Feature – Robot humanoid China mampu pahami perintah dan bekerja mandiri, ini kemampuannya

Sebuah robot memperagakan kemampuan pengoperasian presisi dalam ajang Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (World AI Conference/WAIC) 2026 di Shanghai, China timur, pada 19 Juli 2026. (Xinhua/Huang Xiaoyong)

Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Baterai ditumpuk, lampu depan dipasang, dan kabel dirangkai dalam sebuah demonstrasi lini perakitan pada Konferensi Kecerdasan Buatan Dunia (World AI Conference/WAIC) 2026 di Shanghai, yang berfungsi menunjukkan bagaimana kecerdasan robotik mentransformasi otomatisasi mekanis.

Dalam replika lini pabrik yang ditampilkan di aula pameran oleh Shanghai TARS Robotics Co., Ltd. ini, robot tidak lagi tampil sekadar sebagai alat, melainkan sebagai ‘rekan kerja’ yang mampu mendeteksi lingkungan sekitarnya dan beradaptasi dengan perubahan secara mandiri.

Inovasi tersebut mencerminkan transisi yang lebih mendalam, ketika kecerdasan berwujud (embodied intelligence) mulai beralih dari laboratorium penelitian menuju penerapan secara luas di sektor industri.

Tren ini tercermin dalam data resmi terbaru. Menurut Administrasi Perpajakan Negara (State Taxation Administration/STA) China, pendapatan di sektor kecerdasan berwujud tumbuh 22,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari Januari hingga Mei 2026, setelah mencatat kenaikan 13,9 persen untuk keseluruhan tahun 2025. Pembelian robot berbasis kecerdasan berwujud oleh industri meningkat lebih dari tiga kali lipat dalam periode yang sama.

Shanghai menetapkan target untuk mengoperasikan 100.000 robot humanoid di pabrik-pabrik pada akhir periode Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), dengan tingkat penggunaan agen AI di kalangan perusahaan industri berskala besar diperkirakan melampaui 80 persen.

Di tingkat nasional, kecerdasan berwujud kini diposisikan sebagai pilar strategis bagi industri masa depan. Usulan Rencana Lima Tahun ke-15 pada 2025 untuk pertama kalinya memasukkan kecerdasan berwujud ke dalam peta jalan industri jangka menengah dan panjang negara itu, yang diikuti oleh garis besar untuk 2026 yang menetapkannya sebagai pendorong baru pertumbuhan.

Laporan kerja pemerintah selama dua tahun berturut-turut juga mengamanatkan langkah-langkah konkret untuk pengembangannya.

Menurut sebuah dokumen yang dirilis oleh Dewan Negara China, tingkat pengadopsian terminal cerdas generasi berikutnya dan agen AI ditargetkan melampaui 70 persen pada 2027 dan tembus 90 persen pada 2030, sehingga menjadikan ekonomi yang didorong oleh AI sebagai kontributor utama bagi pertumbuhan nasional.

Seiring penerapan di sektor industri semakin cepat, berbagai perusahaan juga menjajaki bagaimana kecerdasan berwujud dapat dimanfaatkan untuk melayani rumah tangga dan konsumen.

Dalam WAIC 2026, produsen robot yang berbasis di Shanghai, Fourier, memperkenalkan sebuah ruang hunian imersif bertajuk ‘Sehari Bersama Robot Butler’ (A Day with the Robot Butler).

Stan tersebut ditata menyerupai ruang keluarga, lengkap dengan meja makan, sofa, dan meja kopi. Sebuah robot humanoid bergerak dengan langkah mantap, mengambil sebotol air, lalu menyerahkannya kepada seorang pengunjung yang berdiri di hadapannya. Seluruh interaksi berlangsung secara mandiri, tanpa kendali jarak jauh maupun penggunaan tombol.

Robot yang dipamerkan, GR-3 buatan Fourier, ditenagai oleh pusat eksekusi tugas semantik yang mengintegrasikan model bahasa besar (large language model/LLM), pemetaan ruang tiga dimensi (3D), perencanaan navigasi, dan eksekusi kontrol ke dalam satu alur kerja terpadu.

Robot tersebut mampu menghafal tata letak ruangan, mengidentifikasi lokasi objek, memahami area fungsional, dan bertindak berdasarkan perintah bahasa alami.

Ketika seorang pengguna berkata, "Saya haus," GR-3 akan menginterpretasikan maksud tersebut, menemukan lokasi ruang makan dan minuman dengan memanfaatkan peta semantik spasial yang dimilikinya, lalu secara otonom menentukan rute paling efisien untuk mengambil dan mengantarkan minuman. Proses tersebut menjembatani antara kognisi AI dan tindakan fisik, tanpa memerlukan instruksi langkah demi langkah yang eksplisit.

Sistem itu beroperasi menggunakan platform kendali terpusat FOCUS milik Fourier, yang mengoordinasikan perencanaan jalur dan alokasi tugas secara waktu nyata (real-time).

Ketika dua robot saling berpapasan, sistem menetapkan prioritas berdasarkan tingkat urgensi misi, sehingga memungkinkan penghindaran tabrakan secara dinamis dan koordinasi yang lancar.

Kecerdasan berwujud juga mulai menjangkau konsumen di luar lingkungan rumah. Di dalam sebuah pusat perbelanjaan di Jalan Nanjing Barat (West Nanjing Road), Distrik Jing'an, Shanghai, sebuah ring tinju didirikan di lorong di luar experience store Unitree Robotics, menarik kerumunan orang untuk menyaksikan dua robot humanoid yang menggunakan helm merah muda dan merah bertarung. Banyak penonton mengeluarkan ponsel mereka untuk mengabadikan aksi menarik tersebut.

Dibuka pada 31 Mei lalu, toko ini merupakan yang pertama dari jenisnya di Asia. Toko tersebut terletak di pojok lantai dua Jiuguang Department Store, terselip di antara butik-butik pakaian wanita, namun tetap mencolok.

Meski berukuran kecil, toko itu ramai dikunjungi dari pagi hingga malam, dengan banyak pengunjung datang dari luar negeri. Keluarga, terutama anak-anak, juga berdatangan untuk menyaksikan anjing robot memanjat lereng, melompat, dan berputar, sementara robot humanoid meniru gestur dan melakukan gerakan yang luwes.

Toko seluas 100 meter persegi tersebut menampilkan produk-produk konsumen terbaru Unitree, termasuk robot humanoid G1 dan R1 serta robot anjing Go2. Lebih dari sekadar gerai ritel, tempat tersebut memberikan gambaran nyata kepada pengunjung tentang masa depan ketika kecerdasan berwujud menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Salah satu pengunjung adalah Alex Butler, general manager Shanghai Spotlight, sebuah perusahaan media lokal. "Saya rasa gerakan tarian robot humanoid itu benar-benar keren," ujarnya. "Sangat mirip manusia dan jelas merupakan tonggak penting yang sangat mengesankan bagi masa depan robot humanoid."

Terlepas dari semua aksi tersebut, para pakar industri mengingatkan bahwa nilai ekonomi sesungguhnya terletak pada bidang lain.

Zhou Aimin, dekan Institut Kecerdasan Buatan (AI) untuk Pendidikan Shanghai di East China Normal University, mengatakan bahwa sebagian besar robot humanoid masih terbatas pada pameran penelitian dan pertunjukan di taman hiburan.

Menurutnya, nilai utamanya akan muncul dalam sektor produksi industri dan layanan perawatan warga lanjut usia (lansia), meski kedua bidang itu masih memerlukan penyempurnaan teknologi lebih lanjut.

Namun demikian, dalam jangka panjang, Zhou tetap optimistis. Dia meyakini bahwa kecerdasan berwujud dapat membentuk kembali struktur ketenagakerjaan China dengan mengisi kekurangan tenaga kerja di sektor industri dan meringankan beban perawatan warga lansia seiring dengan penuaan populasi, berpotensi menjadikannya sebagai industri pilar yang melampaui industri otomotif maupun properti.

Meski menawarkan prospek yang menjanjikan, masih terdapat kesenjangan pemahaman antara masyarakat dan pengadopsian AI.

Kekhawatiran mengenai hilangnya pekerjaan dan kekhawatiran terhadap privasi data masih meluas, sementara kalangan lansia dan pekerja di industri tradisional kerap mengalami kesulitan menggunakan alat digital.

Guna menjembatani kesenjangan ini, Chen Jie, seorang peneliti di Universitas Jiao Tong Shanghai, mengusulkan pendekatan dua arah.

Di satu sisi, dia menganjurkan kegiatan sosialisasi AI secara rutin, seperti hari terbuka pabrik dan lokakarya komunitas, guna menunjukkan bagaimana robot dapat mengisi kesenjangan tenaga kerja dan meringankan tekanan perawatan lansia, sehingga membantu meredakan kecemasan terkait pekerjaan.

Di sisi lain, dia menyerukan tata kelola yang lebih kuat, yakni aturan akuntabilitas yang lebih jelas, antarmuka intuitif yang lebih mudah digunakan serta fitur-fitur yang mendukung perintah suara bagi pengguna lansia, dan perlindungan privasi yang lebih ketat.

Tujuan utamanya, ungkapnya, adalah memastikan bahwa AI tidak hanya mampu mendorong kemajuan berbagai industri tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait