
Dari robot humanoid hingga eVTOL, jurnalis dunia saksikan wajah kota masa depan di Shenzhen

Foto yang diabadikan pada 22 Juli 2026 ini menunjukkan sejumlah wartawan dari berbagai negara berkunjung di sebuah perusahaan teknologi di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, China selatan. (Xinhua)
Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi Mecca Yumna Ning Prisie, wartawan dari Kantor Berita ANTARA, kunjungan baru-baru ini ke kota metropolitan Shenzhen di China selatan menjadi pengalaman yang sangat mengesankan.
Dalam kunjungan tersebut, dia menyaksikan langsung pembangunan Shenzhen sebagai pusat teknologi dan ekonomi utama yang berorientasi pada inovasi, dengan perpaduan antara terobosan teknologi, pengembangan rantai industri, dan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.
Di Shenzhen InnoX Academy, Mecca terpukau melihat sebuah purwarupa perangkat keras cerdas yang dikembangkan oleh tim inkubator setempat. Perangkat tersebut mampu mempercepat proses pengembangan produk, mulai dari tahap konsep hingga menjadi bentuk nyata, dengan mempercepat pengujian berkelanjutan serta memungkinkan iterasi teknologi dilakukan secara tepat waktu.
"Saya melihat sistem yang memadukan berbagai pemasok di sini, sehingga efisiensi kerjanya luar biasa," ujar Mecca, yang terkesan dengan kualitas layanan yang disediakan akademi ini kepada para wirausahawan.
Kunjungan Mecca tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang diikuti para wartawan dari sejumlah negara dan kawasan anggota APEC yang berkunjung ke Shenzhen pada 21 hingga 24 Juli, dalam rangka menyaksikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di salah satu mesin pertumbuhan ekonomi utama China serta peran iptek terhadap pembangunan ekonomi sosial China.
Di stan perusahaan robotika LimX Dynamics di sebuah pameran Qianhai, Nadzirah Binti Yazid, wartawan asal Malaysia, dengan antusias berinteraksi dengan robot humanoid Oli.
Robot setinggi 165 cm itu memiliki 31 derajat kebebasan (degrees of freedom/DOF) dan dapat menyelesaikan berbagai tugas, seperti menyambut tamu, melakukan perkenalan, dialog multibahasa secara waktu nyata, sehingga menjadi sorotan dalam pameran itu.
Bagi Lee Chee Yang, mesin penerjemahan InnoAI buatan perusahaan Qianhai merupakan alat yang sangat bermanfaat. Tanpa memerlukan koneksi internet, alat tersebut mampu melakukan penerjemahan multibahasa secara langsung dan lintas aplikasi, bahkan dapat meniru suara pembicara.
Lee dengan penasaran bertanya tentang harga dan pangsa pasar alat penerjemahan tersebut dari para staf sambil mencoba fungsi alat itu.
Dalam kunjungan tersebut, para wartawan juga mendatangi kawasan teknologi ekonomi ketinggian rendah dan menyaksikan penerapan drone serta eVTOL dalam berbagai skenario, termasuk logistik nirawak, transportasi perkotaan, patroli udara.
Sambil melihat rantai talenta, rantai nilai dan industri terkait ekonomi ketinggian rendah, mereka berdiskusi mengenai potensi penerapan teknologi tersebut di negara masing-masing.
Sementara itu, mereka juga menyaksikan proyek penyaluran air Dongguan-Hong Kong. Dibangun pada 1960-an, proyek ini bertujuan mengatasi kelangkaan air bersih di Hong Kong dengan mengandalkan sumber air di Provinsi Guangdong.
Sebagai infrastruktur penyaluran air tradisional pada awal operasional, proyek ini mengalami beberapa putaran pengoptimalan dan perluasan sejak 1970-an hingga 2003. Kini, kualitas air yang disalurkan melampaui standar tingkat kedua nasional China, dan volume penyaluran tahunan mencapai 2,423 miliar meter kubik, naik 35 kali lipat dari awal operasional proyek tersebut.
Saat ini, proyek itu sudah dibekali kapal patroli nirawak yang mampu memeriksa kualitas air, layar yang menampilkan data kualitas air secara waktu nyata dan berbagai teknologi canggih lainnya yang menjamin kualitas serta efisiensi air yang mengalir.
"Dari proyek ini, saya melihat tekad dan kemampuan China dalam membangun infrastruktur demi kesejahteraan masyarakat dan bagaimana teknologi memberdayakannya," kata Mecca, "Kami bukan hanya mendapat bahan peliputan, tetapi juga bagaimana konsep dapat berwujud di Kawasan Teluk Besar Guangdong-Hong Kong-Makau. Di sini, kami melihat masa depan."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Industri teh di China timur terapkan digitalisasi dan pengembangan ramah lingkungan
Indonesia
•
22 Jun 2024

Wahana pendarat AS terus hasilkan tenaga surya di Bulan
Indonesia
•
29 Feb 2024

‘Drone’ bantu proses konstruksi proyek PV di China barat daya
Indonesia
•
19 Apr 2023

Stasiun Mohe, stasiun penerima data satelit paling utara di China
Indonesia
•
30 Jan 2026


Berita Terbaru

Feature – Mengapa Indonesia tak pernah menemukan dinosaurus? Pameran ini ungkap alasannya
Indonesia
•
26 Jul 2026

Ilmuwan China berhasil kloning padi hibrida, tak perlu benih baru setiap tahun
Indonesia
•
26 Jul 2026

Teknologi satelit China melesat, citra Bumi kini bisa dikirim hanya dalam waktu 1,5 jam
Indonesia
•
24 Jul 2026

Feature – Paus sperma berkomunikasi seperti kode morse, ilmuwan temukan 'bahasa' uniknya
Indonesia
•
24 Jul 2026
