
Feature – Bukan Jepang, ‘matcha’ favorit kafe-kafe Indonesia ternyata berasal dari pegunungan China ini

Foto yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 16 April 2025 ini menunjukkan para petani teh memasang jaring peneduh pada tanaman teh yang digunakan sebagai bahan baku produksi 'matcha' di Kebun Teh Jiulongshan, wilayah Jiangkou, Kota Tongren, Provinsi Guizhou, China barat daya. (Xinhua/Ou Dongqu)
Guiyang, China (Xinhua/Indonesia Window) – Di Indonesia, ada semakin banyak kafe dan gerai minuman teh yang menambahkan matcha ke dalam menu mereka. Di balik tren yang kian berkembang ini, terdapat perkebunan teh berkualitas tinggi yang terletak di China barat daya.
"Konsumen Indonesia menyukai tekstur matcha yang lembut, aroma yang segar, serta warna hijaunya yang cerah," ujar Rusdi Zhang, pemasok bahan baku makanan dan minuman asal Indonesia. "Banyak pemilik kafe juga menyebutkan bahwa matcha ini memberikan hasil yang konsisten, baik saat disajikan sebagai minuman panas maupun dingin."
Perusahaan Zhang memasok bahan baku ke kafe-kafe, jaringan gerai minuman teh susu, restoran, serta produsen minuman di seluruh Indonesia. Terkait perubahan pasar, dia menjelaskan bahwa seiring pesatnya pertumbuhan industri minuman di Tanah Air, semakin banyak konsumen muda peduli akan kesehatan, sehingga mendorong peningkatan signifikan terhadap permintaan akan transparansi bahan baku.
"Saat ini, konsumen lebih menyukai bahan-bahan alami. Bubuk matcha murni membantu kami membangun kepercayaan yang lebih kuat dengan para pelanggan karena mereka dapat menikmati cita rasa dan kualitas matcha yang autentik," ujarnya.
Menariknya, matcha yang berasal dari Provinsi Guizhou di China barat daya ini telah memperoleh sertifikasi halal sehingga memenuhi kebutuhan konsumsi mayoritas masyarakat Indonesia sekaligus memberikan rasa aman, baik bagi kafe maupun konsumen akhir.
Distributor Indonesia tersebut pertama kali bertemu dengan Gui Tea Group, salah satu produsen matcha terkemuka di China yang berbasis di Guizhou, dalam sebuah pameran pada 2024. Sejak saat itu, kedua pihak terus menjalin komunikasi dan pertukaran.
Guizhou memiliki perkebunan teh dataran tinggi dengan garis lintang rendah dan kondisi berkabut yang sering terjadi. Kondisi ini membantu menghasilkan matcha dengan warna hijau yang cerah serta cita rasa yang segar dan pekat.
Gui Tea Group membangun lini produksi matcha modern yang terintegrasi, mulai dari budi daya dengan teknik naungan (shaded cultivation), pengukusan untuk menghentikan oksidasi (steam fixation), hingga penggilingan cerdas di wilayah Jiangkou yang terletak di kaki Gunung Fanjingshan, yang merupakan Situs Warisan Alam Dunia UNESCO.
Setiap batch matcha di sana harus melewati lebih dari 500 pengujian residu pestisida guna memastikan kandungan residu dan logam berat berada di bawah batas yang ditetapkan. Selain itu, produk tersebut juga telah memperoleh sertifikasi halal.
Kualitas yang stabil dan tinggi telah mendorong pertumbuhan pasar yang pesat. Gui Tea Group mengekspor kurang dari 10 ton matcha ke Indonesia pada 2024, dan jumlah tersebut melonjak menjadi lebih dari 60 ton pada 2025, atau meningkat lebih dari lima kali lipat.
Selain memasok bahan baku, mitra asal China tersebut juga menyesuaikan diri dengan preferensi rasa konsumen Indonesia melalui bantuan penyesuaian resep dan pelatihan aplikasi produk. Langkah itu membantu mengurangi hambatan penelitian dan pengembangan bagi pelaku usaha minuman lokal, sehingga mereka dapat meluncurkan produk baru dengan lebih cepat.
Zhang menyatakan bahwa selain menyediakan matcha murni, perusahaannya juga dapat mengembangkan resep minuman dan makanan berbahan dasar matcha untuk pelanggan, menyediakan sampel, serta membantu mencampurkan berbagai tingkat kualitas matcha agar sesuai dengan selera lokal.
"Matcha bukan lagi produk khusus untuk segmen tertentu. Matcha kini telah menjadi bagian dari tren utama minuman di Indonesia," sebut Zhang.
Ke depannya, mitra asal Indonesia tersebut memproyeksikan bahwa penggunaan matcha akan meluas dari produk minuman ke produk roti, hidangan penutup, es krim, hingga produk minuman siap saji (ready-to-drink).
"Seiring meningkatnya pemahaman konsumen tentang kualitas matcha, permintaan akan matcha premium dan berkualitas tinggi kemungkinan akan semakin kuat di Indonesia," tambah Zhang.
Di Provinsi Guizhou telah terbentuk rantai industri terintegrasi yang menghubungkan Gui Tea Group, petani lokal, dan perusahaan mitra. Para petani fokus pada budi daya teh, perusahaan mitra menangani pengolahan awal, sementara Gui Tea Group bertanggung jawab atas proses produksi lanjutan. Model ini memastikan para petani menerapkan standar budi daya yang seragam, sehingga kualitas matcha tetap konsisten dan dapat ditelusuri sepenuhnya.
Dari perkebunan teh pegunungan di Guizhou, China, hingga menjadi secangkir minuman di berbagai kafe di Indonesia, sentuhan hijau asal China ini menghadirkan pengalaman rasa baru sekaligus pilihan yang lebih sehat bagi konsumen Indonesia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Telaah - Pelaku industri tekstil dan pakaian jadi peringatkan soal peningkatan tarif AS
Indonesia
•
27 Jan 2025

Produksi baja China merosot pada 2021
Indonesia
•
11 Jan 2022

Eurostat: Inflasi zona euro pada Agustus 2024 turun ke level terendah dalam tiga tahun
Indonesia
•
31 Aug 2024

Wawancara – Ekonom Mesir sebut krisis plafon utang AS ancam stabilitas dunia
Indonesia
•
14 Jun 2023


Berita Terbaru

Feature – Rumah tipe 70 bisa berdiri dalam hitungan jam dan siap huni, harga cuma 160 jutaan rupiah
Indonesia
•
31 May 2026

Seluruh listrik di Xizang berasal dari energi bersih, terbesar di China
Indonesia
•
30 May 2026

Analisis – Langkah proteksionis UE hanya akan jadi bumerang
Indonesia
•
29 May 2026

Kemnaker dan Huawei Indonesia sepakat tingkatkan kompetensi digital di Tanah Air
Indonesia
•
28 May 2026
