
Hadapi penyakit langka, kawasan Asia-Pasifik luncurkan aliansi genomik

Orang-orang berjalan melewati papan penanda bertuliskan 'Final sale' di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 26 Desember 2022. (Xinhua/Zhu Wei)
Teknologi genetika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mendorong transformasi sistem layanan kesehatan di bidang penyakit langka.
Kuala Lumpur, Malaysia (Xinhua/Indonesia Window) – Aliansi Penyakit Langka Proyek Genom Manusia II untuk Kawasan Asia-Pasifik (Human Genome Project II Rare Disease Alliance of the Asia-Pacific Region/HGP2 RaDiAnce-APAC) diluncurkan di Malaysia pada Ahad (10/5) guna memajukan kolaborasi regional dalam penanganan penyakit langka.
Pertemuan peluncuran tersebut mempertemukan para pakar klinis, peneliti di bidang genomik, serta perwakilan dari sektor kesehatan masyarakat dan kebijakan dari 10 negara Asia-Pasifik, termasuk Malaysia, Vietnam, Thailand, Pakistan, Indonesia, Nepal, China, Filipina, Kamboja, dan India.
Aliansi yang diprakarsai bersama oleh BGI Group dari China dan para mitra regional dari kawasan Asia-Pasifik tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama regional dalam diagnosis penyakit langka, penelitian genomik, pengembangan kapasitas, dan respons kesehatan masyarakat, sekaligus mengatasi kesenjangan yang masih ada dalam kapasitas diagnosis, akses yang tidak merata ke pengobatan presisi, serta standar dan pertukaran pengalaman yang masih terfragmentasi di kawasan Asia-Pasifik.
Dalam acara tersebut, para anggota aliansi menandatangani Deklarasi Gabungan Inisiatif HGP2 RaDiAnce-APAC, yang menegaskan kembali komitmen bersama mereka untuk memajukan kolaborasi regional dalam penanganan penyakit langka.
Nor Fariza Binti Ngah, deputi direktur jenderal kesehatan (penelitian dan dukungan teknis) di Kementerian Kesehatan Malaysia, mengatakan bahwa penguatan kerja sama regional terkait penyakit langka di kawasan Asia-Pasifik sangatlah penting.
Zilfalil Bin Alwi, profesor genetika medis sekaligus ahli genetika klinis dan konsultan pediatri senior di Universiti Sains Malaysia, mengatakan bahwa keberagaman dan inklusivitas aliansi tersebut menunjukkan pentingnya inisiatif tersebut.
Hou Yong, manajer umum di BGI Genomics, yang merupakan anak perusahaan BGI Group, menuturkan bahwa HGP2 RaDiAnce-APAC akan membantu memajukan standardisasi, transformasi cerdas, dan aksesibilitas yang setara dalam diagnosis serta pengobatan penyakit langka di kawasan Asia-Pasifik.
Thong Meow Keong, profesor di Universiti Tunku Abdul Rahman sekaligus visiting consultant ahli genetika klinis di University Malaya Medical Centre, mengatakan bahwa kawasan Asia-Pasifik sedang memajukan HGP2, berfokus pada pengembangan diagnosis penyakit langka, teknologi genetika, dan kesehatan masyarakat presisi.
Dengan jutaan orang di seluruh dunia yang terdampak penyakit langka, dia menyampaikan harapannya bahwa teknologi genetika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan mendorong transformasi sistem layanan kesehatan di bidang penyakit langka.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

RD Kongo peringatkan wabah ebola baru miliki risiko penyebaran dan kematian yang tinggi
Indonesia
•
17 May 2026

11 orang hilang dalam hujan badai di Guangdong, China selatan
Indonesia
•
23 Apr 2024

Jumlah korban tewas di Gaza naik jadi 37.877 orang
Indonesia
•
02 Jul 2024

Israel sebut telah kuasai 40 persen wilayah Gaza City
Indonesia
•
07 Sep 2025


Berita Terbaru

Sejuk luar dalam! Gelombang Panas Dorong Wisatawan Kunjungi Gua Karst di China
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – 41 tahun berlalu, Xi Jinping masih ingat rumah sahabatnya di Amerika: Kisah diplomasi persahabatan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Bukan sekadar menulis elok, kaligrafi China ajarkan kesabaran dan ketenangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Feature – Buku sejarah mulai ditinggalkan? Begini cara kreator membawanya ke media sosial
Indonesia
•
12 Aug 2026
