
Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern

Foto tak bertanggal ini menampilkan praktisi TCM Arief Aditama dengan klien mancanegara asal Jerman di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (Xinhua/Prabowo Destyan)
Pengobatan Timur lebih bersifat holistik yang artinya menyangkut seluruh aspek pada manusia.
Sleman, Yogyakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Pengobatan modern yang berkiblat pada Barat banyak mengulas kesehatan mental, tetapi menarik untuk menyimak bagaimana pengobatan tradisional China (traditional Chinese medicine/TCM) sebagai buah peradaban yang telah berakar ribuan tahun sudah terlebih dahulu memaparkan peta kesehatan mental.
Menurut Arief Aditama, seorang praktisi TCM selama 20 tahun lebih asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pengobatan Timur lebih bersifat holistik yang artinya menyangkut seluruh aspek pada manusia.
"Kesehatan mental bukan sekadar kondisi psikologis belaka, karena tidak dapat dipisahkan dari organ tubuh di mana pikiran, emosi, dan organ tubuh adalah satu kesatuan sistem yang saling mempengaruhi dan tidak dapat dilihat hanya secara parsial," ujar pria yang akrab disapa Suhu Tomy tersebut.
"Konsep utama TCM terkait kesehatan mental adalah shen yaitu jiwa atau kesadaran, kestabilan emosi," ujar Tomy ketika berbincang dengan Xinhua pada Kamis (12/3).
Menurut Tomy, shen yang berpusat di jantung merupakan dasar yang dibahas dalam TCM. Selain itu, ada pula jing yang merupakan sari pati tubuh atau esensi yang memengaruhi seluruh tubuh termasuk otak, sedangkan qi adalah energi yang menghubungkan antarorgan.
Lebih lanjut, emosi memiliki keterkaitan "sebab-akibat" antara dinamika psikologis manusia terhadap organ tubuh, ataupun sebaliknya.
"Gembira hubungannya dengan jantung, kemarahan dengan liver, cemas hubungannya dengan limpa, kesedihan dengan paru, ketakutan dengan ginjal. Jika sedih dada kita terasa sesak karena energi paru-paru tersedot, sedangkan jika ketakutan seseorang bisa terkencing-kencing karena energi ginjal drop, atau kala cemas perut menjadi tak nyaman," papar Tomy.
Beragam dinamika emosi tersebut menjelma menjadi penyakit ketika sifatnya berlebihan, terlalu kuat, terlalu lama, atau justru tidak tersalurkan, yang dalam TCM disebut patogen dalam.
"Orang yang terlalu berlebih atau kurang darah bisa jadi pemarah. Orang yang sakit-sakitan kondisi fisiknya drop menyebabkan shen-nya turun sehingga sering sedih. Kelelahan kronis, kurang tidur pun bisa menyebabkan kegelisahan, pikiran kurang stabil dan kecemasan."
Dalam TCM, Tomy mencontohkan kasus gangguan mental yang umum ditemui, yaitu stagnasi qi atau energi pada liver sehingga mood tak stabil akibat emosi yang tertahan. Selain itu, defisiensi darah pada jantung membuat seseorang jadi cemas, insomnia, atau mudah kaget.
Sementara pada kasus yang berat seperti gangguan psikotik, TCM memaparkan bahwa hal tersebut diakibatkan dahak telah menutupi jantung yang terhubung dengan pikiran sehingga mengganggu daya pikir pada otak.
"Perlu diketahui, dahak dalam TCM tidaklah sama dengan dahak yang ada di paru-paru dalam pengertian medis ala Barat," terang Tomy yang berlatar belakang pendidikan kedokteran gigi tersebut.
Terapi kesehatan mental
Lantas bagaimana solusi TCM ketika kesehatan mental seseorang terganggu? Tomy menerangkan beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk kembali menyeimbangkan pikiran.
"Seseorang yang kesehatan mentalnya terganggu biasanya diberikan herbal yang fokus pada kejiwaan dan menenangkan shen. Contoh yang sering dipakai adalah he huan pi untuk mengurangi depresi, juga yuan zi untuk fokus menguatkan kognitif atau pikiran."
Selain itu, terapi fisik ala TCM seperti akupunktur pun lazim digunakan untuk mengatasi kecemasan melalui titik-titik tertentu.
"Akupunktur menyasar titik HT7 atau shenmen untuk menenangkan pikiran, PC6 neiguan untuk kecemasan, LV3 taichong untuk melancarkan qi pada liver dan titik TU20 baihui untuk menstabilkan pikiran," ujar Tomy menerangkan.
