
Mikroplastik kotori ‘atap dunia’, ilmuwan telusuri dinamikanya

Foto yang diabadikan dengan 'drone' pada 15 Januari 2025 ini menunjukkan pemandangan Pegunungan Qilian yang diselimuti salju di wilayah Tianzhu, Kota Wuwei, Provinsi Gansu, China barat laut. (Xinhua/Lang Bingbing)
Mikroplastik dengan tingkat kebulatan rendah lebih mungkin melakukan transportasi jarak jauh, sedangkan partikel dengan tingkat kebulatan tinggi cenderung mengalami deposisi lokal.
Lanzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi baru yang dilakukan oleh tim peneliti China telah membantu masyarakat untuk memahami lebih baik bagaimana mikroplastik "bergerak" di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, serta mendukung upaya pencegahan dan pengendalian polusi plastik. Demikian menurut Northwest Institute of Eco-Environment and Resources (NIEER) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Melalui pengambilan sampel di lokasi dan analisis kuantitatif, studi tersebut mengeksplorasi dinamika mikroplastik yang tersuspensi di atmosfer serta deposisi basahnya di Pegunungan Qilian di bagian timur laut Dataran Tinggi Qinghai-Tibet, menurut institut itu.
Dikenal juga sebagai ‘Menara Air Asia’, Dataran Tinggi Qinghai-Tibet telah dianggap sebagai wilayah terpencil yang minim terpapar polutan antropogenik secara langsung, berkat letaknya yang tinggi, iklim yang dingin, serta minimnya aktivitas manusia. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa polutan baru, seperti mikroplastik, dapat mencapai wilayah dataran tinggi ini melalui transportasi atmosfer jarak jauh.
Dibandingkan dengan memahami dinamika mikroplastik di daerah padat penduduk, lebih penting untuk memahami dengan lebih baik pola distribusi, proses deposisi, dan mekanisme pendorong mikroplastik atmosfer di wilayah dataran tinggi, menurut Zhang Yulan, seorang peneliti di NIEER.
Tim studi NIEER melakukan pengambilan sampel atmosfer secara sistematis di Pegunungan Qilian.
Tim peneliti menganalisis mikroplastik yang tersuspensi di atmosfer serta dinamika deposisi basahnya, secara akurat menghitung ukurannya, jenis polimernya, serta berbagai parameter morfologis dari partikel mikroplastik individual.
Secara umum, kelimpahan mikroplastik di daerah studi itu lebih rendah ketimbang di daerah padat penduduk. Mikroplastik yang tersuspensi di atmosfer dan mikroplastik deposisi basah didominasi oleh fragmen, dengan persentase lebih dari 70 persen, menurut hasil studi tersebut.
Studi ini menunjukkan bahwa mikroplastik yang tersuspensi di wilayah-wilayah tersebut memiliki rentang ukuran yang lebih luas dan tingkat fragmentasi yang lebih tinggi, mengindikasikan bahwa partikel itu telah melalui proses transportasi atmosfer dan proses penuaan yang lebih lama.
Tim peneliti tersebut memperkenalkan "kebulatan" sebagai variabel berkelanjutan untuk mengukur potensi transportasi mikroplastik di atmosfer dengan berbagai bentuk. Analisis menunjukkan bahwa mikroplastik dengan tingkat kebulatan rendah lebih mungkin melakukan transportasi jarak jauh, sedangkan partikel dengan tingkat kebulatan tinggi cenderung mengalami deposisi lokal.
"Studi baru kami memberikan bukti ilmiah penting untuk mengungkap transportasi dan deposisi mikroplastik di atmosfer di daerah-daerah dataran tinggi," ujar Zhang.
Temuan baru ini memberikan dukungan ilmiah yang penting untuk meningkatkan model siklus mikroplastik atmosfer global, mengevaluasi secara lebih cermat risiko ekologis di wilayah kriosfer terpencil, serta mendukung penyusunan kebijakan pencegahan polusi plastik, menurut Zhang.
Hasil studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Journal of Environmental Sciences.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

17 spesies baru ditemukan di situs warisan dunia China
Indonesia
•
19 Jul 2023

NASA tetapkan uji terbang berawak Starliner milik Boeing sebagai kecelakaan level tertinggi
Indonesia
•
21 Feb 2026

SpaceX luncurkan misi penerbangan bersama baru
Indonesia
•
29 Nov 2025

Teleskop Hubble NASA abadikan galaksi-galaksi superterang yang saling berinteraksi
Indonesia
•
04 May 2023


Berita Terbaru

AS luncurkan penerbangan lintas bulan berawak pertama dalam lebih dari 50 tahun
Indonesia
•
03 Apr 2026

Feature – Tambang hijau China olah limbah material pengotor batu bara
Indonesia
•
02 Apr 2026

Jepang temukan bahan kimia industri beracun lampaui ambang batas di 629 lokasi pemantauan air
Indonesia
•
30 Mar 2026

Jepang kembali batalkan uji terbang perdana kendaraan eksperimental roket ‘reusable’ akibat malafungsi
Indonesia
•
30 Mar 2026
