Fokus Berita – Serangan terhadap Iran cerminkan keretakan Transatlantik, ancam ekonomi Eropa

Orang-orang memegang sebuah poster dalam aksi unjuk rasa untuk menentang serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran di Parliament Square di pusat kota London, Inggris, pada 28 Februari 2026. (Xinhua/Li Ying)

London/Brussel, Inggris/Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengkritik Inggris dan Spanyol karena menolak mendukung serangan AS-Israel terhadap Iran. Ini memperlihatkan semakin dalamnya keretakan di dalam aliansi transatlantik.

Keretakan itu kian melebar pada Selasa (3/3) setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan operasi militer tersebut dilakukan "di luar hukum internasional" dan tidak dapat disetujui oleh Prancis, meskipun Washington menekan sekutu-sekutu Eropa untuk menunjukkan solidaritas.

Kesenjangan Transatlantik

Dibandingkan dengan koordinasi cepatnya saat konflik Rusia-Ukraina pecah, reaksi Eropa kali ini tampak sangat berhati-hati, tidak merata, dan dalam beberapa kasus, secara terbuka bersifat kritis.

Bahkan di berbagai ibu kota negara-negara Eropa yang memiliki kekhawatiran sama tentang kemampuan rudal dan drone Iran, banyak yang berhati-hati untuk menekankan pentingnya "menahan diri," "berdiplomasi," dan melindungi warga sipil, alih-alih mendukung kampanye militer itu.

Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer telah menetapkan batasan antara kerja sama defensif terbatas dan partisipasi ofensif, dengan mengatakan kepada Parlemen Inggris bahwa tugasnya adalah menilai kepentingan nasional Inggris dan menegaskan Inggris tidak akan bergabung dalam "serangan ofensif." Starmer segera mendapat teguran dari Trump, yang mengatakan bahwa hubungan Inggris-AS "jelas tidak seperti dulu."

Presiden AS itu melangkah lebih jauh lagi pada Selasa, dengan mengancam akan "memutuskan seluruh perdagangan dengan Spanyol" setelah Madrid menolak mengizinkan penggunaan pangkalan bersama untuk serangan terhadap Iran. Pemerintah Spanyol kemudian merespons bahwa pihaknya memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menanggulangi dampak potensial dari embargo perdagangan.

Adapun Jerman, Menteri Luar Negeri Johann Wadephul pada Senin (2/3) menegaskan bahwa Jerman tidak berniat untuk berpartisipasi dalam operasi militer melawan Iran.

Jerman, Prancis, dan Inggris telah menyatakan kesediaan untuk membela kepentingan dan sekutu mereka melalui "tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional," termasuk langkah-langkah yang ditujukan untuk memperlemah kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal dan drone. Namun dalam praktiknya, penekanannya lebih kepada pertahanan, alih-alih partisipasi dalam serangan.

PM Portugal Luis Montenegro juga menyerukan "penahanan diri maksimal" dan mengatakan bahwa posisi Lisbon sejalan dengan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Di Kroasia, Presiden Zoran Milanovic memperingatkan bahwa setiap penggunaan kekuatan secara sepihak yang melanggar hukum internasional adalah berbahaya, dan bahwa niat jelas dari intervensi militer tersebut adalah untuk mengubah pemerintahan Iran, yang dapat membawa konsekuensi menyakitkan dan berkepanjangan bagi warga Eropa, termasuk warga Kroasia.

Eskalasi tersebut, yang secara terbuka didukung secara politik dan militer oleh pemerintah AS, menetapkan "preseden serius" dalam hubungan internasional modern, kata Armin Krzalic, seorang pakar keamanan dari Bosnia dan Herzegovina.

Hal itu mencerminkan semakin terkikisnya hukum internasional dan melemahnya mekanisme multilateral, kata Krzalic, yang juga memperingatkan bahwa normalisasi tindakan militer sepihak dapat kian memecah belah tatanan internasional dan meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.

Dampak sosioekonomi

Bahkan meski tanpa keterlibatan militer langsung, Eropa turut merasakan dampak dari konflik tersebut melalui gangguan yang muncul di transportasi dan pasar energi.