Hal lain yang dianggap penting adalah olah pernafasan, seperti regulasi pernafasan yang amat sangat berpengaruh untuk kesehatan mental, antara lain Qi Gong, meditasi pernafasan, atau senam Tai Chi yang lazim dilakukan untuk meredakan pikiran dan selanjutnya menenangkan shen.
Adaptasi kesehatan mental
Zaman terus berubah dan manusia menghadapi masalah yang semakin kompleks dalam kehidupannya sehari-hari. Lantas, bagaimana TCM yang bersumber dari ribuan tahun silam beradaptasi dengan kemajuan zaman berabad-abad kemudian?
"Di zaman yang semakin modern, manusia semakin banyak dihadapkan pada komplikasi masalah karena kehidupan yang semakin kompleks yang tentu semakin menyasar keseimbangan pikiran," ujarnya. "Banyak masalah baru yang muncul karena kemajuan zaman, seperti cicilan hingga deadline pekerjaan."
Menariknya, menurut Tomy, TCM sangat terbuka sehingga bisa dikombinasikan dengan teknik psikoterapi modern dari pendekatan ilmu psikologi. "Selain herbal, akupunktur, atau meditasi yang merupakan pendekatan TCM, juga bisa dilakukan konseling dengan terapis yang dipercaya. Ada terapi seperti journaling, menulis, atau bahkan sampai pada level hipnoterapi," tutur Tomy.
Untuk menjaga kesehatan mental, Tomy menekankan pentingnya meregulasikan emosi. Pasalnya, emosi adalah bentuk energi yang tidak akan hilang seumur hidup manusia sehingga perlu dikendalikan.
"Yang benar, emosi itu disadari dan dilepaskan, bukan diluapkan. Orang pemarah sering bingung apa yang harus dilakukan. Kalau ditahan jadi penyakit, demikian pula jika diluapkan. Release emosi kemarahan bukanlah dengan marah-marah, tetapi yang dilepaskan adalah sistem energinya," jelas Tomy. "Paling mudah jika emosi lagi tinggi itu kita tinggal ambil napas panjang dan dikeluarkan lewat mulut serta diulang-ulang," ujar Tomy mencontohkan.
Istirahat dan tidur pun harus cukup, juga menjaga sistem organ terutama limpa dan lambung. Manusia modern semakin kompleks tantangan berpikirnya dan proses berpikir dikuasai dua organ tersebut, mengingat sistem cerna merupakan gerbang pertama dari apa yang kita konsumsi.
"Intinya, pada konteks TCM kita harus memperhatikan Yin Yang-nya. Menjaga segala sesuatu selaras, mulai dari faktor kegiatan, pikiran, makanan, dan hal lainnya."
Tak lupa, tubuh memerlukan "bahan bakar" berupa aktivitas fisik seperti olahraga karena gerakan tubuh sangat signifikan untuk membantu mengatasi stagnasi emosi. "Pada klien kami terbukti bahwa olahraga sangatlah banyak membantu mengatasi depresi," ungkap Tomy.
"Puncaknya, kita harus belajar tentang ketenangan batin, memiliki tujuan hidup yang jelas atau yang disebut wellness, wellbeing. Pendekatan spiritual perlu dilakukan sesuai kepercayaan masing-masing karena seluruh sistem spiritual itu arahnya untuk meregulasi emosi demi ketenangan batin," tutup Tomy.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pemimpin berperan 45 persen dalam kehumasan
Indonesia
•
02 Oct 2019

Feature – Pulihnya keamanan di Afghanistan dorong pengungsi untuk pulang ke tanah air
Indonesia
•
19 Nov 2024

Feature – Kelangkaan air akut perparah penderitaan warga Gaza di tengah musim panas
Indonesia
•
06 Jul 2024

Feature – Tiga sandera Israel dipulangkan saat gencatan senjata hadirkan ketenangan yang rapuh di Gaza
Indonesia
•
21 Jan 2025


Berita Terbaru

Ramadan 1447H – Kamar Dagang China di Indonesia beri bantuan kepada buruh rentan, via kerja sama dengan Serikat Buruh Muslim Indonesia
Indonesia
•
13 Mar 2026

Mengintip aksi pendongeng hibur murid SD di Banten
Indonesia
•
11 Mar 2026

Ramadan 1447H - Ketua DPRD Kota Bogor sebut santri generasi unggulan Indonesia karena kaji Al-Qur'an
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pemuda Indonesia soroti rencana pembangunan China dan prospek kerja sama bilateral
Indonesia
•
11 Mar 2026
