G20 sepakati peran penting ‘biofuel’ untuk energi bersih

G20 sepakati peran penting ‘biofuel’ untuk energi bersih
Ilustrasi. Pertemuan Menteri Energi negara-negara G20 (20 besar ekonomi dunia) menyepakati komunike bersama dan dokumen 'Circular Carbon Economy' (CCE) Platform. (Chokniti Khongchum from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Pertemuan Menteri Energi negara-negara G20 (20 besar ekonomi dunia) menyepakati komunike bersama dan dokumen Circular Carbon Economy (CCE) Platform.

Dalam komunike bersama, para Menteri Energi G20 mengakui bahwa krisis saat ini, selain berdampak langsung terhadap kesehatan, ekonomi, dan sosial, telah menyebabkan destabilisasi pasar energi global, demikian keterangan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang diterima di Jakarta, Rabu.

Para menteri juga mencatat adanya efek tidak proporsional yang ditimbulkan oleh pandemik terhadap masyarakat dan komunitas yang paling rentan, serta menggarisbawahi perlunya memastikan bahwa upaya pemulihan sektor energi tidak meninggalkan siapa pun.

Karenanya, para Menteri Energi G20 sepakat pentingnya kerja sama internasional dalam memastikan ketahanan sistem energi yang menguntungkan seluruh pihak.

“Kami menekankan bahwa tantangan langsung yang ditimbulkan oleh pandemik tidak menyurutkan tekad kami untuk memajukan upaya dengan mengeksplorasi berbagai pilihan dan memanfaatkan beragam teknologi dan bahan bakar sesuai dengan konteks nasional guna memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terputus untuk mencapai pertumbuhan ekonomi,” demikian butir keempat Komunike Bersama tersebut.

Sementara itu, pada dokumen CCE Platform, Menteri Energi G20 sepakat bahwa biofuel (bahan bakar ramah lingkungan) adalah salah satu komponen penting untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) melalui teknologi dan inovasi (element reduce) serta menetralkan emisi karbon melalui proses alami dan dekomposisi (element recycle).

Terkait pemanfaatan biofuel, Indonesia tengah melakukan upaya membangun kemandirian dan kedaulatan energi nasional dengan mendorong peningkatan pemanfaatan biofuel.

Salah satu inovasi yang berhasil dilakukan adalah implementasi B30 (biodiesel dengan campuran 30 persen) di sektor transportasi, yang diperkirakan dapat menurunkan emisi sebesar 16,9 juta ton CO2e (metrik ton karbondioksida).

“Program pemanfaatan biodiesel ini menjadi bentuk nyata dari partisipasi aktif Indonesia dalam aksi penurunan emisi GRK global,” ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

Selain itu, Indonesia juga telah menemukan katalis yang efektif dalam proses produksi fraksi (jenis bentukan) minyak bumi dengan bahan bakar minyak sawit atau green fuels di kilang Pertamina.

Biofuel bersama hidrogen diyakini dapat memainkan peran unik dalam mempercepat transisi energi menuju sistem energi yang lebih bersih di masa depan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Kami juga mencatat peran lintas sektor bioenergi dan biofuel di antara keempat elemen dalam CCE,” sebagaimana ditegaskan dalam komunike Menteri Energi G20.

CCE Platform memiliki 4 elemen.

Elemen pertama adalah reduce, yakni upaya menurunkan emisi GRK dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi.

Elemen kedua adalah reuse, yaitu penggunaan kembali emisi karbon dan menjadikannya bahan baku industri.

Elemen ketiga adalah recycle, yaitu proses menetralkan emisi karbon melalui proses alami dan dekomposisi.

Elemen yang keempat adalah remove, yaitu menghapus emisi dari atmosfer serta industri berat melalui penangkapan dan penyimpanan karbon.

Menteri-menteri Energi G20 juga sepakat untuk mendorong transisi menuju energi bersih dengan berbagai pilihan, teknologi dan bahan bakar yang lebih luas sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing negara.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here