Minyak mentah Brent (Brent crude), yang merupakan acuan harga minyak internasional, melonjak sekitar 9 persen hingga di atas 85 dolar AS per barel pada Selasa, level tertinggi sejak Juli 2024.

*1 dolar AS = 16.870 rupiah

Harian Prancis Le Monde menyebutkan bahwa lalu lintas kapal tanker di dekat Selat Hormuz hampir lumpuh. Harian itu juga memaparkan bahwa menurut sebuah grup pemilik kapal Prancis, puluhan kapal berbendera Prancis atau milik Prancis terjebak di Teluk tersebut.

Krisis ini telah menyebabkan risiko besar bagi keamanan energi global, yakni gangguan terhadap aliran minyak dan Gas Alam Cair (LNG) melalui Hormuz, jalur yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak global dan perdagangan LNG global, kata Simone Tagliapietra, seorang peneliti senior di wadah pemikir (think tank) Bruegel.

Guntram Wolff, seorang peneliti senior lainnya di Bruegel, mengatakan kenaikan harga energi akan menimbulkan guncangan perdagangan, mengikis daya beli, dan membebani pemulihan Eropa, sekaligus mendongkrak inflasi lebih tinggi lagi.

Di Jerman, dampak harga langsung terasa. Harga solar kembali naik tajam menyusul kenaikan di akhir pekan lalu, sementara para analis memperingatkan pergerakan harga pasar dapat jauh melebihi penurunan pasokan yang mendasar.

Arne Lohmann Rasmussen, kepala analis di perusahaan investasi Denmark Global Risk Management, mengatakan pasar mungkin meremehkan risiko penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.

Stephen Dover, kepala Franklin Templeton Institute, mengungkapkan biaya pengiriman kini meningkat dan asuransi menjadi pendorong utama, dengan beberapa laporan menyebutkan peningkatan biaya per perjalanan mencapai 50 persen.

Di Italia, industri bahan bakar sedang bersiap menghadapi tekanan berkepanjangan. Gianni Murano, presiden Unem, sebuah asosiasi yang mewakili perusahaan bahan bakar, mengatakan kepada media lokal bahwa harga solar naik 10 sen euro, atau 0,12 dolar AS, per liter, meningkat 18 persen. Murano memperingatkan bahwa durasi konflik akan menjadi penentu.

1 euro = 19.643 rupiah

Dia juga menyoroti kerentanan Italia terhadap gangguan pasokan LNG, mengingat impor LNG dari Qatar mencakup sekitar setengah dari impor LNG Italia. Sumber alternatif mungkin saja tersedia, "namun harganya akan naik," kata Murano.

Belanda menghadapi pukulan ganda berupa kenaikan harga dan rendahnya cadangan. Harga gas berjangka (gas futures) Belanda melonjak dan tingkat penyimpanan digambarkan sebagai yang terendah dalam sejarah. Rene Peters, seorang pakar energi di organisasi riset TNO, memperingatkan biaya pengisian kembali stok untuk musim dingin mendatang bisa menjadi mahal.

"Dampak limpahan dari konflik baru ini langsung terasa. Perusahaan pelayaran telah beralih dari Terusan Suez ke pengalihan kapal melalui seputar Tanjung Harapan. Ini akan mengganggu rantai pasokan," kata John Bryson, seorang profesor dari Universitas Birmingham.

"Segera terjadi peningkatan harga minyak dan gas. Bagi banyak negara, konflik ini akan memicu inflasi, yang menyebabkan inflasi harga yang cepat," lanjut Bryson.

Badan suaka Uni Eropa telah mengeluarkan beberapa proyeksi yang paling suram. Badan Uni Eropa untuk Suaka (European Union Agency for Asylum) memperingatkan bahwa bahkan destabilisasi parsial di Iran, yang memiliki populasi lebih dari 90 juta jiwa, dapat memicu pergerakan pengungsi besar-besaran dengan "skala yang belum pernah terjadi sebelumnya."

"Konflik yang berkepanjangan dapat memicu gelombang migrasi massal baru, yang mengalir dari Iran ke Turkiye, melalui Balkan, hingga ke perbatasan kita," kata Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban memperingatkan pada Selasa dalam sebuah unggahan di X.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait