Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia

Ilustrasi. (James Lo on Unsplash)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Kabut pagi masih menggantung di lereng pegunungan Papua ketika seorang peneliti menembus semak belukar yang lembap. Di hadapannya terbentang hutan tropis yang nyaris tak tersentuh, tempat setiap langkah menyimpan kemungkinan menemukan sesuatu yang belum pernah dikenal dunia.

Di balik dedaunan, tergantung sebuah kantong berwarna merah tua berbintik-bintik. Bentuknya unik, menyerupai kendi kecil yang siap menjebak serangga.

Bagi banyak orang, tumbuhan itu hanyalah tanaman eksotis bernama ‘kantong semar’. Namun bagi Prof. Muhammad Mansur, setiap Nepenthes adalah potongan kisah tentang kekayaan alam Indonesia yang harus dipahami sebelum terlambat menghilang.

Hampir empat dekade hidupnya dihabiskan untuk satu misi sederhana sekaligus besar: mengenal, mendokumentasikan, dan menjaga agar kantong semar tetap hidup di hutan-hutan Nusantara.

Lahir di Cianjur pada 22 Mei 1959, Mansur memulai karier sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1985. Kini, setelah LIPI bertransformasi menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dia tetap melanjutkan kiprahnya sebagai peneliti.

Selama lebih dari 38 tahun, langkahnya membawanya ke berbagai pelosok Indonesia. Dari hutan hujan Sulawesi, pegunungan Papua, Kalimantan yang lembap, hingga berbagai kawasan konservasi lain, semuanya menjadi laboratorium alam yang tak pernah habis menyimpan kejutan.

Perjalanan itu bukan sekadar ekspedisi ilmiah.

Setiap pendakian berarti menghadapi medan terjal, cuaca yang tak menentu, hingga kawasan yang sulit dijangkau. Namun justru dari tempat-tempat seperti itulah lahir penemuan-penemuan penting yang memperkaya ilmu pengetahuan dunia.

Pada 2009, Mansur bersama tim menemukan Nepenthes pitopangii di Sulawesi Tengah. Tiga tahun kemudian lahir Nepenthes monticola dari Papua Barat. Pada 2020, dunia botani kembali mencatat spesies baru bernama Nepenthes diabolica.

Tiga nama itu mungkin hanya terdengar sebagai istilah ilmiah. Namun di baliknya tersimpan pesan penting: Indonesia masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap

Dalam Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Profesor Riset di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Prof. Mansur mengingatkan bahwa Indonesia merupakan rumah bagi 83 spesies Nepenthes, atau sekitar 39,3 persen dari seluruh spesies kantong semar di dunia.

Artinya, hampir empat dari setiap sepuluh kantong semar yang ada di Bumi tumbuh di Indonesia.

Predikat itu menempatkan Indonesia sebagai pusat keanekaragaman Nepenthes terbesar di dunia.

Namun menjadi ‘rumah terbesar’ juga berarti memikul tanggung jawab terbesar.

Di balik bentuknya yang memikat, kantong semar adalah tumbuhan dengan strategi bertahan hidup yang luar biasa. Hidup di tanah miskin unsur hara membuat tanaman ini ‘berinovasi’ melalui evolusi. Ujung daunnya berubah menjadi kantong perangkap yang mampu menangkap serangga dan organisme kecil sebagai sumber nutrisi tambahan.

Di dalam kantong tersebut terdapat cairan dan enzim khusus bernama nepenthesin yang mencerna mangsanya. Bagi ilmuwan, mekanisme ini merupakan salah satu contoh adaptasi paling menakjubkan di dunia tumbuhan.

Namun keistimewaan itu sekaligus menjadi kelemahannya.

Sebagian besar spesies Nepenthes Indonesia bersifat endemik. Ada yang hanya tumbuh di satu gunung, satu lembah, bahkan hanya di kawasan dengan kondisi tanah yang sangat spesifik.

Ketika hutan ditebang, lahan dialihfungsikan menjadi perkebunan atau pertambangan, atau ketika perubahan iklim mengubah karakter habitatnya, spesies-spesies tersebut nyaris tidak memiliki tempat lain untuk bertahan hidup.

"Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia menghadapi tekanan serius akibat hilangnya habitat, degradasi ekosistem, dan perdagangan ilegal," ujar Mansur dalam orasinya.

Ancaman itu bukan lagi sekadar kemungkinan.

Kini, enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), sehingga membutuhkan langkah konservasi segera agar tidak benar-benar punah dari alam.

Bagi Prof. Mansur, konservasi tidak cukup hanya dengan memasang papan larangan atau menetapkan kawasan lindung.

Dia percaya pelestarian harus berjalan beriringan dengan pemanfaatan yang bertanggung jawab.

Kantong semar memiliki potensi ekonomi sebagai tanaman hias bernilai tinggi. Beberapa spesies juga menyimpan manfaat ilmiah sebagai biomonitor lingkungan karena mampu mengakumulasi logam berat dari habitatnya.

Bahkan, penelitian menunjukkan sejumlah jenis Nepenthes memiliki kemampuan menyerap karbon yang sebanding dengan pohon-pohon pionir di hutan sekunder.

Artinya, tumbuhan yang selama ini hanya dikenal sebagai ‘pemakan serangga’ ternyata dapat berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Potensi-potensi semacam inilah yang, menurut Mansur, dapat menjadi jembatan antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat jika dikelola secara bijak.

Namun warisan terbesar seorang ilmuwan bukan hanya daftar publikasi atau spesies baru yang ditemukan.

Warisan terbesar adalah generasi penerus.

Di sela-sela aktivitas penelitian, Prof. Mansur aktif membimbing mahasiswa, peneliti muda, hingga memberikan layanan identifikasi Nepenthes kepada berbagai kalangan akademik.

Dia memahami bahwa menjaga hutan tidak mungkin dilakukan sendirian.

Dibutuhkan ilmuwan-ilmuwan baru yang mau meneruskan perjalanan panjang menjelajahi rimba Indonesia, mencatat setiap spesies, dan memastikan kekayaan hayati Nusantara tetap dikenal dunia.

Di usia lebih dari enam dekade, langkah Prof. Muhammad Mansur mungkin tidak lagi secepat ketika pertama kali menembus hutan pada akhir 1980-an.

Namun semangatnya tetap sama.

Bagi dirinya, setiap ekspedisi bukan sekadar mencari spesies baru, melainkan memastikan bahwa anak cucu Indonesia kelak masih bisa menyaksikan kantong semar tumbuh liar di habitat aslinya, bukan hanya melihatnya melalui foto atau membaca namanya di buku pelajaran.

Di tengah laju pembangunan, perubahan iklim, dan hilangnya hutan yang terus terjadi, kisah Prof. Mansur mengingatkan bahwa menjaga biodiversitas bukan hanya tugas para ilmuwan. Ini adalah tanggung jawab bersama.

Sebab, ketika satu spesies hilang dari hutan Indonesia, yang lenyap bukan sekadar satu jenis tumbuhan. Yang ikut hilang adalah sepotong sejarah evolusi, bagian dari identitas bangsa, dan warisan alam yang tak mungkin diciptakan kembali.

Seperti pesan yang disampaikan Prof. Mansur di akhir orasinya: "Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia adalah aset berharga yang memerlukan pengelolaan bijak dan konservasi aktif."

Kalimat itu lahir bukan hanya dari hasil penelitian, tetapi dari hampir empat puluh tahun perjalanan menyusuri hutan-hutan Nusantara—perjalanan panjang seorang ilmuwan yang memilih mengabdikan hidupnya demi menjaga salah satu keajaiban alam Indonesia.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait