Jakarta (Indonesia Window) – Minyak melanjutkan penurunannya pada Jumat, dibebani oleh prospek pertumbuhan global yang lebih lemah, suku bunga yang lebih tinggi, dan penguncian COVID-19 di China yang menekan permintaan bahkan ketika Uni Eropa mempertimbangkan larangan minyak Rusia yang akan semakin memperketat pasokan.

Dana Moneter Internasional (IMF) pekan ini memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi globalnya sementara Ketua Federal Reserve AS pada Kamis (21/4) mengatakan bahwa kenaikan setengah poin pada suku bunga “akan dibahas” pada pertemuan kebijakan Fed berikutnya pada Mei.

Minyak mentah berjangka Brent turun 76 sen atau 0,7 persen, menjadi diperdagangkan di 107,57 dolar AS per barel pada pukul 08.10 GMT.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 32 sen atau 0,3 persen, menjadi diprdagangkan di 103,47 dolar AS per barel.

“Pada tahap ini, kekhawatiran atas pertumbuhan China dan pengetatan berlebihan oleh The Fed, yang membatasi pertumbuhan AS, tampaknya menyeimbangkan kekhawatiran bahwa Eropa akan segera memperluas sanksi terhadap impor energi Rusia,” kata Jeffrey Halley, analis di broker OANDA.

Prospek permintaan di China, importir minyak terbesar dunia, terus membebani. Shanghai mengumumkan babak baru langkah-langkah termasuk pengujian virus corona harian mulai Jumat, menambah langkah-langkah ketat untuk mengekang wabah terbaru.

Brent mencapai 139 dolar AS per barel bulan lalu, tertinggi sejak 2008, tetapi kedua harga acuan minyak menuju penurunan pekanan lebih dari 3,0 persen pekan ini.

Dukungan berkelanjutan diberikan oleh ketatnya pasokan setelah gangguan di Libya, yang kehilangan produksi 550.000 barel per hari (bph), dan pasokan dapat diperas lebih lanjut jika Uni Eropa memberlakukan embargo pada minyak Rusia.

Sebuah sumber Uni Eropa mengatakan kepada Reuters pekan ini bahwa Komisi Eropa sedang bekerja untuk mempercepat ketersediaan pasokan energi alternatif guna mencoba memotong biaya pelarangan minyak Rusia dan membujuk negara-negara yang enggan untuk menerima tindakan tersebut.

“Boikot Uni Eropa terhadap energi Rusia pasti akan mengarah pada harga energi yang lebih tinggi, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Stephen Brennock dari pialang minyak PVM.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan