Ekspor salak Indonesia ke China naik 208 persen, durian melesat 600 persen

Seorang pekerja memetik buah salak saat panen di kawasan pertanian salak di Desa Wonokerto, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 7 Juli 2025. (Xinhua/Agung Supriyanto)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – China masih menjadi destinasi utama ekspor sejumlah buah tropis asal Indonesia, dengan pengiriman buah salak dan durian mencatatkan kenaikan signifikan sepanjang paruh pertama (H1) tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia (RI) mencatatkan volume ekspor buah salak ke China sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 2.191 ton, meningkat 208 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kenaikan volume ekspor yang signifikan ini terutama didorong oleh peningkatan pengiriman salak asal Bali, dari yang semula hanya 1,7 ton pada paruh pertama tahun lalu menjadi 300 ton pada paruh pertama tahun ini.

Pada Kamis (6/8), Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri kembali meresmikan ekspor 3,5 ton salak asal Bali senilai 13.000 dolar AS ke China. Pengiriman salak ini merupakan tindak lanjut dari komitmen bisnis ekspor salak senilai 2 juta dolar AS selama setahun yang tercapai dalam misi dagang Indonesia ke Shanghai pada Mei 2026 lalu.

*1 dolar AS = 17.919 rupiah

Ekspor durian ke China juga terus meningkat. Volume pengiriman durian segar, tidak termasuk durian beku, ke China pada paruh pertama tahun ini mencapai 189 ton, meningkat 600 persen dibandingkan tahun lalu.

Selain dua buah tersebut, China juga masih menjadi destinasi utama untuk buah manggis Indonesia meskipun volume pengirimannya telah menurun signifikan. Sepanjang paruh pertama tahun ini, Indonesia telah mengekspor sebanyak 13.621 ton manggis ke China, menurun 45 persen dari tahun lalu.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait