Feature – Pemuda Indonesia rasakan pesona budaya China di Ningxia

Foto dokumentasi ini menunjukkan sejumlah pengunjung di Museum Xixia Ningxia di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia di China barat laut. (Xinhua)

Yinchuan, China (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi Reyna Senna, seorang pemudi asal Indonesia, mencicipi pangsit China yang hangat dan lezat di sebuah desa di China barat laut merupakan pengalaman yang sangat baru, unik, dan tak terlupakan.

"Berkat Kamp Persahabatan Pemuda Internasional Ningxia ini, saya memiliki kesempatan untuk pertama kalinya menginap di sebuah rumah keluarga biasa di China, khususnya di daerah pedesaan, dan mengenal seperti apa kehidupan pedesaan di China. Ikut membuat pangsit dengan nenek di bawah punjung anggur dan pohon persik menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan," kata Reyna penuh rasa haru.

Puluhan pemuda asal Indonesia, Kanada, Georgia, dan negara-negara lain mengikuti kamp tersebut dan berkumpul di Daerah Otonom Etnis Hui Ningxia di China barat laut. Mereka secara langsung merasakan kehidupan warga di Ningxia, mengunjungi berbagai situs warisan budaya, mendatangi perkebunan beri Gouqi, dan menikmati pemandangan alam yang memukau di Ningxia.

Anggita Pramestya merupakan peserta lainnya yang berasal dari Indonesia. Bagi Anggita, yang paling mengesankan di Ningxia adalah kuliner lokalnya. Sebagai daerah otonom etnis Hui, yang dihuni banyak Muslim, kebanyakan makanan khas di Ningxia adalah halal.

Namun, Anggita mengaku lezatnya kuliner Ningxia berbeda dengan Indonesia. "Rasanya sedikit mirip dengan lada, tetapi tak pernah saya cicipi di Indonesia. Enak dan baru bagi saya," ujarnya.

Di atas perahu di Danau Situs Pariwisata Ekologis Shahu, ketua tim pemuda Indonesia Caezar Nirwana dengan gembira bercengkerama dengan para mitra lokal.

Sebagai mahasiswa yang telah menempuh pendidikan di China selama bertahun-tahun, Caezar, atau akrab dipanggil Wang Zhengguang oleh teman-teman Chinanya, lebih mengenal pembangunan dan keadaan sosial China.

"Dulu, saya lebih banyak hidup di kota-kota besar dan ramai di China, di mana gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi. Namun di Ningxia, suasananya berbeda. Saya menyaksikan kebudayaan lokal yang dinamis dan pemandangan alam yang menakjubkan," ujar Caezar.

Priscilla Kannitha Saputri juga mengaku terpukau dengan pemandangan di taman Shahu. Sambil mendengarkan kicauan burung di antara tumbuhan rami yang rimbun, dia mengambil segenggam pasir halus di tepi danau.

Priscilla mengatakan dirinya terpesona dengan pemandangan alam yang menenangkan di Ningxia.

Di Museum Xixia Ningxia, Reyna merenung di depan peninggalan senjata kuno yang dipamerkan, memikirkan adegan perang pedang yang pernah terjadi di Ningxia ribuan tahun silam.

Sambil memandang Pegunungan Helan di kejauhan dan peninggalan bangunan bersejarah, Reyna mengatakan sulit membayangkan betapa banyak kisah yang terjadi di sini serta "semua hal menarik dan misterius di dalamnya."

Reyna juga membawa pulang hadiah buatan tangannya sendiri dari Ningxia untuk ibunya, yaitu sebuah kantong pewangi herbal tradisional China.

"Saya memasukkan daun mugwort dan mentol ke dalamnya dan menjahitnya sendiri dengan tangan. Saya memilih warna biru karena biru adalah warna favorit ibu saya," tuturnya.

Kamp ini juga memberikan kesempatan bagi para peserta mancanegara untuk saling mengenal. Dalam pesta malam di daerah gurun Ningxia, Anggita mengenakan pakaian tradisional Indonesia dan menampilkan tarian rakyat, sambil belajar kesenian dari negara asal teman-temannya.

"Perjalanan di Ningxia singkat namun sepertinya menabur benih persahabatan di lubuk hati para pemuda," kata Caezar dalam sesi penutupan. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait