
Israel cabut kekebalan diplomatik diplomat Belanda di Ramallah, balas larangan produk permukiman ilegal

Foto yang diabadikan pada 23 Februari 2023 ini menunjukkan pemandangan permukiman Israel di Givat Zeev di wilayah Tepi Barat yang diduduki. (Xinhua/Muammar Awad)
Yerusalem (Al-Quds), Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Israel pada Ahad (27/9) mengatakan bahwa pihaknya akan mencabut hak istimewa dan kekebalan diplomatik para diplomat Belanda yang bertugas di Ramallah, sebagai tindakan balasan atas larangan Belanda terhadap produk-produk dari permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar mengatakan di platform media sosial X bahwa para diplomat tersebut memiliki waktu tujuh hari untuk mengembalikan dokumen diplomatik yang diterbitkan oleh Israel.
"Setelah periode tersebut, hak istimewa dan kekebalan diplomatik yang diberikan kepada mereka oleh Israel akan berakhir," kata Sa'ar.
Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataan terpisah menyatakan bahwa langkah tersebut menyusul mulai berlakunya perintah Belanda pada pekan lalu yang melarang impor dan penjualan produk-produk dari permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur, serta Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel. Belanda menyatakan bahwa permukiman Israel melanggar hukum internasional.
Kementerian tersebut mengatakan bahwa Israel pada bulan lalu juga mencoret delegasi Belanda dari pusat koordinasi untuk Gaza yang dipimpin Amerika Serikat di Kiryat Gat, Israel selatan.
Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan pemerintah negara-negara Eropa terkait tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat.
Sebelumnya pada bulan ini, Sa'ar mengumumkan serangkaian tindakan balasan terhadap Inggris menyusul langkah terbaru negara tersebut yang menyasar permukiman Israel di Tepi Barat, termasuk menutup Konsulat Inggris di Yerusalem dan melarang 12 pejabat Inggris memasuki Israel.
Pada April, Israel mengumumkan pencabutan status perwakilan Spanyol dari pusat koordinasi untuk Gaza, dengan alasan sikap Spanyol yang berulang kali "menentang Israel".
Menurut sumber-sumber Palestina dan Israel, lebih dari setengah juta pemukim Israel tinggal di Tepi Barat, yang diduduki Israel pada 1967, bersama sekitar 3,4 juta warga Palestina.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan terhadap warga Palestina meningkat tajam, dengan serangan yang terjadi hampir setiap hari oleh para pemukim dan pasukan Israel, yang sering kali mengakibatkan korban jiwa.
Permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki dianggap ilegal menurut hukum internasional.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China bolehkan puluhan ‘game’ baru, saham perusahaan teknologi naik
Indonesia
•
08 Jun 2022

Menlu Kolombia lepaskan visa AS sebagai bentuk solidaritas dengan presiden gustavo petro
Indonesia
•
01 Oct 2025

Sekjen PBB serukan keberlanjutan kesepakatan biji-bijian Laut Hitam
Indonesia
•
21 Jun 2023

Taiwan targetkan 15,1 persen pasokan listrik dari energi terbarukan pada 2025
Indonesia
•
24 Jul 2022


Berita Terbaru

Menlu Saudi desak Selat Hormuz kembali normal tanpa biaya dan pembatasan
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran sebut 5.000 orang tewas dalam serangan AS-Israel, ratusan perempuan dan anak jadi korban
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran ungkap senjata strategis disimpan di bawah tanah, apa yang disembunyikan Teheran?
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran belum menutup babak konflik, Selat Hormuz jadi kartu strategis Teheran
Indonesia
•
28 Sep 2026
