Feature – Operasi katarak di Alor, pulau indah yang tersamar

Foto tak bertanggal ini menunjukkan seorang warga Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, setelah menjalani operasi katarak. (Foto: Istimewa)
Operasi katarak menjadi barang mewah yang tak terjangkau buat kocek warga Alor, sementara di RSUD Kalabahi yang masuk rumah sakit kategori tipe C tak memiliki dokter spesialis mata.
Jakarta (Indonesia Window) – Pulau Alor yang terletak di ujung timur Nusa Tenggara Timur adalah surga buat peselam tingkat dunia. Selain alam bawah laut yang mempesona, keindahan pantai dan budayanya sangat eksotik untuk dinikmati.
Pulau Alor yang berbatasan dengan Timor Leste adalah satu dari sembilan pulau yang ada di Kabupaten Alor. Sebagian penduduknya yang berjumlah 240.000-an orang berada di Pulau Alor. Selain Pantai Deere yang dikenal sebagai pantai dengan pasir yang putih serta kondisi air laut yang lebih tenang, Alor memiliki pantai lain seperti pantai Mali, Sabanjar, Ling’Al dan beberapa tempat wisata pantai lainnya.
Namun, keindahan Alor tidak bisa dinikmati sebagian warganya. Ada sekitar 248 warganya pada Kamis (26/2) mendatangi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kalabahi yang terletak di pusat kota Kabupaten Alor untuk mendaftarkan diri mengikuti operasi katarak gratis.
Petang itu, Kementerian Sosial bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata (Perdami), Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih menggelar bakti sosial berwujud operasi katarak secara gratis bagi penduduk Alor.
Buat warga Alor, operasi katarak menjadi barang mewah yang tak terjangkau buat kocek mereka. Di RSUD Kalabahi yang masuk rumah sakit kategori tipe C tak memiliki dokter spesialis mata. Warga yang penglihatannya sudah sangat terganggu, bahkan nyaris buta terpaksa harus berobat ke kota Kupang, ibukota provinsi, dengan dana yang menghabiskan puluhan juta rupiah.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial, Supomo, yang hadir pada bakti sosial tersebut menyatakan, pemerintah harus melakukan intervensi terhadap masyarakat tak mampu tersebut. Dia menyatakan, sesungguhnya masih banyak lagi masyarakat yang ingin ikut operasi katarak secara gratis, namun merasa takut memeriksakan matanya pada layanan kesehatan terdekat.
Bakti sosial dalam bentuk operasi katarak gratis, kata Supomo, telah menjangkau lebih 17.000 warga di seluruh Indonesia.
Program ini akan terus berlanjut ke daerah-daerah terluar dan sulit terjangkau layanan kesehatan dengan melibatkan Perdami, lembaga-lembaga sosial dan filantropi.
Ratu (74), salah seorang warga yang mengikuti operasi katarak tersebut menyatakan sangat puas atas layanan operasi katarak gratis tersebut.
“Operasinya ternyata hanya sekitar lima menit,” ujarnya, seraya menambahkan, pascaoperasi ini kehidupannya kembali normal dengan penglihatan yang terang.
Dia mengaku sudah lebih 10 tahun tak dapat menjalani kehidupan dengan penglihatan yang normal dan senantiasa dituntun keluarga dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Antusias tinggi juga diungkapkan dokter yang menangani operasi katarak tersebut.
Salah satunya dr. Ivone Caroline, SpM yang datang dari Bandung. Dia sangat senang mendapat kesempatan mengunjungi Pulau Alor yang sangat elok sambil membantu warga setempat dari masalah penglihatan.
Dr. Ivone bersama lima rekan sejawatnya yang datang dari Jakarta dan Manado menyelesaikan bakti sosial tersebut selama tiga hari.
Pelaksana Harian Sekertaris Daerah Kabupaten Alor, Obeth Bolang mengatakan, mata adalah jendela kehidupan. Dengan kegiatan operasi katarak tersebut, memberi semangat dan optimisme warga Alor melihat kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.
Sesungguhnya Alor memiliki masa depan yang cerah dengan wisata unggulan bahari yang tak kalah dengan wisata Raja Ampat atau Labuan Bajo. Alor dapat menjadi permata timur Indonesia dengan terumbu karang yang masih alami, keanekaragaman biota laut, serta aire laut yang jernih dapat menjadi kan wilayah ini populer di kalangan penyelam dari seluruh dunia.
Tidak hanya keindahan laut, Alor merupakan rumah bagi puluhan suku dengan bahasa lokal masing-masing. Setiap suku memiliki bahasa, adat istiadat, serta kesenian yang unit. Warganya santun, saling menghormati. Dan sikap toleransi yang tinggi. Masyarakat Alor memegang kuat semboyan ‘Taramiti Tominuku’, meski kita berbeda tempat dan kedudukan, namun kita tetap satu hati.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

COVID-19 - Produksi vaksin bagi warga sipil dimulai sebulan setelah tahap ke-3
Indonesia
•
17 Aug 2020

Proporsi rumah tangga ‘single parent’ di Korsel terus meningkat pada kelompok usia 20-39 tahun
Indonesia
•
12 Sep 2025

Bayi panda raksasa kembar sapa pengunjung pertama di Kebun Binatang Berlin, Jerman
Indonesia
•
16 Oct 2024

COVID-19 – Universitas Johns Hopkins: Kasus infeksi di AS tembus 100 juta
Indonesia
•
21 Dec 2022
Berita Terbaru

Sepertiga warga Somalia akan hadapi kelaparan pada Maret
Indonesia
•
27 Feb 2026

Zambia umumkan wabah polio usai virus terdeteksi di air limbah
Indonesia
•
26 Feb 2026

Angka kesuburan total Korea Selatan capai level tertinggi dalam 4 tahun pada 2025
Indonesia
•
26 Feb 2026

Tarian Tanoura tampil di Kairo, Mesir
Indonesia
•
26 Feb 2026
