
Wawancara: Pejabat IMF sebut Asia pusat kekuatan ekonomi global

Direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF) Krishna Srinivasan (kiri) menghadiri sebuah konferensi pers di Kolombo, Sri Lanka, pada 15 Mei 2023. (Xinhua/Gayan Sameera)
Kawasan Asia harus menghadapi risiko fragmentasi geoekonomi, dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dampak perubahan iklim, dan sebagainya.
Washington, AS (Xinhua/Indonesia Window) – Asia, yang memberikan kontribusi sebesar 60 persen terhadap pertumbuhan global, jelas merupakan pusat kekuatan ekonomi global, kata Krishna Srinivasan, Direktur Departemen Asia dan Pasifik Dana Moneter Internasional (IMF)."Ini adalah kawasan paling dinamis di dunia. Asia memiliki jumlah tenaga kerja yang sangat besar. Banyak di antaranya juga merupakan tenaga kerja terampil. Ini adalah kawasan yang sangat terintegrasi dalam rantai pasokan global. Dan terakhir, Asia adalah kawasan yang telah mengalami peningkatan besar dalam pertumbuhan produktivitas," ujar Srinivasan kepada Xinhua dalam sesi wawancara pekan ini."Karena ketiga alasan itu, kawasan ini memberikan kontribusi yang jauh lebih besar dibandingkan kawasan lain," katanya.Dalam laporan terbaru World Economic Outlook (WEO) IMF yang dirilis pada Selasa (22/10), IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan global untuk 2024 di angka 3,2 persen, konsisten dengan proyeksinya pada Juli. Sementara itu, perekonomian-perekonomian emerging dan berkembang Asia diperkirakan akan mencatat pertumbuhan 5,3 persen."Emerging market di Asia memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan perekonomian-perekonomian maju," seiring perekonomian maju masih mengalami pengetatan suku bunga dan pelemahan permintaan domestik, kata Srinivasan.Pejabat IMF tersebut menuturkan bahwa ke depannya, kawasan itu juga harus menghadapi risiko fragmentasi geoekonomi, dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dampak perubahan iklim, dan sebagainya. Secara khusus, dampak fragmentasi geoekonomi di Asia sangat mengkhawatirkan, ujarnya.Menurut perkiraan IMF, terdapat sekitar 1.000 langkah pembatasan perdagangan pada 2019, tetapi pada 2023, jumlahnya melonjak menjadi 3.000. "Ada banyak sekali langkah-langkah distorsi perdagangan yang terjadi, sehingga menyebabkan fragmentasi yang lebih besar," ujar Srinivasan."Di kawasan seperti Asia, yang paling diuntungkan dari integrasi regional dan integrasi rantai pasokan, segala bentuk fragmentasi berarti Asia berisiko mengalami kerugian paling besar," lanjutnya.
Foto yang diabadikan pada 14 Agustus 2024 ini menunjukkan lini produksi kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) di sebuah pabrik pintar milik Seres Group di Kota Chongqing, China barat daya. (Xinhua/Wang Quanchao)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ekonomi Jerman alami kontraksi selama 2 tahun beruntun pada 2024
Indonesia
•
17 Jan 2025

Malaysia mulai ekspor durian segar ke China
Indonesia
•
25 Aug 2024

Pakar: Dampak RCEP terhadap Taiwan mungkin terbatas
Indonesia
•
03 Jan 2022

Feature – Menilik perkembangan industri cabai di Zunyi, China barat daya
Indonesia
•
22 Oct 2024


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
