Mencari-cari kebahagiaan

Mencari-cari kebahagiaan
Ilustrasi. (Pixabay)

Sudah lama aku mencari apa itu kebahagiaan.

Waktu aku masih kecil sekali, aku merasa bahagia kalau semua keinginanku dipenuhi oleh orangtuaku.

Ternyata, kebahagiaan itu bukan seperti itu.

Aku lihat, ada juga yang merasa bahagia jika sedang bersama teman-temannya.

Tapi menurutku kebahagiaan saat berkumpul dengan kawan atau sahabat masih kurang, karena mereka nggak selalu bersama kita.

Sebahagia-bahagianya kita berkumpul dengan teman, akan lebih bahagia jika kita bersama dengan keluarga, sebab keluarga adalah orang-orang terpenting ketiga dan paling bisa dipercaya setelah Allah ﷻ dan Nabi ﷺ.

Bagiku, keluarga adalah penghangatku ketika aku dingin, paling aman untuk jadi sandaranku, selalu sedia membelaku walaupun ada penghalang, dan rumah yang paling indah yang melebihi istana.

Setiap aku sedih, mereka selalu menghiburku.

Setiap aku jatuh, mereka sedia membangkitkanku.

Saat aku dalam kesusahan, mungkin teman atau sahabat akan meninggalkanku, tapi tidak keluargaku. Mereka datang membantuku. Itulah keluarga. Selalu bisa kuandalkan dan kupercaya.

Selain itu, teman dan sahabat bisa aja menjerumuskan, tapi keluarga nggak mungkin tega melakukannya karena mereka selalu menginginkan yang terbaik untuk kita.

Salah satu kisah terbaik tentang keluarga teladan adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

Sudah bertahun-tahun Nabi Ibrahim menunggu kelahiran anak dari istrinya yang pertama, Sarah.

Tapi, Allah ﷻ menakdirkan istri kedua Nabi Ibrahim, Hajar, yang mengandung dan melahirkan anak pertama dari Nabi Ibrahim, yang kelak juga menjadi Nabi Allah, Ismail ‘alaihissalam.

Betapa bahagianya Nabi Ibrahim dan keluarganya dengan lahirnya Ismail. Namun, hal ini tidak berlangsung lama karena Allah ﷻ menyuruh Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya itu.

Nabi Ibrahim sangat sedih, tapi karena dia lebih sayang kepada Allah ﷻ,  dia pun  rela menyembelih Ismail, yang juga ikhlas dengan perintah Allah.

Mereka adalah keluarga yang sholih karena pasrah pada keputusan Allah ﷻ, yang rupanya sedang menguji keimanan hamba-hamba-NYA.

Ada juga contoh keluarga yang buruk, seperti anak dan istrinya Nabi Nuh ‘alaihissalam yang keras kepala, dan nggak bisa dikasih tahu untuk menyembah Allah ﷻ.

Ketika Allah ﷻ menurunkan hujan deras yang mendatangkan banjir besar, istri dan anaknya Nabi Nuh nggak mau ikut naik ke atas bahtera.

Anaknya, Kan’an, menolak dan mengatakan bahwa dia akan selamat setelah sampai di gunung.

Kan’an akhirnya terbawa banjir dan tewas, juga istri Nabi Nuh.

Nabi Nuh sangat sedih karena nggak bisa menyelamatkan keluarganya walaupun dia sendiri adalah nabi. Ini karena istrinya dan anaknya, tidak mau percaya kepada Nabi Nuh.

Kalau aku, selalu percaya kepada ayahku karena ayahku pasti mengajariku yang baik-baik saja.

Ayahku melarangku menulis novel atau cerpen kalau isinya cuma hal yang jelek-jelek. Ayah selalu mendukungku menulis esai karena isinya positif dan bermanfaat. Kalau menulis yang buruk-buruk, HP-ku pasti disita.

Keluarga pasti menginginkan yang terbaik, jadi bersyukurlah punya keluarga karena kamu akan bahagia.

Penulis: Atabiya Radhwa Sagena Hasyim (Esai ini ditulis saat Radhwa kelas 6 SD Muhammadiyah 4 Samarinda, Kalimantan Timur. Sekarang sedang mondok di Gontor Putri Ngawi, kelas 2 reguler. Karyanya, novel kembar berjudul ‘ASGIT 1 & ASGIT 2’, dan buku puisi-pantun berjudul “Sia-sia Saja Air Matamu”)

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here