
Dukung misi Bulan dan Mars, tim ilmuwan luncurkan peta jalan untuk pertanian antariksa

Foto yang diabadikan pada 26 Mei 2021 ini menunjukkan fenomena 'super moon' di atas Danau George, sekitar 20 menit berkendara dari Canberra, Australia. (Xinhua/Liu Changchang)
Peta jalan pertanian antariksa menyoroti kemajuan-kemajuan terkini dalam ilmu tanaman untuk luar angkasa seperti biologi sintetis, pengindraan presisi, dan pertanian lingkungan terkendali (controlled-environment agriculture).
Melbourne, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan berhasil menyusun peta jalan untuk memanfaatkan tanaman guna mendukung kehidupan jangka panjang manusia di Bulan dan Mars, menggunakan teknologi yang juga dapat mengubah produksi pangan berkelanjutan di Bumi.Proyek ini mempertemukan lebih dari 40 ilmuwan dari berbagai negara dan badan antariksa guna menguraikan terobosan-terobosan dalam ilmu tanaman yang dibutuhkan untuk menciptakan sistem-sistem pendukung kehidupan berbasis tanaman yang mandiri untuk eksplorasi luar angkasa dalam (deep space), ungkap pernyataan pers dari Universitas Melbourne Australia pada Kamis (27/11).Sistem-sistem tersebut akan digunakan untuk menanam sumber makanan segar, mendaur ulang air dan udara, serta mendukung kesehatan dan kesejahteraan astronaut, menurut penelitian yang diterbitkan di jurnal New Phytologist.Guna memandu misi di masa depan, para penulis memperkenalkan kerangka kerja Tingkat Kesiapan Sistem Pendukung Kehidupan Bioregeneratif (Bioregenerative Life Support System Readiness Level) baru untuk mengukur seberapa efektif tanaman dapat mendaur ulang nutrisi, memurnikan air, menghasilkan oksigen, dan menyediakan nutrisi di habitat luar angkasa.Peta jalan tersebut menyoroti kemajuan-kemajuan terkini dalam ilmu tanaman untuk luar angkasa seperti biologi sintetis, pengindraan presisi, dan pertanian lingkungan terkendali (controlled-environment agriculture), menurut pernyataan pers itu.Para ilmuwan mengatakan bahwa pekerjaan tersebut akan memandu serangkaian prioritas menjelang misi Artemis III milik Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (National Aeronautics and Space Administration/NASA) Amerika Serikat pada 2027, yang akan mengirim manusia kembali ke permukaan Bulan dan mencakup eksperimen Pengaruh Bulan terhadap Tanaman Pertanian, upaya pertama untuk menumbuhkan dan mengembalikan tanaman dari Bulan.Merancang sistem-sistem tanaman untuk digunakan di Bulan menawarkan wawasan yang kuat untuk meningkatkan pertanian di Bumi, tutur Sigfredo Fuentes, salah satu penulis studi yang juga merupakan lektor kepala Universitas Melbourne, yang meneliti bagaimana tanaman dapat direkayasa, diadaptasi, dan dipantau agar tumbuh subur di lingkungan Bulan dan Mars, bersama dengan kolega-kolega global."Luar angkasa mendorong kita untuk merancang sistem-sistem tanaman yang sangat efisien, tangguh, dan dipantau secara tepat," yang akan membantu menanam bahan pangan secara berkelanjutan di wilayah rawan kekeringan, perkotaan, dan komunitas terpencil, kata Fuentes.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ketahanan pangan Fiji terdampak perubahan iklim
Indonesia
•
25 Mar 2024

Peneliti China gunakan satelit sains Bumi untuk pantau anjungan minyak dan gas lepas pantai
Indonesia
•
09 Feb 2025

Rusia luncurkan roket untuk kirim 55 satelit ke orbit
Indonesia
•
07 Nov 2024

Platform T-makers jembatani Selat Taiwan dengan inovasi dan peluang bisnis
Indonesia
•
18 Jun 2024


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
