Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak

Ilustrasi. (Sander Sammy on Unsplash)

Otak penderita skizofrenia merespons stres secara berbeda dibandingkan otak orang sehat.

 

Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan di Australia berhasil mengembangkan alat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) "yang dapat dijelaskan" (explainable) dan dapat membantu dokter mendiagnosis skizofrenia dengan menganalisis pola gelombang otak.

Para peneliti dari Universitas James Cook (James Cook University/JCU) Australia menemukan bahwa model-model pembelajaran mesin dapat membedakan antara individu yang sehat dan mereka yang menderita skizofrenia, bahkan dalam kondisi stres akut, menurut pernyataan JCU yang dirilis pada Selasa (23/6).

Tim tersebut menguji algoritma pembelajaran mesin baru pada pola gelombang otak elektroensefalografi (electroencephalography/EEG) dari individu sehat, individu yang mengalami stres, dan pasien skizofrenia. Mereka menemukan bahwa otak penderita skizofrenia merespons stres secara berbeda dibandingkan otak orang sehat.

Skizofrenia memengaruhi sekitar 1 persen populasi global dan terkait dengan angka kematian yang tinggi, sehingga kemampuan diagnosis yang lebih baik dan pendeteksian dini sangat penting untuk penanganan penyakit secara lebih efektif, demikian menurut studi yang dipublikasikan dalam jurnal Biomedical Signal Processing and Control itu.

Tim tersebut menggunakan kumpulan data EEG yang dapat diakses secara terbuka dan mengembangkan algoritma yang mampu memperhitungkan dampak stres terhadap gelombang otak EEG. Hal tersebut menghasilkan pola konsisten dengan pengetahuan medis yang telah terbukti.

Para peneliti menyatakan bahwa AI dirancang untuk mendukung dokter, bukan menggantikan mereka, dan AI yang dapat dijelaskan bisa membantu meningkatkan akses terhadap perawatan kesehatan tepat waktu di daerah-daerah terpencil. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait