
Pakar: Korban investasi bodong didominasi kaum perempuan

Pakar hukum pidana, advokat senior, dosen dan pengamat hukum Prof. Dr. Suhandi Cahaya, dalam seminar nasional ‘Mewaspadai Kejahatan Investasi Bodong’, sebagai salah satu rangkaian acara hari ulang tahun ke-9 media massa Sudut Pandang, yang diselenggarakan di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, Sabtu (24/8/2024). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)
Kasus kejahatan investasi bodong di Indonesia semakin marak, dengan kaum perempuan yang tidak memiliki latar belakang pendidikan memadai (uneducated) mendominasi korban tidak kriminal ini.
Jakarta (Indonesia Window) – Kasus kejahatan investasi bodong di Indonesia semakin marak, dengan kaum perempuan yang tidak memiliki latar belakang pendidikan memadai (uneducated) mendominasi korban tindak kriminal ini.Hal tersebut disampaikan pakar hukum pidana, advokat senior, dosen dan pengamat hukum Prof. Dr. Suhandi Cahaya, dalam seminar nasional ‘Mewaspadai Kejahatan Investasi Bodong’, sebagai salah satu rangkaian acara hari ulang tahun ke-9 media massa Sudut Pandang, yang diselenggarakan di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, Sabtu.“Dengan iming-iming keuntungan hingga mencapai 12 persen setiap bulan, kaum ibu bisa langsung lupa daratan dan terjerat dengan janji investasi bodong yang semanis madu itu,” ujarnya.Menurut Prof. Suhandi, kaum wanita lebih banyak menjadi korban kejahatan investasi bodong karena lebih banyak menggunakan perasaan (sense of feeling) daripada laki-laki yang lebih mengedepankan akal (sense of rational).Dia mencontohkan kasus PT Indosurya Inti Finance, yang direktur utamanya telah diadili di Pengadilan Tinggi Jakarta Barat dalam perkara pidana yang telah diputuskan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan alasan adanya surat bank dari terdakwa, dan mulai mengembangkan investasi bodongnya. Kasus ini telah merugikan masyarakat sebagai investor hingga senilai 16 triliun rupiah.Akhirnya Mahkamah Agung (MA) memvonis bos Indosurya, Henry Surya, 18 tahun penjara dengan denda 15 miliar rupiah atas kasus penggelapan dana nasabah.Prof. Suhandi menegaskan bahwa investasi bodong melanggar Undang-Undang Perbankan yang terdapat di dalam Pasal 46 UU No. 7 Tahun 1992, serta Pasal 59 UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
Pakar hukum pidana, advokat senior, dosen dan pengamat hukum Prof. Dr. Suhandi Cahaya (tengah), bersama praktisi hukum spesialis kasus investasi bodong Oktavianus Setiawan (kiri) dan wartawan senior Aat Surya Safaat (kanan), dalam seminar nasional ‘Mewaspadai Kejahatan Investasi Bodong’, sebagai salah satu rangkaian acara hari ulang tahun ke-9 media massa Sudut Pandang, yang diselenggarakan di Taman Impian Jaya Ancol Jakarta, Sabtu (24/8/2024). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Petani Indonesia semakin menua, Duta Pertanian tekankan pentingnya regenerasi oleh kaum muda
Indonesia
•
25 Nov 2024

Pendapatan negara capai 1.317,2 triliun rupiah pada semester I-2022
Indonesia
•
01 Jul 2022

Kemendag China akan tinjau kembali langkah antidumping terhadap impor baja tahan karat dari UE, Inggris, Korsel, dan Indonesia
Indonesia
•
23 Jul 2024

Calon Pembeli dari 100 negara siap hadiri Trade Expo Indonesia 2023
Indonesia
•
14 Oct 2023


Berita Terbaru

Idul Fitri 1447H - Mudik Lebaran 2026 di seluruh Indonesia diprediksi capai 143,9 juta perjalanan
Indonesia
•
19 Mar 2026

Flash - Pemerintah RI tetapkan 1 Syawal 1447H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026
Indonesia
•
19 Mar 2026

Indonesia jajaki kerja sama AI pertanian dengan Guangxi, China
Indonesia
•
17 Mar 2026

Kedubes Iran kecam AS, Israel atas serangan yang tewaskan 175 siswi tak berdosa
Indonesia
•
15 Mar 2026
