Harga LPG nonsubsidi naik berlipat, gas metana dalam CubiTan bisa jadi solusi

Foto: BRIN

CubiTan menyimpan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF), berpotensi menjadi pensubstitusi tabung gas melon.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kilogram dan 5,5 kilogram naik signifikan mulai 18 April 2026.

Harga LPG ukuran 12 kg naik dari 192.000 rupiah menjadi 228.000 rupiah, sementara LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg naik dari 90.000 rupiah menjadi 107.000 rupiah per tabung.

Saat harga energi mencekik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan ‘CubiTan’, yakni inovasi sistem penyimpanan gas metana berbasis Metal-Organic Frameworks (MOF) sebagai pensubstitusi tabung gas LPG ukuran 3 kg.

Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Canggih Setya Budi, menjelaskan, CubiTan merupakan hasil kolaborasi internasional dengan Yachiyo Engineering dan Atomis dari Jepang.

Sistem ini memanfaatkan material MOF sebagai media penyimpanan gas, memiliki permukaan sangat tinggi dan kemampuan adsorpsi yang unggul, serta aman dalam operasional.

“CubiTan ini merupakan sistem gas yang terbuat dari High-Pressure Gas Cylinder Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP). Di dalamnya terdapat gas adsorben MOF.  Dilengkapi pula dengan sistem komunikasi ACNWI, sensor temperatur, sensor tekanan (pressure shock), serta wireless,” ujarnya pada ‘Workshop on 2D Functional Materials for Energy, Environment, and Health Applications’ yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (15/4), dikutip dari situs jejaring BRIN.

Canggih menjelaskan, CubiTan memiliki keunggulan dari tabung ‘melon’ LPG konvensional biasa. 

Berat tabung CubiTan hanya sekitar 11,7 kg, jauh lebih ringan dibandingkan tabung konvensional yang mencapai 30,5 kg dan penyimpanan gasnya tetap kompetitif. CubiTan juga dapat dioperasikan pada tekanan yang lebih rendah, sehingga meningkatkan aspek keselamatan dalam penggunaannya.

“Saat berkunjung ke laboratorium BRIN di Serpong, Prof. Susumu Kitagawa turut melakukan uji coba penggunaan CubiTan untuk menyalakan kompor, dan hasilnya menunjukkan performa yang tidak kalah dibandingkan dengan penggunaan tabung LPG konvensional yang umum digunakan,” ungkapnya.

Canggih mengungkapkan, saat ini sistem penyimpanan CubiTan masih beroperasi pada tekanan tinggi, yakni sekitar 200 bar. Untuk mengatasi hal tersebut, dia bersama timnya  tengah berupaya menurunkan tekanan operasional secara bertahap.

“Saat ini tekanan pada sistem penyimpanan masih berada di 200 bar, kami sudah mencoba menurunkannya ke 80 hingga 60 bar. Tantangan berikutnya adalah mencapai tekanan sekitar 15 bar yang setara dengan kondisi penggunaan saat ini di masyarakat,” jelasnya.

Canggih menambahkan, infrastruktur pengisian (mother station) saat ini juga masih menggunakan tekanan tinggi hingga 200 bar. Hal ini menuntut penggunaan material tabung dengan kekuatan mekanik tinggi, seperti CFRP yang mampu menahan tekanan hingga 700 bar. Namun teknologi ini relatif mahal.

“Karena masih menggunakan tekanan tinggi, sistem pengisian membutuhkan material dengan kekuatan mekanik tinggi seperti CFRP. Secara teknis material ini sangat kuat, tetapi dari sisi biaya masih cukup mahal,” ujarnya.

Tantangan utama dalam pengembangan CubiTan adalah menghadirkan material MOF yang mampu bekerja optimal pada tekanan rendah. Dengan demikian, sistem ini diharapkan dapat menggunakan tabung yang telah di gunakan oleh masyarakat, seperti tabung melon LPG konvensional.

“Untuk menurunkan tekanan operasional, dibutuhkan MOF yang optimal pada tekanan rendah. Harapannya, kita bisa memanfaatkan tabung eksisting seperti LPG atau tabung CNG. Jika tetap di tekanan tinggi, maka diperlukan MOF dengan kekuatan mekanik yang sangat baik,” tambahnya.

Canggih juga menyebutkan, penggunaan MOF dalam sistem CubiTan berpotensi meningkatkan performa penyimpanan gas 1,5 hingga 2 kali dibandingkan tabung konvensional saat ini.

Peta jalan pengembangan BRIN menargetkan dalam tiga tahun ke depan teknologi CubiTan dapat mencapai tahap purwarupa prakomersial.

“Fokus utamanya adalah untuk penggunaan rumah tangga serta distribusi energi di kawasan perumahan. Target kami dalam tiga tahun ke depan adalah menghadirkan purwarupa prakomersial untuk penggunaan rumah tangga dan distribusi gas di sektor perumahan,” kata Canggih.

Lebih jauh, pengembangan teknologi ini juga diharapkan memberikan dampak luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dari sisi global, BRIN telah memperkuat kolaborasi dengan Kyoto University melalui skema Sister Lab, termasuk keterlibatan Prof. Susumu Kitagawa, yang merupakan pemenang Nobel Kimia 2025 .

“Kami juga telah menyelenggarakan kegiatan internasional seperti Nobel Lecture yang menghadirkan Prof. Susumu Kitagawa. Ini membuka peluang kolaborasi kelas dunia dengan para ilmuwan terkemuka,” ungkapnya.

Di tingkat nasional, ujarnya, inovasi CubiTan dinilai berpotensi menjadi solusi strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Selain itu, teknologi ini juga dapat berkontribusi dalam menekan beban subsidi energi.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait