
Suhu lautan capai rekor tertinggi, tingkatkan kekhawatiran soal perubahan iklim

Foto yang diabadikan pada 23 Desember 2024 ini menunjukkan rangkaian kereta di tepi laut di Kolombo, Sri Lanka. (Xinhua/Gayan Sameera)
Lautan menentukan pola cuaca dengan mentransfer panas dan kelembapan ke atmosfer, dan hal itu juga mengendalikan laju perubahan iklim.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan menyatakan bahwa tidak lagi mengejutkan jika suhu lautan global secara konsisten memecahkan rekor pemanasan, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada Jumat (10/1).Studi yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences ini mengungkap bahwa suhu air laut di bagian permukaan maupun area yang lebih dalam mencapai rekor tertinggi pada 2024 sejak pengamatan instrumental yang dilakukan manusia dimulai pada abad ke-19.Studi tahunan ini dilakukan oleh tim ilmuwan multinasional dari tujuh negara, termasuk China, Amerika Serikat (AS), Italia, dan Prancis.Kepala peneliti Cheng Lijing dari Institut Fisika Atmosfer (Institute of Atmospheric Physics/IAP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) telah memimpin studi tentang suhu lautan global ini selama bertahun-tahun. Menurutnya, lautan, yang mencakup 70 persen permukaan Bumi, merupakan komponen penting bagi iklim planet ini karena menyerap sekitar 90 persen kelebihan panas yang disebabkan oleh pemanasan global."Lautan menentukan pola cuaca dengan mentransfer panas dan kelembapan ke atmosfer, dan hal itu juga mengendalikan laju perubahan iklim," kata Cheng. Untuk memahami apa yang sudah terjadi atau apa yang akan terjadi pada planet ini, kita harus mencari jawabannya di lautan, imbuhnya.Studi terbaru ini mengungkap bahwa pada periode tahun 2023-2024, peningkatan kandungan panas di 2.000 meter teratas lautan setara dengan 140 kali total listrik yang dihasilkan di seluruh dunia pada 2023.Suhu permukaan laut juga memecahkan rekor. Suhu permukaan mengacu pada suhu lapisan paling atas lautan yang jaraknya paling dekat dengan atmosfer. Suhu ini krusial karena menentukan laju perpindahan panas dan kelembapan dari lautan ke atmosfer, sehingga memengaruhi pola cuaca, papar Cheng.Menurut data dari IAP, rata-rata suhu permukaan laut global pada 2024 naik 0,07 derajat Celsius dibandingkan pada 2023, mencetak rekor baru sejak dimulainya pencatatan data observasi modern.Data pemantauan dari AS dan sejumlah institusi penelitian Eropa yang terlibat dalam studi ini juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten.Menurut studi ini, perubahannya tidak seragam, dengan variasi regional yang signifikan. Samudra Atlantik mengalami pemanasan bersamaan dengan suhu di Laut Mediterania dan Samudra Selatan di garis lintang tengah. Sementara itu, suhu di beberapa area di Samudra Pasifik Utara meningkat dengan cepat, sedangkan di area-area lain, khususnya wilayah tropis, pemanasan terjadi dengan lebih lambat. Hal ini terutama disebabkan oleh pengaruh fenomena cuaca La Nina/El Nino di area tersebut.
Seorang pria memancing saat matahari terbenam di Kerferd Road Pier di Port Melbourne Beach di Melbourne, Australia, pada 10 Januari 2025. (Xinhua/Ma Ping)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Tim ilmuwan China kembangkan ‘terapi presisi’ untuk ‘hidupkan kembali’ baterai litium lama
Indonesia
•
15 Feb 2025

Suhu di Rusia -21 derajat Celsius, pecahkan rekor tahun 1893
Indonesia
•
07 Dec 2021

China catat 780.000 kasus penyakit langka
Indonesia
•
26 Oct 2023

Daftar nama satuan perang kimia Jepang terungkap di China
Indonesia
•
17 Aug 2022


Berita Terbaru

Brasil kenalkan jet tempur supersonik F-39E Gripen pertama yang diproduksi di dalam negeri
Indonesia
•
27 Mar 2026

Tim peneliti China kembangkan fotovoltaik film tipis berefisiensi tinggi untuk energi luar angkasa
Indonesia
•
27 Mar 2026

OpenAI akan tutup aplikasi video Sora
Indonesia
•
25 Mar 2026

Tes darah kini mampu deteksi kanker stadium dini menggunakan 4 protein utama
Indonesia
•
25 Mar 2026
