
Kolombia akan jatuhkan tarif 100 persen ke Ekuador, langkah balasan di tengah ketegangan

Orang-orang menikmati waktu senggang di pantai di Santa Marta, Kolombia, pada 8 November 2025. (Xinhua/Andres Moreno)
Bogota, Kolombia (Xinhua/Indonesia Window) – Kementerian Perdagangan Kolombia pada Jumat (10/4) mengatakan bahwa mereka akan menaikkan tarif impor dari negara tetangga mereka, Ekuador, menjadi 100 persen dari sebelumnya 30 persen, merespons keputusan yang dibuat sehari sebelumnya oleh Quito, seiring meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Menteri Perdagangan Kolombia Diana Morales mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kenaikan tarif terbaru Ekuador dari 50 persen menjadi 100 persen memaksa Kolombia untuk menyelaraskan kebijakannya, seraya menuding langkah Quito tersebut mendistorsi persaingan dan merugikan produsen domestik kedua negara.
Proses untuk menerapkan langkah baru tersebut akan segera dimulai, katanya, seraya menambahkan bahwa Kolombia telah melakukan dialog dengan Ekuador namun tidak mendapat respons positif.
"Kami telah mengerahkan semua upaya diplomatik dan tetap membuka saluran dialog dengan pemerintah Ekuador, mencari solusi yang menguntungkan kedua negara, pelaku bisnis, dan yang terpenting, masyarakat di kedua sisi perbatasan," katanya.
"Namun, kami belum menerima respons positif. ... Oleh karena itu, kami terpaksa menyesuaikan langkah-langkah tarif kami agar sesuai dengan tarif baru Ekuador," ujarnya, seraya menambahkan bahwa pemerintah Kolombia akan memperkenalkan langkah-langkah dukungan, termasuk jalur kredit dan akses pembiayaan, untuk membantu bisnis yang terdampak.
Dengan alasan defisit perdagangan dan menuding Kolombia gagal memerangi perdagangan narkoba secara efektif di perbatasan bersama, Ekuador dalam beberapa bulan terakhir telah menaikkan tarif terhadap negara tetangganya yang lebih besar tersebut, sementara Kolombia membantah tudingan itu.
Kedua negara juga berselisih mengenai komentar Presiden Kolombia Gustavo Petro bahwa mantan wakil presiden Ekuador Jorge Glas ditahan sebagai "tahanan politik" dan harus dibebaskan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Indeks Dow Jones anjlok ke zona ‘bear market’ di tengah kekhawatiran resesi
Indonesia
•
27 Sep 2022

UU perpajakan AS berpotensi buat kesenjangan ekonomi warga Afrika-Amerika dan kulit putih
Indonesia
•
22 Feb 2023

Indonesia proyeksikan ekspor biodiesel ke UE tumbuh stabil usai putusan WTO
Indonesia
•
01 Sep 2025

Pemerintah targetkan ‘lifting’ minyak 1 juta barel per hari pada 2030
Indonesia
•
15 Sep 2020


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
