
Iran belum menutup babak konflik, Selat Hormuz jadi kartu strategis Teheran

Warga berunjuk rasa di Teheran, Iran, pada 4 Maret 2026 untuk menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. (Xinhua/Shadati)
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Panglima Tertinggi Angkatan Darat (AD) Iran Amir Hatami pada Ahad (27/9) mengatakan bahwa perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negara itu belum berakhir, dan "musuh" masih harus siap menerima "pukulan keras" dari angkatan bersenjata Iran.
"Perang belum berakhir ... Meskipun musuh yang agresif telah mengalami pukulan berat, mereka harus tetap siap menerima pukulan dahsyat berikutnya dari angkatan bersenjata Iran," ujar Hatami dalam sebuah festival nasional di Teheran, menurut kantor berita semiresmi Iran, Tasnim.
Dia mendesak negara-negara di kawasan itu untuk menyadari bahwa kerja sama dengan AS gagal menjamin keamanan mereka, seraya menekankan bahwa keamanan regional harus dijaga dari dalam oleh negara-negara di kawasan tersebut.
Sementara itu, Otoritas Selat Teluk Persia (Persian Gulf Strait Authority/PGSA) Iran, badan yang bertanggung jawab atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz, telah memperingatkan para pemilik kapal agar tidak dipaksa oleh "beberapa penyewa" untuk menggunakan rute "ilegal" guna melewati jalur perairan tersebut.
Dalam sebuah unggahan di akun miliknya di platform media sosial X pada Ahad pagi waktu setempat, PGSA mengatakan, "Laporan kepada PGSA menunjukkan bahwa beberapa penyewa memaksa kapal untuk menggunakan rute ilegal. Hal ini berisiko menyebabkan kerugian finansial dan korban jiwa bagi kapal, pemilik, kapten, serta awak kapal, dan sangat membatasi pelayaran mereka di Selat Hormuz pada masa mendatang."
"Para pemilik kapal harus waspada terhadap tindakan ilegal semacam itu yang dilakukan oleh beberapa penyewa," kata PGSA. "Jika terbukti, penyewa akan dimasukkan ke dalam Daftar Ketidakpatuhan, dan semua pelayaran kapal mereka melalui Selat Hormuz akan dibatasi."
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran. Iran merespons dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan dan aset Israel dan AS di kawasan tersebut, serta memperketat kendalinya atas Selat Hormuz.
Pada 18 Juni, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) tentang pengakhiran perang di kawasan tersebut. Berdasarkan MoU itu, mereka dijadwalkan menggelar perundingan dalam jangka waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir. Jangka waktu tersebut telah berakhir pada 17 Agustus lalu. Namun, nasib perundingan tersebut masih belum jelas menyusul serangkaian eskalasi terbaru antara kedua negara.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB peringatkan solusi dua negara Palestina-Israel mungkin tak tercapai
Indonesia
•
17 Jul 2022

Serangan terhadap depot minyak di Timur Tengah bisa sebabkan hujan beracun
Indonesia
•
12 Mar 2026

UNRWA peringatkan adanya ancaman terhadap eksistensinya di tengah konflik di Gaza
Indonesia
•
08 Mar 2024

PLTN Zaporizhzhia kembali kehilangan saluran listrik eksternal utamanya
Indonesia
•
04 Sep 2022


Berita Terbaru

Menlu Saudi desak Selat Hormuz kembali normal tanpa biaya dan pembatasan
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran sebut 5.000 orang tewas dalam serangan AS-Israel, ratusan perempuan dan anak jadi korban
Indonesia
•
28 Sep 2026

Iran ungkap senjata strategis disimpan di bawah tanah, apa yang disembunyikan Teheran?
Indonesia
•
28 Sep 2026

Palestina peringatkan konflik bisa berubah menjadi perang agama akibat eskalasi di Al-Aqsa
Indonesia
•
28 Sep 2026
