
Paranoia politik rusak momentum hubungan China-AS

Foto yang diabadikan pada 4 Agustus 2022 ini menunjukkan Gedung Putih dan rambu berhenti di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Liu Jie)
Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan dan individu China dengan dalih melindungi hak asasi manusia dan keamanan nasional AS.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah politisi Amerika Serikat (AS) tampaknya disibukkan dengan delusi tentang China baru-baru ini, menyebarkan ketakutan melalui pernyataan-pernyataan aneh dan irasional yang bertujuan untuk menjelek-jelekkan China dengan alasan melindungi keamanan nasional mereka.Seorang mantan penasihat umum di Badan Keamanan Nasional (National Security Agency/NSA) AS dikutip dalam laporan Wall Street Journal pada Senin (25/12) mengatakan "China dapat memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membuat dokumen tentang hampir setiap warga Amerika... dan kita menghadapi potensi ancaman keamanan nasional yang menakutkan." Pernyataan seperti itu tidak berdasar, sensasional, dan sama sekali tidak bertanggung jawab.Pernyataan yang ditujukan untuk merugikan China ini dilaporkan tidak lama setelah klaim yang lebih tidak masuk akal dari Senator AS Rick Scott, yang dalam sebuah surat kepada Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo pada 6 Desember meminta investigasi atas "ancaman" yang ditimbulkan oleh impor bawang putih dari China terhadap keamanan nasional AS. Klaim ini bertentangan dengan akal sehat dan mengungkap paranoia politik beberapa pejabat AS dalam hal yang berhubungan dengan China.Isu keamanan nasional telah disalahgunakan oleh AS untuk menyasar China dalam beberapa tahun terakhir. Melalui rumor dan pemikiran delusional, tanpa dukungan bukti yang kuat, AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan dan individu China dengan dalih melindungi hak asasi manusia dan keamanan nasional AS.Laporan terbaru dari Wall Street Journal menjadi contoh lainnya, karena sering menggunakan kata-kata seperti "dapat" dan "percaya", yang menegaskan sifat spekulatifnya, saat menggambarkan "ancaman" atau praktik-praktik China.Faktanya, AS mewakili kerajaan peretasan terbesar di dunia dan merupakan pencuri siber global terkemuka. Pemerintah AS melakukan tindakan spionase siber yang berskala besar, sistematis, dan tanpa pandang bulu terhadap negara lain.Badan-badan pemerintah China menghadapi banyak serangan siber setiap hari, yang sebagian besar berasal dari sumber-sumber di Amerika Serikat. Sebuah investigasi yang dilakukan oleh China pada September 2022 mengungkap bahwa NSA AS berada di balik "ribuan serangan siber" terhadap sebuah universitas di China.Tuduhan tidak berdasar yang didasarkan pada delusi politik akan merusak momentum positif hubungan China-AS. Tuduhan itu hanya akan menggagalkan upaya untuk mengembangkan pemahaman yang baik tentang China di kalangan masyarakat AS dan merusak prospek untuk mencapai pertukaran antarmasyarakat yang bermanfaat di antara kedua negara.Mengingat 2024 akan menandai 45 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara, yang terbaik bagi beberapa politisi AS adalah menyingkirkan pemikiran paranoid mereka dan menggunakan akal sehat alih-alih delusi saat menangani agenda-agenda terkait China.Pendekatan yang rasional akan baik bagi kedua negara dan dunia secara keseluruhan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China dan Laos tekankan pentingnya persahabatan dua negara tetangga
Indonesia
•
02 Dec 2022

Kremlin sebut tindakan Barat akan pengaruhi pembaruan doktrin nuklir Rusia
Indonesia
•
06 Sep 2024

Utang nasional AS tembus 34 triliun untuk pertama kalinya
Indonesia
•
04 Jan 2024

COVID-19 – Varian baru Omicron picu pembatasan global
Indonesia
•
27 Nov 2021


Berita Terbaru

Laporan NYT sebut Iran sebar ranjau di Selat Hormuz, Teheran bantah
Indonesia
•
13 Mar 2026

Kanada akan bangun angkatan bersenjata di Arktik
Indonesia
•
13 Mar 2026

Lebanon sebut korban tewas akibat serangan Israel capai 773 jiwa sejak 2 Maret, termasuk 103 anak-anak
Indonesia
•
14 Mar 2026

Korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon naik jadi 634 jiwa, pengungsi capai 816.000 orang
Indonesia
•
12 Mar 2026
