
Menlu Kolombia lepaskan visa AS sebagai bentuk solidaritas dengan presiden gustavo petro

Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang juga menjabat sebagai presiden bergilir Komunitas Negara-negara Amerika Latin dan Karibia (Community of Latin American and Caribbean States/CELAC), menyampaikan pidato pada upacara pembukaan pertemuan tingkat menteri keempat Forum China-CELAC di Beijing, ibu kota China, pada 13 Mei 2025. (Xinhua/Shen Hong)
Washington melanggar peraturan Majelis Umum PBB dengan mencabut visa Presiden Kolombia Gustavo Petro secara sepihak, dan mengatakan bahwa pernyataan Petro di New York bukanlah hasutan untuk melakukan kekerasan, seperti yang dituduhkan AS, melainkan seruan untuk menghentikan "genosida yang berdampak terhadap kemanusiaan".
Bogota, Kolombia (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Kolombia Rosa Villavicencio pada Senin (29/9) mengatakan bahwa dirinya akan melepaskan visa Amerika Serikat (AS) miliknya sebagai bentuk solidaritas dengan Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang visanya dicabut setelah mengkritik tindakan Israel di Gaza dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York."Kami tidak bisa menerima bahwa kekuatan asing memutuskan siapa yang dapat berbicara atau menghadiri forum internasional atas nama negara Kolombia. Martabat bangsa kami tidak dapat dinegosiasikan," ujar Villavicencio kepada awak media dalam konferensi pers di Bogota, ibu kota Kolombia.Villavicencio mengatakan bahwa keputusannya merupakan tindakan politik yang sejalan dengan upaya untuk membela kedaulatan Kolombia. Dengan mencabut visa Petro, AS telah melanggar norma-norma diplomatik internasional dan melemahkan kekebalannya, imbuh Villavicencio. "Kedaulatan kami tidak tunduk. Kolombia menuntut respek," tulisnya di media sosial X.Menlu Kolombia itu menambahkan bahwa negara itu akan terus berpartisipasi secara independen dalam forum-forum multilateral. Dia juga mengatakan bahwa berdasarkan perjanjian markas besar PBB tahun 1947, AS berkewajiban menjamin semua delegasi dapat masuk.Sang menteri menuduh Washington melanggar peraturan Majelis Umum PBB dengan mencabut visa Petro secara sepihak, dan mengatakan bahwa pernyataan Petro di New York bukanlah hasutan untuk melakukan kekerasan, seperti yang dituduhkan AS, melainkan seruan untuk menghentikan "genosida yang berdampak terhadap kemanusiaan".Villavicencio juga menyerukan agar negara "netral" dipertimbangkan untuk menjadi tuan rumah markas besar PBB guna memperkuat multilateralisme.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 100.000 petani India protes UU pertanian baru
Indonesia
•
22 Feb 2021

Menlu Rusia: Diplomasi Rusia akan berfokus untuk akhiri hegemoni Barat
Indonesia
•
16 Feb 2023

Partisipasi Xi Jinping dalam KTT China-Arab pertama jadi tonggak sejarah penting
Indonesia
•
08 Dec 2022

Penyalahgunaan tunjangan pengangguran COVID-19 di AS capai 191 miliar dolar
Indonesia
•
11 Feb 2023


Berita Terbaru

Badan Maritim PBB hentikan evakuasi setelah serangan di Teluk Oman, 11.000 pelaut terjebak di Selat Hormuz
Indonesia
•
26 Jun 2026

Iran desak AS hentikan interpretasi yang bertentangan dengan MoU perdamaian
Indonesia
•
26 Jun 2026

Arab Saudi tangguhkan perjalanan ke tiga negara Afrika, cegah penyebaran Ebola
Indonesia
•
26 Jun 2026

Oman tegaskan Selat Hormuz tak akan kenakan biaya transit, jamin navigasi tetap aman
Indonesia
•
26 Jun 2026
