
Gelombang panas bisa memicu kecemasan hingga depresi pada anak, ini temuan peneliti

Anak-anak berlarian di antara air mancur di tengah gelombang panas di Warsawa, Polandia, pada 4 Agustus 2026. (Xinhua/Jaap Arriens)
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Kenaikan suhu dan gelombang panas berkaitan dengan memburuknya kesehatan mental pada anak-anak dan remaja, ungkap sebuah tinjauan baru yang dipimpin peneliti Australia.
Studi tersebut, yang telah diterbitkan di dalam International Journal of Epidemiology, menemukan bahwa dampak buruk terhadap kesehatan mental meningkat hampir 1 persen pada anak-anak dengan setiap kenaikan suhu harian sebesar 1 derajat Celsius, papar sebuah pernyataan yang dirilis pada Kamis (6/8) oleh Universitas Flinders Australia.
Dengan menganalisis data dari 23 studi global yang meneliti hubungan antara suhu, gelombang panas, dan kesehatan mental, tinjauan itu menemukan bahwa anak-anak berusia lima hingga 18 tahun merupakan kelompok yang paling rentan, dengan risiko dampak buruk terhadap kesehatan mental meningkat sebesar 25 persen selama gelombang panas dan sebesar 1,5 persen ketika terpapar suhu tinggi.
Lektor Kepala Jacqueline Stephens, seorang epidemiolog dari Universitas Flinders sekaligus salah satu penulis dalam studi tersebut, mengatakan bahwa iklim mengakibatkan suhu tinggi dan gelombang panas yang makin sering terjadi dan makin parah di Australia dan di seluruh dunia, yang menimbulkan peningkatan risiko kesehatan masyarakat, khususnya pada anak-anak dan remaja.
Anak-anak sangat rentan karena suhu tinggi dapat mengganggu tidur, aktivitas luar ruangan, pendidikan, dan rekreasi, sementara stres terkait suhu panas pada orang tua dan keluarga juga dapat memengaruhi kesejahteraan anak-anak, kata Stephens.
Corey Bradshaw, seorang profesor di Universitas Flinders yang juga salah satu penulis dalam studi ini, mengatakan pemodelan itu menunjukkan bahwa suhu tinggi dan gelombang panas menyebabkan peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat, serta angka kasus kecemasan, depresi, dan percobaan bunuh diri.
Fakta ini mendukung perlunya pengintegrasian kesehatan mental ke dalam upaya adaptasi iklim dan pengembangan intervensi tertarget untuk anak-anak dan remaja.
Para peneliti mengatakan respons praktis bisa mencakup ruang kelas yang lebih sejuk, ventilasi yang lebih baik, dan area luar ruangan yang teduh.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Seniman dari 40 negara ikut lomba kartun Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Indonesia
•
23 Dec 2023

NYP: Pengacara peringatkan dampak kereta tergelincir di Ohio picu "ledakan kanker"
Indonesia
•
24 Feb 2023

Saudi luncurkan “Manaratul Haramain” untuk belajar ilmu Islam
Indonesia
•
02 May 2020

Feature – Pengobatan tradisional China solusi kesehatan mental di zaman modern
Indonesia
•
14 Mar 2026


Berita Terbaru

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Feature – Paradoks media sosial di Indonesia: Buka jalan keadilan, juga picu perundungan
Indonesia
•
22 Sep 2026

Festival pertengahan musim gugur hadir di Batam, ratusan orang nikmati perpaduan budaya China-Indonesia
Indonesia
•
21 Sep 2026

Wawancara – Di tengah kesibukan, orang tua tetap harus hadir untuk anak
Indonesia
•
20 Sep 2026
