
Menlu Australia sebut 115.000 warganya terjebak di Timur Tengah

Tim penyelamat dan warga setempat berusaha menyelamatkan korban luka dari reruntuhan di sebuah sekolah dasar putri yang diserang di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada 28 Februari 2026. (Xinhua/Mehr News Agency)
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Australia Penny Wong pada Senin (2/3) mengatakan bahwa sekitar 115.000 warga Australia saat ini berada di Timur Tengah setelah penerbangan masuk dan keluar dari kawasan tersebut dibatalkan di tengah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Wong mengatakan kepada televisi Australian Broadcasting Corporation bahwa pemerintah federal sedang menunggu informasi terbaru mengenai dimulainya kembali penerbangan komersial melalui Timur Tengah sebelum memutuskan untuk menyediakan penerbangan pemulangan bagi warga yang telantar.
"Mengingat jumlah orang di kawasan tersebut, mereka akan dapat pulang paling cepat jika kami dapat memfasilitasi mereka untuk menggunakan penerbangan komersial saat ini," ujar sang menlu.
Dalam pernyataan yang dirilis sebelumnya pada Senin, Wong mengatakan pemerintah kini menyarankan warga Australia untuk tidak melakukan perjalanan ke Bahrain, Iran, Irak, Israel, Kuwait, Lebanon, Palestina, Qatar, Suriah, Uni Emirat Arab, dan Yaman.
Selain itu, dia mengatakan warga Australia sebaiknya mempertimbangkan kembali kebutuhan untuk melakukan perjalanan ke Yordania, Oman, dan Arab Saudi.
Warga negara Australia yang sudah berada di Timur Tengah telah disarankan oleh pemerintah untuk memantau dengan saksama perkembangan situasi dan media lokal, mengonfirmasi rencana perjalanan langsung dengan maskapai atau agen perjalanan, meninjau asuransi perjalanan mereka, serta memantau Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (Department of Foreign Affairs and Trade/DFAT) Australia untuk mendapatkan informasi terbaru.
Wong mengatakan DFAT telah mengaktifkan Pusat Krisis untuk memberikan dukungan konsuler kepada warga Australia di Timur Tengah.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk melindungi keselamatan sekitar 100 personel pertahanan yang saat ini ditempatkan di kawasan tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

OPEC+ setuju tingkatkan produksi minyak lebih dari yang diharapkan
Indonesia
•
02 Jun 2022

Putra Mahkota Saudi: Negara-negara Teluk tetap jadi pemasok energi dunia
Indonesia
•
09 Dec 2022

UEA dan Bahrain tandatangani ‘Abraham Accord’ di Washington, AS
Indonesia
•
15 Sep 2020

COVID-19 – AS catat lebih 2,9 juta kasus pada anak dalam empat pekan terakhir
Indonesia
•
16 Feb 2022


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
