
Ilmuwan usulkan strategi untuk pelajari kecerdasan kognitif yang terinspirasi dari otak

Seorang pengunjung menjajal sistem antarmuka otak-komputer domestik di stan Rumah Sakit Tiantan Beijing dalam Pameran Perdagangan Jasa Internasional China (China International Fair for Trade in Services/CIFTIS) 2023 di Shougang Park di Beijing, ibu kota China, pada 5 September 2023. (Xinhua/Li Xin)
Jaringan saraf spiking yang berevolusi sangat meningkatkan kemampuan dalam tugas-tugas persepsi dan pembelajaran penguatan.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah ilmuwan China baru saja mengusulkan sebuah strategi untuk evolusi sirkuit saraf yang terinspirasi oleh otak, membantu menjelaskan tentang pengembangan jaringan saraf spiking dengan kemungkinan biologis yang lebih masuk akal dan efisien, demikian menurut Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Penelitian ini mengusulkan sebuah ide untuk penelitian kecerdasan kognitif yang terinspirasi oleh otak secara umum, kata Zeng Yi, seorang peneliti di Institut Automasi di bawah naungan CAS sekaligus pemimpin tim penelitian tersebut.Sirkuit saraf yang berbeda di otak terlibat dalam pengembangan fungsi kognitif yang berbeda, dan sinergi adaptif dari sirkuit tersebut mendorong persepsi, pembelajaran, dan pengambilan keputusan manusia. Sangatlah penting untuk mengeksplorasi karakteristik dinamis sirkuit saraf biologis dari perspektif komputasi dan menerapkannya untuk meningkatkan kemampuan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).Dengan menerapkan sirkuit saraf yang telah berevolusi, para peneliti membangun jaringan saraf spiking untuk klasifikasi gambar dan tugas pembelajaran penguatan. Dengan menggunakan strategi Evolusi Sirkuit Neural (Neural Circuit Evolution/NeuEvo) yang terinspirasi dari otak dengan tipe sirkuit neural yang kaya, jaringan saraf spiking yang berevolusi sangat meningkatkan kemampuan dalam tugas-tugas persepsi dan pembelajaran penguatan, papar penelitian tersebut.Dikombinasikan dengan algoritme pembelajaran penguatan on-policy dan off-policy, NeuEvo mencapai kinerja yang sebanding dengan jaringan saraf tiruan, seperti diungkapkan dalam penelitian ini.Studi itu baru-baru ini dipublikasikan di jurnal Amerika Serikat Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Korsel berhasil luncurkan roket antariksa buatan dalam negeri
Indonesia
•
28 Nov 2025

Qualcomm luncurkan platform ‘mobile’ pertama yang usung CPU tercepat di dunia
Indonesia
•
23 Oct 2024

Peneliti China manfaatkan kemampuan AI untuk kedokteran berbasis bukti
Indonesia
•
19 Dec 2025

Feature – Teknologi mutakhir hidupkan kembali penemuan kuno
Indonesia
•
30 Jun 2025


Berita Terbaru

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026

Rusia targetkan pembangunan PLTN di Bulan dalam 5-7 tahun
Indonesia
•
20 Mar 2026

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026
