
Palang Merah Internasional sebut gencatan senjata Gaza penting untuk cegah kehancuran regional baru

Foto yang diabadikan pada 25 Februari 2025 ini menunjukkan suasana di salah satu kamp pengungsi di area permukiman Al-Shujaiya, Gaza City. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Gencatan senjata telah menyelamatkan banyak nyawa di Gaza dan memberikan secercah harapan di tengah penderitaan yang luar biasa, serta sangat penting untuk mencegah wilayah itu kembali terpuruk dalam keputusasaan.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Runtuhnya kesepakatan gencatan senjata Gaza dapat menyebabkan kehancuran baru di wilayah tersebut, kata Komite Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) memperingatkan pada Ahad (2/3).Gencatan senjata tersebut telah "menyelamatkan banyak nyawa dan memberikan secercah harapan di tengah penderitaan yang luar biasa" serta "sangat penting untuk mencegah wilayah itu kembali terpuruk dalam keputusasaan," ungkap Presiden ICRC Mirjana Spoljaric dalam sebuah pernyataan."Sebagai mediator kemanusiaan yang bersikap netral, ICRC telah bekerja selama berpekan-pekan untuk memajukan gencatan senjata dengan melaksanakan pembebasan yang aman dan krusial atas permintaan pihak-pihak terkait," ujarnya, menyuarakan komitmen teguh ICRC untuk memfasilitasi kembalinya para sandera Israel dan tahanan Palestina dengan aman.
Keluarga Karam Haloub menyantap makanan di Beit Lahia, Jalur Gaza utara, pada 3 Maret 2025. Karam Haloub (39) bersikeras tinggal bersama istri dan lima anaknya di rumah mereka sendiri di Kota Beit Lahia selama 14 bulan pertama sejak pecahnya konflik antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023. Namun, keluarga tersebut terpaksa mengungsi saat operasi militer Israel diluncurkan pada Desember 2024, dan harus tinggal di sebuah tenda di Gaza City. Mereka kembali ke Kota Beit Lahia menyusul deklarasi gencatan senjata Gaza, tetapi mendapati tempat tinggal mereka hancur akibat serangan Israel. Kini, keluarga tersebut harus bertahan hidup di tenda sementara di samping reruntuhan rumah mereka di tengah kondisi yang sulit. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Erdogan: Turki cegah 100 juta ton emisi gas rumah kaca setiap tahun
Indonesia
•
18 Jun 2022

Hamas bebaskan 8 sandera, Israel lanjutkan pembebasan tawanan usai sempat menunda
Indonesia
•
02 Feb 2025

Biden klarifikasi dirinya tak anggap pendukung Trump sebagai ancaman
Indonesia
•
04 Sep 2022

Trump ingin AS ambil alih kepemilikan Jalur Gaza
Indonesia
•
06 Feb 2025


Berita Terbaru

Amerika Serikat terus menerus plinplan, Menlu Iran tak jamin ada perdamaian
Indonesia
•
30 May 2026

Belum ada kesepakatan yang difinalisasi dengan AS, Iran tegaskan hak kelola Selat Hormuz
Indonesia
•
30 May 2026

Hakim AS perintahkan nama Trump dihapus dari Kennedy Center
Indonesia
•
30 May 2026

Kekerasan seksual terkait konflik meningkat tajam di seluruh dunia pada 2025
Indonesia
•
30 May 2026
