
Lebih dari 32.700 migran tewas di Mediterania sejak 2014

Seorang warga berunjuk rasa di Athena tengah, Yunani, pada 22 April 2015 untuk mengecam meningkatnya jumlah korban jiwa dari kalangan migran dan pengungsi di Laut Mediterania. (Xinhua/Marios Lolos)
Kematian migran di Mediterania mencapai lebih dari 32.700 orang sejak 2014 dan menuntut langkah internasional untuk memperkuat jalur migrasi aman.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Lebih dari 32.700 kematian migran telah dilaporkan di wilayah Mediterania sejak 2014, kata seorang juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat (3/10)."Dengan lebih dari 32.700 kematian sejak 2014, Mediterania telah menjadi jebakan maut bagi mereka yang mencari keselamatan, sebuah pengingat keras tentang risiko yang dihadapi para migran dan pengungsi," ujar Stephane Dujarric, juru bicara (jubir) sekretaris jenderal PBB, dalam jumpa pers harian rutin.Dujarric mengatakan bahwa tepat 12 tahun yang lalu, di lepas pantai Pulau Lampedusa, Italia, sebanyak 368 orang kehilangan nyawa di laut saat berusaha mencari kehidupan yang lebih baik. Kapal nelayan yang membawa sekitar 500 migran asal Afrika itu terbakar dan tenggelam di lepas pantai Lampedusa.Saat itu, lembaga-lembaga PBB menyuarakan seruan luas tentang perubahan dan komitmen untuk memastikan tragedi serupa tidak terulang kembali, jelas sang jubir. "Namun hingga hari ini, kita masih terus meratapi nyawa-nyawa yang hilang di laut," sambungnya.Lembaga-lembaga PBB memperkirakan sejak saat itu, "rata-rata 42 orang kehilangan nyawa setiap pekannya di sepanjang rute Mediterania tengah, dan diperkirakan satu dari lima korban tersebut adalah anak-anak," tutur Dujarric.Lembaga-lembaga PBB menekankan pentingnya kerja sama internasional tetap kuat, konflik teratasi, dan jalur migrasi yang aman dan reguler diperkuat guna mengurangi ketergantungan pada perjalanan laut berbahaya yang diatur oleh para penyelundup, kata Dujarric.Rute yang paling banyak memakan korban adalah Rute Tengah Mediterania (dari Libya/Tunisia menuju Italia), diikuti oleh Rute Timur (dari Turki ke Yunani) dan Rute Barat (ke Spanyol). Migran yang memanfaatkan jalur ini umumnya berasal dari berbagai negara Afrika sub-Sahara, kawasan Sahel, serta negara-negara Timur Tengah, yang terdorong oleh konflik, keruntuhan ekonomi, dan dampak iklim.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Nigeria izinkan warga bawa senjata untuk lawan bandit
Indonesia
•
26 Jun 2022

Gangguan mental Gen Z pasca-COVID di AS naik jadi 42 persen
Indonesia
•
09 Nov 2022

CNN: Anak-anak pribumi Amerika dikirim ke lebih banyak sekolah asrama tempat asimilasi paksa
Indonesia
•
07 Sep 2023

Panda raksasa Ya Ya tiba di Shanghai China
Indonesia
•
29 Apr 2023


Berita Terbaru

Larangan medsos untuk anak di Australia sukses, pengguna turun 10 persen
Indonesia
•
31 Jul 2026

Kisah – Dua puluh tahun kemudian, akhirnya masuk Universitas Islam Madinah
Indonesia
•
01 Aug 2026

FIFA selidiki dugaan pelanggaran Argentina di Piala Dunia 2026, apa saja tuduhannya?
Indonesia
•
31 Jul 2026

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026
