
Nafta langka, produsen makanan ringan terkemuka Jepang gunakan kemasan hitam-putih

Konsumen berbelanja beras di supermarket di Tokyo, Jepang, pada 21 Mei 2025. (Xinhua/Hu Xiaoge)
Nafta merupakan bahan baku penting bagi industri kimia, dan kelangkaannya di Jepang telah berdampak terhadap tahap hilir, menekan pasokan pelarut dan resin yang digunakan dalam tinta percetakan.
Tokyo, Jepang (Xinhua/Indonesia Window) – Produsen makanan ringan terkemuka Jepang, Calbee, akan mengubah sebagian kemasan produknya menjadi desain hitam-putih yang lebih sederhana akibat semakin terbatasnya pasokan nafta berbahan dasar minyak mentah yang dipicu konflik di Timur Tengah, demikian dilaporkan media lokal.
Kemasan dua warna sementara tersebut dijadwalkan mulai digunakan pada bulan ini dan akan mencakup sejumlah produk utama perusahaan itu, termasuk keripik kentangnya yang populer, lapor Kyodo News pada Senin (11/5).
Nafta merupakan bahan baku penting bagi industri kimia, dan kelangkaannya di Jepang telah berdampak terhadap tahap hilir, menekan pasokan pelarut dan resin yang digunakan dalam tinta percetakan.
Kemasan reguler Calbee biasanya menampilkan gambar-gambar cerah dengan latar belakang penuh warna seperti oranye atau kuning. Namun, pengadaan tinta cetak dan bahan-bahan lain yang tidak stabil memaksa perusahaan itu untuk mengadopsi desain yang lebih sederhana.
Meskipun Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya menyatakan bahwa negara tersebut berada di jalur yang benar untuk menjaga pasokan produk kimia berbahan dasar nafta yang cukup untuk bertahan hingga akhir tahun, setelah upaya untuk mendiversifikasi impor di luar kawasan Timur Tengah di tengah konflik regional yang masih berlangsung, kondisi nyata di pasar dan di seluruh industri tampaknya menunjukkan hal yang berbeda.
Menurut lembaga penyiaran publik NHK, sejumlah kelompok industri yang mewakili produsen makanan manis menerima banyak pertanyaan terkait kesulitan memperoleh tinta percetakan untuk kemasan.
Sebuah survei yang dirilis pada akhir April oleh asosiasi yang mewakili kalangan industri dan kelompok konsumen, sebagaimana dikutip Kyodo News, menemukan bahwa lebih dari 70 persen dari sekitar 100 perusahaan yang disurvei kemungkinan akan membebankan kenaikan biaya kepada konsumen apabila kekhawatiran soal pasokan nafta terus berlanjut.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Jaringan logistik China tangguh dengan pertumbuhan volume kargo yang stabil
Indonesia
•
04 Dec 2022

Survei: Harga properti residensial tumbuh di triwulan I-2022
Indonesia
•
18 May 2022

China janjikan dukungan untuk perkembangan ekonomi swasta
Indonesia
•
03 Jan 2024

Feature – Robot penyadap karet alam buatan China yang masuk pasar Indonesia
Indonesia
•
05 Mar 2025


Berita Terbaru

Libur panjang dongkrak penumpang Whoosh, tembus 126 ribu orang dalam sepekan
Indonesia
•
06 Jun 2026

China butuh 4 miliar butir kelapa per tahun, investor lirik Halmahera Utara
Indonesia
•
06 Jun 2026

Cadangan devisa Jepang anjlok Rp1.391 triliun dalam sebulan demi tahan penurunan yen
Indonesia
•
06 Jun 2026

Pelabuhan nol karbon Tianjin jadi inspirasi pengembangan infrastruktur maritim Indonesia
Indonesia
•
06 Jun 2026
