Feature – Dari tangan manusia ke robot AI, begini masa depan pertanian kapas di Uighur Xinjiang

Foto ini memperlihatkan sebuah ladang kapas di wilayah Awat, Aksu, Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, pada 24 Oktober 2024. (Xinhua/Gao Han)

Urumqi, Daerah Otonom Uighur Xinjiang (Xinhua/Indonesia Window) – Alat itu memiliki 108 lengan mekanis, bergerak di ladang kapas layaknya tank yang berjalan lambat, dan mampu melakukan lebih dari 300.000 kali pemotongan per jam.

Alat tersebut bukanlah senjata baru dalam film pahlawan super, melainkan robot sungguhan yang dibuat untuk melakukan salah satu pekerjaan pertanian paling melelahkan, yakni memangkas pucuk tanaman kapas.

Mesin nirawak yang dikembangkan oleh engineer China itu kini beroperasi di ladang-ladang kapas nan luas di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut, yang merupakan wilayah penghasil kapas terbesar di negara tersebut.

Dengan tinggi 3,8 meter dan berat 8 ton, robot pemangkas pucuk tanaman kapas ini dilengkapi dengan sensor canggih dan sistem penglihatan mesin (machine vision).

Menurut produsennya, Viewer Tech, sebuah perusahaan robotika pertanian yang berbasis di Xinjiang, mesin tersebut mampu menggarap area hingga 2 hektare per jam, dengan efisiensi sekitar 120 kali lipat dibandingkan tenaga kerja manual.

Uji coba menunjukkan bahwa pendekatan robotik ini dapat meningkatkan hasil panen rata-rata hampir 600 kg per hektare, dengan keuntungan bersih lebih dari 3.000 yuan per hektare, kata Liu Hangxing, general manager Viewer Tech.

*1 yuan = 2.643 rupiah

Selama beberapa generasi, pemangkasan pucuk tanaman kapas selalu identik dengan pekerjaan yang sangat berat di tengah teriknya matahari musim panas. Para petani harus berjalan dari baris ke baris, memangkas bagian pucuk setiap tanaman kapas dengan tangan untuk mengontrol tinggi tanaman dan menekan pertumbuhan cabang yang tidak produktif.

Pekerjaan tersebut menuntut penilaian yang cermat: tanaman yang lebih lemah membutuhkan pemangkasan lebih sedikit, sementara tanaman yang lebih kuat membutuhkan pemangkasan lebih banyak.

Pemangkasan manual, yang sebelum ini merupakan satu-satunya pilihan, sering kali membuahkan hasil yang tidak merata karena perbedaan keterampilan dan kecepatan pemetiknya, sehingga secara langsung memengaruhi hasil panen.

Robot baru itu, yang kini merupakan generasi keempat, menggunakan kamera penglihatan binokular dan algoritma kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memindai setiap tanaman, menentukan titik pemangkasan dalam hitungan milidetik, dan mengarahkan 108 lengan mekanisnya untuk melakukan pemotongan. Mulai dari identifikasi hingga tindakan, seluruh proses tersebut mampu meniru teknik tangan yang dilakukan oleh petani kapas berpengalaman.

"Dengan robot ini, kami dapat mencapai mekanisasi dan kecerdasan penuh di seluruh siklus pertumbuhan kapas," papar Zhou Shuai, general manager Xinmiao Agricultural Technology, sebuah perusahaan yang berbasis di Shihezi, salah satu wilayah penghasil kapas utama di Xinjiang utara. Didirikan oleh sekelompok wirausahawan kelahiran tahun 1990-an, perusahaan itu mengelola sekitar 133 hektare ladang kapas.

Zhou mengatakan bahwa dia terkesan dengan efisiensi robot itu, seraya menyebut bahwa output harian robot itu menyamai output harian 50 hingga 60 pekerja.

Dia menambahkan bahwa tingkat keberhasilan pemangkasan pucuk telah melampaui 90 persen.

Sebelum menggunakan robot tersebut, perusahaan Zhou mengotomatiskan irigasi, pemupukan, penyemprotan, dan penyiangan dengan memanfaatkan teknologi pemosisian satelit BeiDou dan AI yang dikembangkan di dalam negeri. Seluruh operasi di ladang kini hanya dikelola oleh lima orang.

Sektor kapas Xinjiang sudah termasuk yang paling termekanisasi di dunia, dengan tingkat mekanisasi keseluruhan untuk budi daya dan panen melampaui 97 persen.

Robot pemangkas pucuk tanaman kapas hanyalah salah satu contoh dari upaya yang lebih luas menuju otomatisasi pertanian di seluruh Xinjiang. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan, universitas, dan institut penelitian telah meningkatkan upaya inovasi serta penelitian dan pengembangan (litbang) di bidang mesin kapas, dengan berfokus pada presisi, efisiensi, dan kecerdasan.

Tahun lalu, upaya kolaboratif antara Universitas Xinjiang dan EAVISION, sebuah perusahaan teknologi robotika yang berbasis di Xinjiang, berhasil mengembangkan robot pemangkas pucuk tanaman kapas berbasis laser.

"Teknologi robotika semakin matang," ujar Pei Xinmin, seorang peneliti di pusat pengembangan mekanisasi pertanian dan pedesaan Xinjiang.

"Teknologi robotika bukan hanya soal kapas. Teknologi ini menyediakan model yang dapat direplikasi untuk pertanian cerdas pada tanaman lain, sehingga mempercepat transformasi digital sektor pertanian di seluruh Xinjiang," tambah Pei. 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait