Iran peringatkan Israel: Hentikan serangan di Lebanon atau hadapi respons keras

Foto yang diabadikan pada 12 Juni 2026 ini memperlihatkan seorang warga sedang memeriksa bangunan-bangunan yang rusak akibat serangan udara Israel baru-baru ini di Tyre, Lebanon. (Xinhua/Ali Hashisho)

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Iran pada Selasa (16/6) memperingatkan bahwa jika Israel tidak menghentikan "tindakan jahat" yang dilakukannya di Lebanon selatan, maka Israel harus bersiap menghadapi respons "keras" dari angkatan bersenjata Iran.

Dalam sebuah pernyataan resmi, komando militer utama Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menyatakan bahwa sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan berakhirnya perang, tentara Israel telah melanggar gencatan senjata di Lebanon selatan sebanyak 84 kali, dan masih terus melakukan "kejahatan serta pembunuhan terhadap rakyat Lebanon yang tertindas."

Iran, AS, dan Pakistan pada Senin (15/6) dini hari mengumumkan finalisasi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri perang di semua front di kawasan Asia Barat, termasuk Lebanon.

Iran dan AS dijadwalkan untuk secara resmi menandatangani MoU tersebut di Swiss pada Jumat (19/6).

Saat berbicara dalam sebuah pertemuan dengan para diplomat asing di Teheran pada Selasa, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menggambarkan berakhirnya perang di Lebanon sebagai bagian yang "tak terpisahkan" dari kesepakatan damai Iran-AS, menyatakan bahwa menurut pandangan Teheran, kedua pihak dalam kesepakatan itu adalah AS dan Israel di satu sisi, serta Iran dan Hizbullah di sisi lain.

"Berakhirnya perang juga mencakup berakhirnya pendudukan (Israel). Berakhirnya perang tidak akan lengkap tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah-wilayah (Lebanon) yang mereka duduki dalam perang ini," katanya.

Araghchi menyampaikan pernyataan tersebut setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam sebuah konferensi pers pada Senin bahwa militer Israel akan tetap berada di "zona-zona keamanan" yang dikuasainya di Lebanon, Suriah, dan Jalur Gaza selama diperlukan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait