
Ekspor buah Indonesia ke China capai 5,94 triliun rupiah, durian dan manggis mendominasi

Seorang pekerja memetik buah salak saat panen di kawasan pertanian salak di Desa Wonokerto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 7 Juli 2025. (Xinhua/Agung Supriyanto)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) memperkuat fasilitasi ekspor buah tropis Indonesia ke China, seiring besarnya peluang pasar di negara tersebut.
Data sertifikasi Barantin periode 2025 hingga 2026 yang masih berjalan mencatat, nilai ekspor durian, manggis, salak, nanas, dan pisang ke China diperkirakan mencapai 5,94 triliun rupiah.
Durian menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor mencapai 3,16 triliun rupiah, disusul manggis 2,63 triliun rupiah, salak 77,22 miliar rupiah, nanas 32,77 miliar rupiah, dan pisang 32,59 miliar rupiah.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Tumbuhan Barantin Dian Seri Rezeki Kusumastuti menyampaikan bahwa besarnya produksi buah tropis Indonesia belum cukup untuk menjamin keberhasilan ekspor. Karena itu, pembukaan akses pasar perlu diikuti kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi berbagai persyaratan negara tujuan.
"Keberhasilan membuka pasar harus diikuti dengan kesiapan pelaku usaha, kemampuan melacak asal-usul produk atau ketertelusuran, serta konsistensi menjaga kualitas dan kesehatan produk," kata Dian dalam keterangannya, dikutip pada Senin (26/10).
Dian menjelaskan, pemenuhan persyaratan fitosanitari menjadi bagian penting dalam perdagangan buah. Pasalnya, negara tujuan dapat menetapkan ketentuan terkait organisme pengganggu tumbuhan, perlakuan karantina, pengemasan, ketertelusuran, hingga sertifikasi.
Karena itu, dia mendorong pelaku usaha berkonsultasi sejak awal sebelum melakukan ekspor agar persyaratan negara tujuan dapat dipersiapkan sejak dari kebun hingga proses pengiriman.
Sebagai otoritas perlindungan tumbuhan nasional, Barantin melakukan komunikasi dan diplomasi teknis dengan otoritas karantina negara mitra.
Barantin menyebut, proses tersebut diperlukan guna menyepakati persyaratan teknis, membuka akses pasar baru, sekaligus menjaga kelancaran ekspor komoditas pertanian Indonesia.
Di tingkat pelaku usaha, Barantin memberikan layanan pemeriksaan, sertifikasi, serta pendampingan agar komoditas yang akan dikirim memenuhi persyaratan negara tujuan. Lembaga tersebut juga memberikan pendampingan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah.
Tidak hanya itu, Barantin mengikuti pameran perdagangan internasional dan menggelar forum bisnis yang mempertemukan pengekspor, otoritas karantina, serta calon pembeli dari luar negeri.
Menurut Dian, penguatan ekspor buah tropis membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, asosiasi, dan pengekspor.
"Dengan produk yang berkualitas, sistem karantina yang kredibel, serta diplomasi yang kuat dengan negara mitra, kami sangat optimistis buah tropis segar Indonesia akan menjangkau pasar dunia yang lebih luas," pungkasnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Feature – Robot humanoid China mampu pahami perintah dan bekerja mandiri, ini kemampuannya
Indonesia
•
21 Jul 2026

China bukan kreditur terbesar negara-negara Afrika
Indonesia
•
05 Mar 2023

RCEP akan bantu tingkatkan partisipasi Vietnam dalam rantai pasokan
Indonesia
•
12 Nov 2022

Utang luar negeri Indonesia triwulan IV-2021 capai 415,1 miliar dolar AS
Indonesia
•
15 Feb 2022


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
