Misi Bulan Chang'e-7 China akan bawa instrumen ilmiah hasil kerja sama pengembangan internasional

Foto inframerah jauh yang diabadikan oleh kamera satelit Tiandu-2 pada 8 April 2024 ini menunjukkan penampakan Bulan (kiri) dan planet Bumi dari luar angkasa. (Xinhua/Administrasi Luar Angkasa Nasional China)
Misi eksplorasi Bulan Chang'e-7 milik China akan membawa enam instrumen ilmiah yang dikembangkan oleh enam negara dan satu organisasi internasional.
Wuhan, China (Xinhua) – Misi eksplorasi Bulan Chang'e-7 milik China akan membawa enam instrumen ilmiah yang dikembangkan oleh enam negara dan satu organisasi internasional, demikian diumumkan Administrasi Luar Angkasa Nasional China (China National Space Administration/CNSA) pada Rabu (24/4).Misi Chang'e-7, yang dijadwalkan akan diluncurkan sekitar tahun 2026, bertujuan untuk menyurvei lingkungan permukaan Bulan, dan unsur air, es, serta volatile element dari tanah Bulan di wilayah kutub selatannya. Misi ini juga akan melakukan penelitian tentang medan, komposisi, dan struktur Bulan, ungkap CNSA pada upacara peluncuran Hari Antariksa China di Wuhan, Provinsi Hubei, China tengah.Negara-negara dan organisasi internasional yang berpartisipasi dalam pengembangan instrumen ilmiah tersebut adalah Mesir, Bahrain, Italia, Rusia, Swiss, Thailand, dan Asosiasi Observatorium Bulan Internasional.Wahana pendarat (lander) Chang'e-7 akan membawa serangkaian retroreflektor laser yang dikembangkan oleh Italia untuk memberikan pengukuran presisi tinggi pada permukaan Bulan dan layanan navigasi wahana pengorbit (orbiter).Sebuah instrumen medan listrik dan debu Bulan yang dikembangkan oleh Rusia juga akan diangkut oleh lander tersebut untuk mendeteksi lingkungan plasma berdebu di permukaan Bulan.Sebuah teleskop berbasis Bulan yang dikembangkan oleh Asosiasi Observatorium Bulan Internasional juga akan dipasang pada lander sehingga memungkinkan pengamatan Galaksi, Bumi, dan langit penuh.Sementara itu, orbiter akan membawa kamera hiperspektral Bulan yang dikembangkan oleh Mesir dan Bahrain untuk mengidentifikasi material permukaan Bulan dan lingkungan Bulan.Spektrometer dua kanal berbasis Bulan untuk pengukuran radiasi Bumi yang dikembangkan melalui kerja sama antara ilmuwan Swiss dan China akan dipasang pada orbiter untuk memantau radiasi yang masuk dan keluar dari sistem iklim Bumi, pertama kalinya dari sudut pandang Bulan.Orbiter itu juga akan dilengkapi dengan rangkaian sensor untuk pemantauan global cuaca luar angkasa yang akan berfungsi mengirimkan sinyal bahaya dan peringatan akan gangguan magnetik dan radiasi yang disebabkan oleh badai matahari.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Tim peneliti China ungkap mikrobiom usus pengaruhi usia seseorang
Indonesia
•
13 Jun 2024

Selesaikan misi lima bulan, astronaut Crew-10 NASA kembali ke Bumi
Indonesia
•
10 Aug 2025

Polusi udara bingungkan kupu-kupu dan lebah, kurangi penyerbukan
Indonesia
•
07 Feb 2022

China perkuat pemeriksaan paten untuk industri mutakhir
Indonesia
•
03 Oct 2023
Berita Terbaru

Rusia luncurkan amunisi peledak jarak jauh 30 mm untuk cegat ‘drone’
Indonesia
•
07 Feb 2026

Satelit BeiDou sediakan layanan komunikasi darurat tanpa cakupan seluler
Indonesia
•
07 Feb 2026

24.000 kematian di AS terkait dengan polusi asap karhutla
Indonesia
•
07 Feb 2026

Jumlah warga Australia pengidap demensia ‘onset’ dini akan meningkat 40 persen pada 2054
Indonesia
•
06 Feb 2026
