadapi ‘Ramadan kelabu’ di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan di Gaza dan Tepi Barat
Indonesia
•
17 Feb 2026

Usai cedera dan pensiun, duo seluncur indah China Sui/Han duduki posisi ke-5 di Milan-Cortina 2026
Indonesia
•
18 Feb 2026

Rangkuman – Hari ke-11 Milan-Cortina 2026: China cetak sejarah di seluncur cepat, Norwegia terus mendominasi perolehan medali
Indonesia
•
18 Feb 2026

Feature – Batik peranakan jadi simbol keberagaman budaya di Indonesia selama ratusan tahun
Indonesia
•
18 Feb 2026
