
IPA Convex 2026 soroti penguatan ketahanan energi nasional di tengah geopolitik global

Para pengunjung IPA Convex 2025 mendengarkan pemaparan tentang keberlanjutan industri migas di Indonesia pada 20 Mei 2025. (Indonesia Window)
Tantangan industri hulu migas saat ini tidak hanya terletak pada aspek teknis, tetapi juga pada kebutuhan investasi dan tingginya risiko eksplorasi.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Kondisi geopolitik global saat ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia, khususnya dalam mencapai ketahanan energi nasional. Apalagi, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan energi domestiknya.
Di tengah situasi tersebut, Indonesian Petroleum Association (IPA) yang merupakan asosiasi para pelaku sektor hulu migas di Indonesia, kembali menyelenggarakan konferensi dan pameran tahunan yang dikenal dengan IPA Convention and Exhibition (IPA Convex).
Tahun ini, IPA Convex diadakan untuk ke-50 kalinya dengan mengusung tema ‘50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth.’ Acara ini akan berlangsung pada Rabu-Jumat, 20–22 Mei 2026, di ICE BSD City, Tangerang.
“Situasi global saat ini menunjukkan rantai pasok energi sangat rentan terhadap gejolak geopolitik. Indonesia perlu mengantisipasi hal ini dengan memperkuat produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada impor,” ujar Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, dalam acara Press Confrence - Road to IPA Convex 2026, di Jakarta, Selasa (12/5).
Dinamika geopolitik global saat ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan produksi migas dalam negeri, ujarnya.
Menurut dia, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi migas nasional. Lebih dari 50 persen cekungan migas di Indonesia saat ini belum dieksplorasi, meskipun sebagian besar berada di wilayah timur Indonesia dan laut dalam yang membutuhkan teknologi tinggi serta investasi besar.
Marjolijn menilai tantangan industri hulu migas saat ini tidak hanya terletak pada aspek teknis, tetapi juga pada kebutuhan investasi dan tingginya risiko eksplorasi. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah yang konsisten, kepastian hukum, percepatan perizinan, serta skema fiskal yang kompetitif menjadi kunci utama dalam menarik investor.
“Penemuan cadangan baru menjadi kunci. Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan. Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Panitia IPA Convex 2026, Teresita Listyani, menambahkan bahwa penyelenggaraan IPA Convex ke-50 tahun ini tidak hanya menjadi refleksi perjalanan panjang industri hulu migas nasional, tetapi juga menjadi forum strategis untuk membahas masa depan ketahanan energi Indonesia.
“IPA Convex menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, investor, akademisi, hingga generasi muda dalam mendukung ketahanan energi nasional dan menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif,” ujar Teresita.
IPA Convex 2026, lanjutnya, akan menghadirkan lebih dari 200 exhibitor dan lebih dari 200 technical presentation yang mencakup berbagai isu strategis di sektor energi, mulai dari eksplorasi, teknologi, transisi energi, hingga investasi hulu migas.
Rangkaian acara utama akan dibuka pada Rabu, 20 Mei 2026, melalui seremoni peresmian yang direncanakan dipimpin oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Beragam agenda inagurasi yang ada meliputi penandatanganan sejumlah kontrak strategis, laporan Menteri ESDM, serta kunjungan VIP ke area pameran.
IPA Convex 2026 juga menghadirkan berbagai forum strategis seperti plenary session, concurrent session, dan Innovative Energy Solutions yang yang mempertemukan pemerintah, perusahaan energi global, investor, hingga penyedia teknologi untuk membahas solusi menghadapi tantangan energi masa depan.
“Kami ingin IPA Convex menjadi platform yang menghasilkan kolaborasi nyata dan mendorong percepatan investasi, khususnya di sektor hulu migas Indonesia yang masih memiliki potensi sangat besar,” tambah Teresita.
Untuk memperkuat keterlibatan media pada IPA Convex 2026, dia menambahkan, panitia tahun ini mengadakan Journalist Writing Competition yang berlangsung sejak Januari hingga 21 Mei 2026 mendatang.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Produksi baja China merosot pada 2021
Indonesia
•
11 Jan 2022

Menko Airlangga tegaskan peran strategis sektor swasta dalam percepatan proses aksesi Indonesia ke OECD
Indonesia
•
20 Jan 2026

Potensi lahan plasma tebu luar Jawa 66.000 hektare
Indonesia
•
22 Sep 2019

Minyak naik di Asia, permintaan meningkat meski kasus Omicron melonjak
Indonesia
•
30 Dec 2021


Berita Terbaru

Whoosh layani lebih dari 90.000 penumpang selama libur panjang pekan lalu
Indonesia
•
19 May 2026

Feature – Teknologi dan peralatan canggih asal Jiangxi China rambah pasar Indonesia dan Asia Tenggara
Indonesia
•
19 May 2026

Mobil Chery Q resmi diluncurkan di Jakarta, tawarkan fitur pengecasan daya cepat
Indonesia
•
19 May 2026

OPEC turunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026
Indonesia
•
14 May 2026
