Feature – Perjuangan petani garam di Cirebon hadapi perubahan iklim dan lonjakan biaya

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 12 Mei 2026 ini memperlihatkan tambak garam di Desa Rawaurip, Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat. (Xinhua/Veri Sanovri)

Produksi garam membutuhkan hari-hari kering yang panjang tanpa gangguan. Satu kali hujan deras saja dapat menghanyutkan hasil kerja selama berpekan-pekan.

 

Cirebon, Jawa Barat (Xinhua/Indonesia Window) – Di hamparan lahan datar nan terik di Cirebon, kota pelabuhan di Provinsi Jawa Barat, kehidupan tidak diukur oleh detak jam, melainkan oleh ritme matahari, angin, dan laut.

Selama beberapa generasi, keluarga seperti keluarga Ipin dan Raihan memanen garam dari tambak dangkal di sepanjang pesisir utara. Mata pencaharian mereka bergantung pada pengolahan sederhana namun melelahkan, yakni memanfaatkan sinar matahari yang terik untuk menguapkan air laut hingga membentuk gundukan-gundukan kristal. Jadwalnya sebagian besar ditentukan oleh alam, sehingga hanya menyisakan sedikit ruang bagi campur tangan manusia.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ritme yang dulu dapat diandalkan itu semakin sulit diprediksi. Penurunan hasil panen menguji ketahanan para petani lokal, yang mata pencahariannya bergantung pada kerja sama cuaca dan pasang surut laut yang berubah-ubah.

"Panen tahun lalu tidak terlalu besar," kata Ipin (38), seorang petani di Desa Rawaurip. "Saat itu terjadi musim kemarau basah, hujan turun saat kami membutuhkan matahari."

Waktu menjadi faktor yang sangat penting. Produksi garam membutuhkan hari-hari kering yang panjang tanpa gangguan. Satu kali hujan deras saja dapat menghanyutkan hasil kerja selama berpekan-pekan, ujar para petani setempat kepada Xinhua.

Selain hujan, kenaikan air pasang kini menjadi ancaman yang semakin besar bagi tambak-tambak di dataran rendah tersebut.

"Banjir rob bahkan lebih parah daripada hujan," kata Raihan (39), yang kembali dari Jakarta pada 2015 untuk bertani penuh waktu. "Kalau banjir rob datang, kami harus memulai semuanya dari awal lagi."

Oleh karena itu, para petani setempat terpaksa melakukan diversifikasi usaha. Pada musim hujan ketika produksi garam tidak mungkin dilakukan, Raihan menanam sayuran, cabai, dan jagung untuk menambah penghasilan.

"Kami harus serbabisa," ujarnya. "Alam yang menentukan jadwal kami, jadi kami harus beradaptasi."

Tekanan iklim juga diperparah oleh lonjakan biaya operasional.

Harga lembaran plastik yang sangat penting, bahan sekali pakai untuk tahap penguapan akhir, melonjak dari 2,2 juta rupiah menjadi 3 juta rupiah per batch.

Dengan margin yang semakin tipis, bahkan fluktuasi sekecil apa pun pada cuaca atau harga pasar dapat mendorong usaha keluarga ini ke ambang kebangkrutan.

Meski musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya menurut prakiraan pemerintah, para petani garam setempat menghadapi perubahan itu dengan tekad yang tak tergoyahkan.

"Setiap tahun selalu ada tantangannya," ujar Ipin sambil memandangi petak-petak penguapannya yang mulai berkilau diterpa cahaya fajar. "Tetapi garam adalah hidup kami, dan kami akan tetap memanennya, apa pun yang terjadi, meski hujan turun atau air pasang datang."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait