Fokus Berita – Gencatan senjata sia-sia, Gaza digempur serangan udara Israel, sedikitnya 32 warga Palestina tewas

Warga Palestina memeriksa kerusakan pascaserangan udara Israel di Gaza City pada 31 Januari 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)

Gaza/Yerusalem, Palestina/Wilayah Palestina yang diduduki (Xinhua/Indonesia Window) – Sedikitnya 32 warga Palestina tewas dalam serangkaian serangan udara Israel di seluruh Jalur Gaza pada Jumat (30/1) malam hingga Sabtu (31/1) siang waktu setempat, demikian disampaikan sumber-sumber Palestina. Serangan tersebut menargetkan sebuah kantor polisi, apartemen permukiman, serta tenda-tenda pengungsian.

Serangan itu terjadi ketika Israel menyatakan bahwa tindakannya merupakan respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas, klaim yang dibantah Hamas sebagai "tidak benar dan menyesatkan."

Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil di Gaza, mengatakan kepada Xinhua bahwa serangan tunggal paling mematikan menghantam pusat kepolisian Sheikh Radwan yang berafiliasi dengan otoritas dalam negeri yang dikelola Hamas, di Gaza City bagian utara. Serangan tersebut menewaskan 14 orang dan melukai sejumlah lainnya, dengan beberapa korban dilaporkan dalam kondisi kritis.

Basal menambahkan bahwa banyak personel kepolisian berada di dalam fasilitas tersebut saat serangan terjadi, sehingga masih ada sejumlah orang yang dilaporkan hilang dan tertimbun reruntuhan.

Seorang sumber keamanan Palestina mengatakan kepada Xinhua bahwa para korban termasuk empat tahanan dan tiga polisi perempuan. Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan ekstensif pada lokasi kejadian serta rumah-rumah di sekitarnya.

Menurut Basal, drone Israel kemudian menargetkan sekelompok warga Palestina di kawasan permukiman al-Nasr, Gaza City barat, dengan sedikitnya satu rudal, yang menewaskan tiga orang.

Dalam insiden terpisah, serangan terhadap sebuah tenda pengungsian di wilayah Asdaa, Khan Younis utara, di Jalur Gaza bagian selatan, menewaskan tujuh anggota sebuah keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak, serta menyebabkan tiga orang lainnya terluka parah.

Saksi mata setempat mengatakan kepada Xinhua bahwa para korban berasal dari keluarga Abu Hadaied.

Basal juga menyebutkan bahwa lima orang, termasuk seorang perempuan dan dua anak, tewas ketika pesawat tempur Israel menargetkan sebuah gedung apartemen di kawasan al-Rimal, Gaza City barat.

Sementara itu, pesawat tempur Israel mengebom gedung administrasi kamp Ghaith, yang menampung puluhan pengungsi di wilayah Khan Younis, setelah sebelumnya memperingatkan para penghuni untuk mengungsi, sehingga memicu ketakutan dan kepanikan luas, menurut sumber-sumber setempat.

Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan kepada Xinhua bahwa lebih dari 30 orang terluka dalam serangan terbaru tersebut, dengan sebagian besar korban memerlukan tindakan operasi.

Menanggapi serangan itu, Hamas menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pengeboman yang terus berlangsung merupakan "kejahatan brutal dan pelanggaran terang-terangan serta berulang terhadap perjanjian gencatan senjata." Hamas menyerukan kepada negara-negara penjamin internasional untuk segera mengambil tindakan guna menghentikan apa yang disebutnya sebagai upaya merusak gencatan senjata dan memaksa Israel mematuhi kesepakatan tersebut.

Pasukan Pertahanan Israel (Israel Defense Forces/IDF) pada Sabtu menyatakan telah melancarkan serangan di seluruh Jalur Gaza, menargetkan "empat komandan dan militan lainnya", serta sebuah fasilitas penyimpanan senjata, lokasi produksi senjata, dan dua lokasi peluncuran milik Hamas di Jalur Gaza bagian tengah.

Dalam pernyataannya, IDF mengatakan serangan tersebut merupakan respons atas insiden pada Jumat, ketika delapan militan teridentifikasi keluar dari sebuah terowongan di Rafah bagian timur, yang dinilai sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata.

Hamas kemudian membantah klaim itu, menyebutnya "tidak benar dan menyesatkan", serta menuduh Israel membuat "tuduhan yang tidak berdasar dan lemah" yang mencerminkan pengabaian terhadap para mediator, negara-negara penjamin, dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses perdamaian yang lebih luas.

Hamas juga menyerukan kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengecam serangan tersebut, mengambil langkah konkret untuk menghentikannya, meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel, serta mengakhiri apa yang disebutnya sebagai "kebijakan impunitas" yang mendorong kekerasan dan kehancuran lebih lanjut.

Sehari sebelumnya, militer Israel mengumumkan penangkapan seorang komandan senior Batalion Rafah Timur Hamas dalam sebuah operasi di Rafah timur.

Dalam pernyataan itu disampaikan bahwa komandan tersebut ditangkap saat mencoba melarikan diri melalui terowongan, setelah bentrokan sebelumnya yang menewaskan tiga militan saat mereka keluar dari terowongan yang sama.

Disebutkan juga bahwa militer Israel, bersama badan keamanan dalam negeri Shin Bet, melanjutkan operasi di wilayah itu untuk melacak dan membunuh "teroris" lain yang melarikan diri.

Otoritas kesehatan Gaza pada Sabtu menyatakan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata, 509 warga Palestina telah tewas dan 1.409 lainnya terluka akibat tembakan Israel. Dengan demikian, total korban tewas sejak Oktober 2023 mencapai 71.769 orang, sementara 171.251 lainnya mengalami luka-luka.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait