Feature: Menonton film bisa jadi terapi? Ini penjelasan praktisi kesehatan mental

Ilustrasi. (Geoffrey Moffett on Unsplash)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Belasan peserta tampak rileks duduk di atas karpet sambil menyimak film ‘Tinggal Meninggal’ yang diputar melalui layar televisi. Menit demi menit, tiap adegan menyoroti ekspresi berbeda wajah peserta yang kadang disertai letupan emosi.

Hal itulah yang terekam dalam dokumentasi acara movie therapy hasil kolaborasi Jiwa Tumbuh, Pause and Play, dan Female Radio pada akhir 2025 lalu di Jakarta.

Melalui cuplikan itu, Novi Andriani, fasilitator sekaligus founder Jiwa Tumbuh, berbagi cerita seputar movie therapy atau terapi menonton film kepada Xinhua.

"Pendekatan cinematherapy yang mendasari kegiatan movie therapy ini sebenarnya sudah berkembang cukup lama di dunia internasional dengan hadirnya beragam komunitas akademik dan pusat kajian sendiri. Sudah banyak pula praktisi kejiwaan yang menggunakan film sebagai medium refleksi maupun pendamping dalam proses terapeutik," ujarnya pada Kamis (16/7).

Menurut Novi, yang mengaku terinspirasi oleh pendekatan tersebut ketika mengikuti pelatihan intensif psikoterapi berbasis aliran Jungian di Jungian Institute Zurich, hal-hal seperti simbol, mitologi, arketipe, mimpi, dongeng, seni, musik, dan film dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pola kehidupan, dinamika emosi, kepribadian seseorang, juga pengalaman kolektif manusia dan budaya yang terbentuk di suatu masyarakat.

"Kebetulan saya juga seorang pencinta film. Ketika mulai menerapkan pendekatan ini pada diri sendiri, saya menyadari bahwa pengalaman menonton bisa menjadi jauh lebih bermakna apabila kita tidak hanya bertanya, 'Apakah film ini bagus?' atau 'Apakah film ini layak dikritik?'" ujarnya.

Novi lantas mencoba bereksperimen dengan memberikan tugas kepada beberapa klien pribadinya untuk menonton film sesuai isu yang sedang mereka hadapi. Menariknya, melalui karakter dan cerita dalam film, mereka justru lebih mudah menemukan bahasa untuk menjelaskan pengalaman emosionalnya sendiri, juga lebih mampu memberi label pada emosi yang dirasakan serta memahami isu yang sedang dihadapi.

Dari pengalaman itulah, dirinya bersama rekan-rekan di Jiwa Tumbuh mulai bereksperimen menghadirkan movie therapy dalam format terapi kelompok, yang sampai saat ini telah digelar hingga enam kali.

"Uniknya, banyak peserta mengatakan bahwa meski sudah pernah menonton film yang sama, pengalaman kali ini terasa sangat berbeda, padahal filmnya tidak berubah. Tentu yang berubah adalah cara mereka mengalaminya, mereka tidak lagi sekadar mengikuti alur cerita, melainkan mulai melihat bagaimana cerita dan karakter dalam film tersebut beresonansi dengan kehidupan mereka sendiri," ujar Novi yang mengaku mengalami titik balik terbesar dalam hidupnya ketika sang ayah berpulang.

Bagi Novi, movie therapy bukanlah untuk mengajarkan orang cara menonton film yang "benar", melainkan mengajak mereka menyadari bahwa mereka tidak pernah menonton sebagai penonton yang benar-benar kosong. Pasalnya, setiap kali menonton film, seseorang selalu membawa sejarah hidup, emosi, harapan, pengalaman, dan cara pandang pribadi ke dalam cerita yang sedang disaksikan. Alhasil, film yang sama dapat memberikan makna yang berbeda ketika ditonton pada fase kehidupan yang berbeda.

Lebih lanjut Novi menerangkan, makna yang muncul sangat dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan tingkat kesadaran seseorang saat itu.

"Itulah sebabnya saya selalu tertarik untuk menonton film yang sama berulang kali. Saya hampir selalu menemukan perspektif baru, bahkan terkadang menemukan pemahaman dan solusi yang sebelumnya tidak pernah saya lihat," jelas Novi yang saat ini berstatus kandidat Ph.D untuk spesialisasi Transpersonal Counseling dari University of Sedona, Arizona.

Ruang refleksi kesadaran

Lantas, dari sisi dinamika psikologis, bagaimana menonton film dapat menjelma menjadi sebuah refleksi? Kepada Xinhua, Novi menerangkan bahwa teknis movie therapy bukanlah sekadar menonton film bareng lalu berdiskusi. Dia menuturkan, proses kurasi judul film yang panjang diharapkan turut menghadirkan pengalaman refleksi yang menyertainya.

"Biasanya kami memulai dengan memilih tema terlebih dahulu, bukan judul film. Misalnya tema tentang kehilangan, relasi, identitas, pola cinta, keluarga, keberanian, perjuangan, perubahan hidup, atau pencarian makna. Setelah tema ditentukan, barulah kami memilih film yang paling relevan. Saya tidak percaya bahwa ada satu film terapeutik yang cocok untuk semua orang," jelas Novi.

Saat film diputar, peserta difasilitasi untuk bisa menikmati pengalaman sinematik secara utuh dan bukan sibuk menganalisis diri sendiri. Tujuannya adalah untuk memberi ruang bagi peserta untuk tertawa, menangis, marah, terharu, atau bahkan tidak menyukai film tersebut.

Novi beranggapan bahwa semua respons adalah valid. Bahkan, ketika peserta bisa mengekspresikan emosinya, itu justru dianggap baik karena menjadi bagian dari proses katarsis.

Hal yang tak kalah krusial dimulai setelah film selesai diputar, yaitu sesi sharing dan journaling. Pertanyaan-pertanyaan yang terkait film tersebut namun bersifat refleksi pun dilontarkan, seperti "Karakter mana yang paling berkesan?", "Karakter mana yang paling sulit dipahami?", serta "Adegan mana yang paling membuat terganggu?"

"Sering kali peserta menyadari bahwa reaksi mereka terhadap suatu karakter atau adegan tertentu ternyata berkaitan dengan pengalaman hidup, nilai-nilai, maupun pola relasi yang mereka miliki. Di sini, peserta tidak hanya belajar dari film itu, tetapi juga dari perspektif satu sama lain," jelas Novi.

Menurut ibu dua anak yang banyak terinspirasi dari film "Doctor Strange" tersebut, perbedaan cara memaknai cerita dan karakter itulah yang akan memunculkan kesadaran baru, bahkan terkadang solusi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

"Meski demikian, saya juga selalu menekankan bahwa tidak ada interpretasi yang paling benar. Peserta juga tidak diwajibkan untuk membuka pengalaman pribadinya. Kami sangat menjaga rasa aman dalam setiap kelompok terapi," tegas Novi, yang sebelum terjun sebagai fasilitator dan konselor telah lebih dahulu malang melintang dalam dunia marketing.

Bagi Novi, tujuan movie therapy ini bukan untuk memberitahu seseorang siapa dirinya, melainkan menciptakan ruang yang cukup aman agar kesadaran dapat tumbuh. Harapannya, seseorang dapat berkembang dan memperoleh perspektif baru terhadap dirinya maupun masalah yang sedang dihadapi ketika membicarakan suatu karakter dalam sebuah film.

"Melalui karakter di film, seseorang bisa belajar membicarakan diri sendiri tanpa merasa sedang dihakimi. Saya rasa budaya kita masih belum sepenuhnya terbuka terhadap isu kesehatan mental. Masih ada stigma yang cukup kuat, dan itulah yang ingin dibantu berubah melalui pendekatan movie therapy," jelas Novi, mengacu pada masih banyaknya orang yang sulit mengakui tengah menghadapi isu kesehatan mental karena takut akan dinilai lemah.

Hal tersebut selaras dengan pengalaman yang dirasakan Nurul (34), salah satu peserta movie therapy. Aktivitas menonton film yang sifatnya menyenangkan langsung memantik dirinya untuk turut serta dan menjajal acara tersebut. Harapannya, movie therapy secara psikologis dapat membantu mengenali dirinya dengan nyaman.

"Pada dasarnya saya memang sangat suka menonton film, sehingga langsung tertarik di awal karena hal ini baru sekali dan jarang didengar. Karya film sendiri saya rasa jadi semacam cara komunikasi yang lengkap karena ada visual dan dialog, cocok untuk orang-orang yang kesulitan mendeskripsikan perasaannya," ujar Nurul yang sehari-hari berprofesi sebagai tax consultant ketika dihubungi oleh Xinhua.

Ketika ditanya apa output yang ingin dicapai dari movie therapy tersebut, Novi memaparkan jawaban yang menarik. Dirinya justru tidak berharap semua peserta pulang dengan kesimpulan yang sama. "Saya malah akan merasa curiga apabila satu film menghasilkan interpretasi psikologis yang seragam bagi semua orang. Tujuan yang ingin saya fasilitasi adalah tumbuhnya kesadaran reflektif," ujarnya.

Pasalnya, menurut alumnus dari Program Magister Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tersebut, interpretasi seseorang terhadap tiap karakter dapat berbeda-beda tergantung pengalaman pribadi tiap individu dalam kehidupannya.

"Mungkin ada seseorang yang menyadari bahwa selama ini dia selalu bersimpati pada karakter yang berperan sebagai pahlawan atau penyelamat orang lain. Ada juga yang menyadari bahwa karakter yang paling dia benci justru memiliki kualitas yang selama ini tidak dia izinkan hidup dalam dirinya, misalnya sikap tegas, keberanian untuk berkata tidak, keberanian tampil apa adanya, atau kemampuan untuk memilih dirinya sendiri," ujarnya.

Sebaliknya, menurutnya, kemungkinan ada pula peserta yang pulang hanya membawa satu pertanyaan, seperti "Kenapa adegan ini membuat saya sangat terganggu?" atau "Mengapa adegan ini begitu memengaruhi saya?"

Bagi Novi, hal itu disebut sudah sangat bernilai mengingat transformasi tidak selalu dimulai dari jawaban. Menurutnya, terkadang transformasi dimulai ketika sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat akhirnya menjadi terlihat, dan sesuatu yang sebelumnya tidak disadari akhirnya menjadi disadari.

Literasi emosional

Dalam konteks yang lebih luas, Novi juga berharap acara sejenis movie therapy dapat membantu mengembangkan literasi emosional.

"Saat ini kita hidup di era ketika orang semakin akrab dengan berbagai istilah psikologi seperti trauma, boundaries, attachment, red flag, narcissistic personality disorder (NPD), inner child, dan sebagainya. Namun, mengetahui istilah-istilah tersebut tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami pengalaman emosionalnya sendiri ataupun menyadari pola-pola keterikatan yang terbentuk dalam hidupnya," ungkapnya.

Novi dan Jiwa Tumbuh, yang bersama Pause and Play dan Female Radio kembali berniat menggelar movie therapy ketujuh pada September mendatang, membayangkan jika aktivitas tersebut dapat terus berkembang menjadi ruang kolaboratif di masa depan. Harapannya, tak hanya berhenti pada praktisi kesehatan mental, tetapi juga partisipasi dari para pembuat film, sineas, bioskop, komunitas, institusi pendidikan, organisasi, hingga brand yang menaruh perhatian terhadap isu tersebut.

Diakuinya, saat ini pihaknya pun terus mengembangkan proses kurasi agar film yang diputar nantinya bisa sangat beragam, guna menghindari anggapan bahwa movie therapy hanya berkutat pada film bertemakan kesehatan mental.

"Mungkin kita tidak kekurangan informasi tentang kesehatan mental. Kita justru kekurangan ruang untuk membangun kesadaran, mengintegrasikan apa yang sudah kita ketahui, lalu menjadikannya sebagai langkah menuju transformasi dan kehidupan yang lebih baik. Di situlah saya melihat movie therapy memiliki relevansi dan dapat memberikan kontribusi yang bermakna," tutupnya.

Selesai

Penulis: Prabowo Destyan

Bagikan

Komentar

Berita Terkait