
Sepertiga warga Somalia akan hadapi kelaparan pada Maret

Seorang perempuan membuang air yang kotor dari genangan di dasar sebuah sungai di dekat Doolow, wilayah yang diserang kekeringan di Somalia, pada 20 Maret 2017. (Xinhua/Sun Ruibo)
Somalia menghadapi krisis kelaparan yang sangat kompleks, di mana dua musim hujan berturut-turut tidak menghasilkan curah hujan yang cukup, konflik serta kerawanan terus berlanjut, dan ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka untuk mencari tempat berlindung, makanan, dan layanan dasar.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sekitar 6,5 juta orang, atau kurang lebih sepertiga populasi Somalia, akan menghadapi tingkat kelaparan yang kritis pada Maret, meningkat 1,7 juta orang sejak Januari, demikian disampaikan sejumlah pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (25/2).
Saat berbicara kepada wartawan di markas besar PBB melalui tautan video, Direktur Kesiapan dan Tanggap Darurat Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) Ross Smith mengatakan laporan terbaru Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu (Integrated Food Security Phase Classification/IPC) untuk Somalia, yang dirilis pada Selasa (24/2), mengonfirmasi kekhawatiran bahwa situasi kemanusiaan di Somalia memburuk secara signifikan.
"Dari jumlah tersebut, 2 juta perempuan dan anak-anak yang paling rentan diperkirakan akan menghadapi kelaparan parah," dengan lebih dari 1,8 juta anak balita diperkirakan akan mengalami malanutrisi akut pada 2026, ungkap Smith.
Smith mengatakan Somalia sedang menghadapi krisis kelaparan yang sangat kompleks, di mana dua musim hujan berturut-turut tidak menghasilkan curah hujan yang cukup, konflik serta kerawanan terus berlanjut, dan ribuan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka untuk mencari tempat berlindung, makanan, dan layanan dasar.
Sementara itu, sejumlah badan di Somalia, termasuk WFP, menghadapi kekurangan sumber daya yang parah, kata Smith memperingatkan. Dia menambahkan bahwa tanpa pendanaan segera, dukungan bantuan pangan dan nutrisi darurat penyelamat nyawa dari WFP Somalia bagi kelompok yang paling rentan akan terpaksa dikurangi dan pada akhirnya akan segera dihentikan.
Rein Paulsen, direktur Kantor Kedaruratan dan Ketahanan (Office of Emergencies and Resilience) di Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), menyoroti kekeringan yang berdampak dahsyat terhadap sektor pertanian Somalia. "Secara konkret, hal ini berarti kerugian tanaman dan ternak yang meluas, serta pengungsian penduduk berskala besar."
Akibat kekeringan tersebut, panen serealia utama terakhir Somalia 83 persen lebih rendah dibandingkan rata-rata jangka panjang antara 1995 hingga 2025, dan angka kelahiran ternak juga menurun, tutur Paulsen. Dia menekankan urgensi bantuan penyelamat nyawa guna melindungi hidup warga dan tindakan untuk mencegah hancurnya mata pencaharian pertanian dan peternakan di pedesaan.
Untuk menanggapi situasi ini, FAO membutuhkan 85 juta dolar AS guna mendukung 1 juta warga pedesaan yang paling rentan, berisiko tinggi, dan kurang terlayani saat ini, tetapi hingga kini baru tersedia 6 juta dolar AS, ujar Paulsen.
*1 dolar AS = 16.813 rupiah
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Angka kesuburan di Jepang turun selama 7 tahun berturut-turut
Indonesia
•
05 Jun 2023

Feature – Pasar pagi populer di Wajima, Jepang, ludes dilalap si jago merah
Indonesia
•
08 Jan 2024

Korban tewas kecelakaan bus migran di Meksiko selatan bertambah jadi 17 orang
Indonesia
•
21 Feb 2023

Feature – Teknologi AI buka prospek baru bagi perawatan lansia di China
Indonesia
•
02 Jul 2024


Berita Terbaru

Feature – Rumah prefabrikasi bantu korban gempa Xizang di China punya hunian nyaman dalam 3 hari
Indonesia
•
27 Oct 2026

Untuk pertama kalinya, demensia jadi penyebab lebih dari 10 persen kematian di Australia
Indonesia
•
27 Oct 2026

Kampung Silat Betawi Rawa Belong diresmikan sebagai Kampung Budaya 2026
Indonesia
•
25 Oct 2026

7 orang hilang usai gedung bertingkat runtuh di Kenya, pencarian berlanjut
Indonesia
•
25 Oct 2026
